Prolog
Gerhana Kembar, Prolog
Jakarta, 1960
BEL berdentang, menandakan saatnya makan siang. Bocah-bocah kecil itu berdiri dan seketika kelas pun pecah menjadi sangat berisik. Kotak-kotak roti dikeluarkan.
Fola berjalan di antara mereka. Sesekali dia berhenti, berjongkok, dan membantu jari-jari mungil itu menggenggam roti isi mentega dan gula pasir atau selai kacang agar isinya tidak berhamburan keluar. Wajah Fola tak lepas dari senyum. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya dengan lucu kepada beberapa muridnya.
Di luar langit yang pada awal pagi terlihat biru cerah kini dipayungi deretan awan berwarna kelabu. Angin bertiup semakin kencang, menghamburkan kelopak bunga-bunga liar berwarna kuning, menerbangkan daun kering, dan meneduhkan ruang kelas. Ada beberapa kilasan petir sejak sepuluh menit yang lalu, menandai gejala kedatangan hujan badai. Matahari belum sepenuhnya hilang di balik awan, tapi Fola yakin, sebentar lagi Jakarta akan gelap gulita pada pukul sepuluh pagi dan hujan pasti akan turun.
Semoga kelas akan berakhir jauh sebelum badai mengamuk. Dan terutama, semoga tidak terjadi banjir lagi seperti beberapa minggu lalu. Dia tidak rela melihat murid-murid kecilnya harus berjuang pulang menembus badai. Fola cemas udara yang buruk akan membuat mereka menjadi mudah sakit. Jumlah murid yang datang hari ini pun berkurang tiga karena demam, mencret, dan panas. Penyakit umum yang mendera anak-anak di bawah lima tahun.
Sekolah ini adalah sekolah sederhana yang berisi murid-murid dari golongan keluarga menengah. Anak-anak dijemput pulang dengan berjalan kaki, sepeda, atau menumpang becak. Jika hujan beserta angin mengamuk, bayangkan penderitaan yang harus mereka tanggung. Kalau bisa, Fola ingin sekali membubarkan kelasnya saat ini juga ketika hujan belum turun. Tapi tentu saja dia tidak bisa melakukan hal itu. Kepala sekolah akan marah dengan sikapnya. Biarpun ini sekolah taman kanak-kanak, disiplin tetap perlu ditegakkan. Cuaca buruk masih dapat dikompromi sampai batas-batas tertentu.
Fola membetulkan dua helai rambutnya yang menutupi leher. Rambutnya yang hitam kini panjang terurai sampai ke bahu. Setiap pagi, Fola mengikatnya kencang-kencang ke belakang, membentuk kepang dua. Jepit rambut menahan rambutnya di sisi kanan dan kiri supaya tidak usah berjatuhan. Dia tidak mempunyai poni. Wajahnya agak sedikit bulat, sehingga akan tampak aneh apabila dahinya dipenuhi rambut.
Tubuh Fola ditutupi blus sederhana berwarna putih dan rok sebetis berwarna merah. Dia mengenakan sepatu pantofel hitam dengan hak rendah, sepatu kesukaannya. Fola adalah perempuan manis yang selalu tampak anggun dengan pakaian yang dikenakannya.
Hari ini hari yang agak biasa-biasa saja. Keributan berada pada angka umum dan masuk akal. Untuk dunia kanak-kanak, bolehlah dikatakan hari ini adalah hari yang damai. Tidak ada anak yang muntah di atas meja atau buang air besar di celana. Tidak ada yang demam mendadak. Tidak ada yang berantem pukul-pukulan. Hanya dua anak mengompol dan seorang anak menangis menjerit-jerit sampai wajahnya biru tak ingin ditinggal oleh ibunya. Ini bukan hari yang buruk. Fola pernah mengalami hari yang lebih kacau.
Murid-murid serentak menoleh ke jendela yang tak berkaca. Angin menyusup masuk melalui lubang-lubang besar itu. Dulu sekolah ini adalah sekolah Belanda. Gedungnya pun masih bergaya kolonial Belanda dengan jendela-jendela besar dan langit-langit yang tinggi. Cocok dengan kondisi iklim Jakarta yang hangat. Kelas mendapat pertukaran udara dengan cepat tanpa perlu bantuan kipas angin. Di luar, deretan pohon-pohon mahoni yang besar-besar memenuhi pekarangan. Terdengar suara gemeresik daun-daun pada siang yang kering. Fola suka berjalan di antara tumpukan daun-daun kuning yang tersebar di atas tanah. Sepatu pantofelnya menginjak daun dan terdengarlah suara garing bagaikan lonceng mungil yang berdenting-denting.
Anak-anak itu mulai merasa kenyang. Terlihat dari tingkah laku mereka yang mulai gaduh. Mulut yang tadi digunakan untuk mengunyah roti kini bebas untuk berceloteh. Mereka menunjuk-nunjuk ke arah luar sambil tertawa-tawa. Sebagian membuka tutup botol dan meminum air putih agar makanan yang sedang mereka kunyah terbilas habis. Fola bersiap-siap. Sebentar lagi bel penanda akhir istirahat akan berdentang.
Langit seakan-akan masih menunggu agar kelas Fola berakhir sebelum hujan badai meledak. Daun-daun di luar kelas terangguk-angguk akibat angin kencang. Ayam peliharaan sekolah berkotek-kotek di dalam kandangnya.
Sewaktu Fola membantu mengancingkan baju hangat seorang anak perempuan, bel berdentang. Akhirnya! Saatnya mengatur barisan agar anak-anak ini dapat kembali ke rumah masing-masing dengan aman. Fola meluruskan tubuhnya sehingga tubuhnya yang kurus dan mungil tampak semakin langsing. Dia melemparkan senyum lebar kepada murid-muridnya.
Asistennya, Rita, bergerak cepat seperti tikus dikejar kucing. Terkadang Fola kagum dan bersyukur dengan kesigapan Rita. Perempuan itu dapat berlari dalam rok dan sepatu bertumit tingginya dengan lancar, tanpa sekali pun terpeleset. Dia pernah berhasil mengambil kantong plastik dalam dua detik saat melihat seorang anak lelaki mengambil aba-aba untuk muntah. Untunglah, kalau tidak, prakarya kertas mereka akan sebagian hancur disemprot muntahan nasi.
Akhirnya mereka berhasil berbaris dengan rapi, dari yang paling pendek sampai yang paling tinggi. Rita memberi aba-aba dengan tangannya kepada Fola dari belakang, bahwa semuanya telah siap berjalan menuju gerbang taman kanak-kanak di mana sudah ada puluhan penjemput menunggu gelisah. Fola berbalik, menggandeng tangan seorang anak perempuan yang berdiri paling depan. Dia berjalan dengan langkah kecil sambil bernyanyi-nyanyi.
Sekali lagi terdengar suara petir menggelegar di langit.
+++
Seperti magnet bertemu dengan besi, satu per satu murid Fola berjalan ke arah penjemputnya masing-masing. Fola melepas mereka dengan mata awas, mengamati apabila ada wajah-wajah asing yang belum pernah dia temui sebelumnya. Seperti dia mengenal setiap anak di kelasnya, dia juga mengenal penjemput dan pengantar mereka.
Baru saja anak terakhir berjalan ke penjemputnya, Fola menyadari ada yang tidak beres. Seseorang masih berdiri sambil memanjang-manjangkan lehernya. Tangannya saling melipat di dada. Dari jauh, terlihat Rita telah berjalan menuju kelas. Dia pasti juga hendak bergegas pulang sebelum hujan lebat mengguyur Jakarta. Fola nyaris tidak peduli pada orang itu ketika terdengar suara sapa.
"Ibu Fiola?"
Barulah Fola menyadari perempuan itu sedang berbicara dengannya.
"Fola," kata Fola membetulkan.
"Oh, maaf!" Suara perempuan itu terdengar terkejut dan malu. "Maaf, saya kira Fiola."
"Tidak apa-apa," cetus Fola. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya Henrietta, tantenya Kristina. Saya mau menjemput Kristina. Mengapa dia tidak ada dalam barisan?"
Fola mengerutkan kening, berpikir. Dia menatap perempuan di depannya. "Kristina Bella?"
Henrietta mengangguk.
"Hari ini dia tidak masuk sekolah. Sakit."
"Apa?" Henrietta menatap Fola dengan pandangan bingung. "Saya... saya tidak tahu dia tidak masuk sekolah. Ibunya tidak memberitahu saya."
Fola merengut. "Jadi, kenapa saya nggak pernah melihat Anda di sini?"
"Henrietta." Perempuan itu mengangkat matanya, menatap Fola. Fola balas menatap Henrietta. Perempuan berambut pendek modis. Matanya besar seperti jendela dunia, memandang Fola dengan tatapannya yang bening. Dia mengenakan kemeja wanita dan rok yang panjangnya selutut. "Jangan ber-Anda-Anda. Panggil saja namaku. Henri, singkatnya."
"Baik," jawab Fola dengan lembut. "Kalau begitu, kenapa saya baru lihat... eh, Henri di sini? Sebelumnya kan biasanya pembantu Kristina, Supiah, yang datang menjemput."
Henrietta tertawa. Giginya yang putih berjejer rapi di dalam mulutnya. Matanya membentuk bulan sabit kecil. "Aku kebetulan sudah seminggu diterima di perusahaan dekat sekolah ini. Jadi mumpung dekat, aku janji dengan kakakku menjemput Kristina pulang sekolah. Aku tidak tahu hari ini dia tidak masuk sekolah. Kakakku tidak memberitahu apa-apa padaku."
"Bekerja di mana?"
Henrietta menyebutkan nama perusahaan yang gedungnya memang hanya berada beberapa ratus meter dari gedung sekolah.
"Oh." Fola mengangguk. Untuk sejenak kesunyian merebak dalam hantaman hujan yang turun deras. Sambaran petir membelah langit. Fola urung menyeberangi pekarangan menuju ruang kelas, dia malah melangkah ke ruang tunggu. Berdiri di sebelah Henrietta sambil berteduh. Memandangi hujan.
Henrietta berpaling ke arah Fola seolah-olah ingin mengatakan sesuatu tapi tak jadi. Dia malah mengulurkan tangan. "Kita belum berjabat tangan tadi. Bukankah kalau berkenalan perlu berjabat tangan? Namaku Henrietta."
Fola bergerak-gerak, tak yakin apa yang didengarnya tepat. Dia belum pernah berada dalam situasi seperti ini. Biasanya yang tertarik mengenal guru lebih dekat dan akrab adalah orangtua murid, khususnya ibu. Dia tidak pernah berhadapan dengan pembantu atau bahkan penjemput mana pun yang berbasa-basi ingin berkenalan dengannya.
Di sampingnya, Henrietta tersenyum lebar. Wajahnya adalah wajah yang mudah tersenyum. Profil mukanya polos tanpa polesan riasan sama sekali. Tatapannya tajam kepada Fola, memberi waktu bagi Fola menyambut uluran tangannya. Menyambut uluran persahabatan dan hubungan lain yang kelak tumbuh di antara mereka.
Fola mendongakkan kepala, balas menatap mata Henrietta. Dalam sedetik, dia bersin. Cuaca buruk selalu membuatnya alergi. Dia mencubit ujung hidungnya dengan jari telunjuk dan jempol, lalu berdeham.
"Namaku Fola," katanya dengan senyum manis. Dua lesung pipit terbenam di kedua pipinya. "Fola Damayanti."
Kemayoran, 2 Februari 1982
F.D.S.
--End of Gerhana Kembar's Prologue