Home
Biography
Books
News & Events
Sekilas Isi
Indiana Lesmana
E-mail
Links
Join Clara Ng's Books in Facebook
Ayo Isi Buku Tamu




Pics:

www.flickr.com



Lengkapi Koleksi Anda:
www.flickr.com
This is a Flickr badge showing photos in a set called SFTHStories From The Heart. Make your own badge here.
Stories From The Heart










Bagi Anda yang berminat mengundang Clara Ng sebagai tamu di sekolah/universitas, untuk acara talkshow/diskusi buku/jumpa pengarang, silakan kirim e-mail ke:
indiana_lesmana@yahoo.com atau fiksi@gramedia.com

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Sunday, March 05, 2006
Sekilas Isi - Tiga Venus

Pada Mulanya...

 

PAGI memperlihatkan lanskap yang paling indah. Kompleks perumahan kelihatan tenang, lengang, dan damai di bumi. Tidak heran, daerah ini adalah daerah yang tidak menjadi sasaran knalpot hitam kendaraan umum. Beberapa baby-sitter mendorong kereta bayi ke arah taman yang terletak di sudut kompleks sambil bergosip panjang-lebar.

Emily sedang sibuk di dapur, mempersiapkan kopinya untuk sarapan. Laptopnya masih menyala, belum sempat dimatikan sejak subuh tadi. Baru saja bibirnya menyesap tegukan pertama kopi, terdengar ponselnya bernyanyi keras. Emily melenguh sejenak, menegakkan tubuhnya terburu-buru ditambah adegan setengah berlari.

"Halo?"

Itu suara Bos. Yang terhormat Bapak Alexander Oliver Prasetya, SH, SE, MM, MBA.

Emily langsung mengenali suara yang menyapa di seberang sana. Bahkan kalau lelaki itu hanya mendengus, dia dapat mendengar gema itu segera, melewati gunung, menyeberangi samudra, dan melompati benua.

Emily melenguh dua kali dengan ekspresi buram. Semakin keras. Bosnya menelepon sepagi ini, pasti ada apa-apanya. Pasti.

"Selamat pagi, Pak Alex."

Diam-diam Emily berputar. Dia menegakkan lagi tubuhnya yang sudah tegak, lalu bergerak mematikan laptop, merapikan tumpukan kertas dan file, memasukkan semuanya ke dalam tas jinjing kantor, dan meneguk kopinya. Itu semua dilakukannya sambil mengepit ponsel di dagu. Akrobat pagi standar. Dia nyaris terjengkang ketika memakai sepatu, tapi untung tangannya sigap memegangi kursi erat-erat.

"Jumi!" panggilnya komat-kamit tanpa suara. Pak Alex masih berbicara tanpa henti di telepon.

Si pembantu tidak mendengar, asyik mengepel.

"Shhh..., Jumi...."

Seekor kecoak terburu-buru lari melintas lantai. Emily merengut. Dia selalu jijik terhadap kecoak. Seperti macan hendak menerkam marmut, dia mengendap-endap, lalu.... wuusss... sepatu high heels-nya melayang di udara dan mendarat telak di atas punggung kecoak. BLETAAK! Tembakan pas! Remuk sudah kecoak itu.

Suara di seberang telepon terhenti mendadak. "Eh? Halo, Emily?"

Emily mengepit ponselnya di antara dagu dan bahu. Punggungnya diluruskan tinggi-tinggi. Gerakan seperti itu membuatnya bagaikan jerapah yang baru saja selesai minum di sungai.

"Ya, Pak Alex?"

"Suara apa tadi?"

Gerombolan Si Berat datang, Pak. "Cuma kecoak kok."

"Kecoak?"

"Begitulah."

"Kecoak, Em?"

Kuman. Kutu air. Antelop. Virus. "Ya, Pak! Ke. Co. Ak. Saya barusan bunuh kecoak," jawab Emily, terdengar manis, tapi tetap profesional.

"Memangnya kamu lagi ada di mana?"

Di konstelasi bintang-bintang Auriga. "Saya masih di rumah. Sebentar lagi berangkat ke kantor."

Dalam hati Emily mengagumi pendengaran bosnya. Pak Alex memang hebat. Empat acungan jempol! Tahu saja kalau perhatiannya tidak terarah kepada Yang Mulia. Tahu saja kalau beliau sedang disepelekan. Tangan Emily menjawil punggung Jumi.

Dicolek seperti itu membuat pembantunya terlonjak kaget. "Non!" serunya.

"Shhh!"

Tangan Emily menunjuk bangkai kecoa yang bentuknya seperti bintang segi tujuh setengah di lantai, sambil melakukan gerakan menyapu. Jumi mengangguk mengerti melihat gerakan pantomim bosnya.

Emily berbicara di telepon sambil menenteng sepatu. "Saya akan konfirmasi kepada Wulan, Pak," katanya. Dengan tenang dia menyerahkan sepatu itu kepada Jumi.

Jumi diam sedetik. Memandang majikannya lalu kembali memandang sepatu yang terletak di pelukannya.

"Kenapa?" desis Emily heran, tidak sadar dia masih memegang gagang telepon persis di depan mulutnya.

"Kenapa, apa?" terdengar suara balasan dari ujung telepon, menggelegar. Walaupun terbiasa dengan hantaman suara itu, tak urung Emily terlonjak. "Kamu tanya kenapa. Kenapa, apa, Emily? Nggak ada apa-apa katamu! Tapi saya nggak percaya! Feeling saya bilang ada udang di balik batu. Nah, coba kamu cari informasi lebih mendalam. Lakukan lobi kiri-kanan, apakah benar..." Suara Pak Alex terdengar sayup-sayup di kejauhan.

Jumi muncul kembali dari balik dapur dengan kemoceng. "Itu, hak sepatu Non patah. Mungkin tadi terlalu bersemangat menghajar kecoak."

O, sialan. Emily terbatuk-batuk pelan sambil memandang sepatunya. Sepatu Jimmy Choo kesayangannya! Sepatu yang berhasil menaikkan gengsinya seratus poin biarpun dibeli pas lagi sale.

"Bisa kamu sambung lagi nggak?" bisik Emily waswas. Dia harus hati-hati agar Pak Alex tidak mendengar percakapan soal sepatu ini. Kayaknya telinga bosnya ini mempunyai daya dengar berfrekuensi tinggi ala kelelawar.

Si pembantu menggeleng, tangkas dan mantap. "Nggak bisa, Non."

"Suruh sekretarismu telepon! Sambung langsung ke direct line-nya dong!"

Dasar telinga kelelawar! Emily menahan tawanya menyadari betapa semrawutnya percakapan tiga orang ini.

"Kalau pakai lem kayu?"

Jumi kelihatan bimbang sejenak. Tapi tidak lama. "Nggak ngaruh kali, Non," katanya akhirnya sambil menggoyang-goyangkan patahan hak yang persis di tengah.

"Buang aja deh," bisik Emily pasrah. Hatinya sebenarnya perih. Oh sepatu Jimmy Choo-ku, selamat jalan, ucapnya dalam hati. Semoga kau menemukan kedamaian abadi di alam sepatu sana.

"Wah, nggak sayang, Non?"

"Bukannya nggak bisa disambung lagi? Buang deh," ulang Emily terdengar tegar, padahal hatinya nelangsa. Dia mengeraskan dirinya. Tidak boleh menangis sekarang. Tidak boleh menangis di depan pembantu. Tidak, tidak boleh. Nanti saja nangis di depan arca.

"Buang apaan sih?!" Tiba-tiba Pak Alex rupanya sadar Emily tidak sedang berbicara kepadanya. Sedari tadi lelaki itu sibuk berbicara sendiri. "Kamu lagi ngomong sama siapa, Em?!" sergahnya tidak sabar.

"Nggak ngomong sama siapa-siapa kok, Pak Alex." Emily menegakan bahunya, bergidik sedikit melihat Jumi menenteng bangkai sepatunya menuju tong sampah.

"Sepertinya pikiranmu jauh, berada tempat lain."

Emily menggeleng keras kepala. "Tidak, Pak. Perhatian saya hanya kepada Bapak seratus persen," tangkisnya dengan suara lebih rendah.

Mereka berbicara selama sepuluh menit selanjutnya. Emily diam menyimak sesekali menyela. Air mukanya tidak terlihat gembira. Setelah itu telepon dimatikan.

Emily melangkah menuju pintu depan. Mengetahui majikannya hendak berangkat kerja, Jumi bergegas mengambil kunci pagar. Emily menggaruk rambutnya, menyadari bahwa ada beberapa helai rambutnya yang berjungkit. Raut wajahnya semakin murung. Padahal tadi pagi dia sudah mati-matian menghabiskan waktu untuk meluruskan rambutnya yang ikal.

Bip, bip. Terdengar suara lembut alarm mobil. Emily hanya membutuhkan satu langkah lebar untuk menggapai pegangan pintu Toyota Camry dan menariknya hingga terbuka. Hari ini dia harus menyetir sendiri ke kantor karena Pak Mamat, sopirnya. sedang cuti selama seminggu. Yah terpaksa.

"Selamat pagi, Ibu Direktur!" Tiba-tiba terdengar suara riang. "Sudah siap menantang Jakarta? Pagi-pagi gini tampangnya kusut banget, kayak lihat hantu lewat."

Emily urung mengenyakkan diri di kursi pengemudi. Yang menyapanya adalah Juli, tetangga depan. Perempuan berusia 32 tahun itu sedang menggendong anak lelakinya. Tangannya melambai bersemangat. Emily balas melambai dengan setengah hati. Mood-nya agak kelam setelah urut-urutan peristiwa yang terjadi barusan.

"Pagi, Mami!" Terpaksa Emily menyunggingkan senyum. "Emang banyak hantu berkeliaran kok. Hati-hati nanti si kecil ditelan pocong!"

Terganggu oleh rasa tidak nyaman, Juli meraih tangan putranya yang sedang menarik-narik rambutnya. Dia melontarkan tawa pendek. "Gila, garing banget kata-katanya! Kenapa, Mbak? Sarapannya pecahan gelas?"

"Emangnya gue keliatan kayak Gatot Kaca?" Emily ngakak sambil berpaling. "Tadi Bos nelepon. Rese dia."

"Sumpahin aja biar si Bos kena diare."

"Lalu hak sepatu Jimmy Choo-ku patah. Terus ada kecoak bunuh diri di depanku. Dan aku sudah terlambat ke kantor pula!"

"Oh, hiks. Yang itu tragis sekali. Turut berdukacita, ya." Bibir Juli melengkung ke bawah.

"Thanks. Kamu sendiri gimana?"

"Biasa deh. Ada yang ngompol di ranjang. Ada yang saling bunuh-bunuhan. Ada yang jerit-jerit seperti mau beranak."

"Itu kan cerita basi, Jeng."

"Ah, nggak basi. Cuma didaur ulang."

Emily terkekeh lalu menurunkan tubuhnya ke arah kursi pengemudi. Ketegangannya menguap. Matanya beralih mencari kacamata hitam, lalu mengenakannya. Dia memasukkan tongkat perseneling otomatis ke tanda R, lalu memundurkan mobil.

"Cabut dulu yuk!" serunya sambil melambai.

Ketika mobil Emily menghilang di balik tikungan, Juli ngeloyor masuk ke dalam rumah. Anaknya masih bergantung-gantung di lengannya.

           

 

Juli selalu bangun paling pagi, bahkan lebih pagi daripada matahari. Pukul empat, matanya otomatis kebelet membuka lalu menolak menutup lagi.

Pagi ini, dia sudah mandi, rambutnya sudah dicuci. Wangi sabun menguar manis dari tubuhnya. Sekarang Juli sudah repot di dapur. Dia sedang sibuk masak untuk mempersiapkan katering, bisnis kecil-kecilan yang baru beberapa bulan dilakukannya. Hasilnya nggak jelek-jelek amat. Sudah dua perusahaan yang dilayaninya dengan jumlah sekitar 300 karyawan. Hebat, bukan? Bisnis rumahan yang memberikan ekstra pendapatan bagi dompetnya.

Serta kebanggaan pribadi.

Setidaknya punya kartu nama dan jawaban tangkisan buat mertua.

            "Anak kan suster yang urus. Tambahan lagi ada dua pembantu. Memangnya dia ngapain aja sih di rumah?" Begitu mertuanya ngomong kepada suaminya kalau kebetulan menelepon. Dasar mertua bawel. Menyebalkan. Sok ikut campur. Juli benci sekali. Dengan bisnis kateringnya, setidaknya pertanyaan-pertanyaan menusuk hati seperti itu bisa dikurangi sedikit. Sekarang mertuanya harus lebih kreatif mencari-cari alasan untuk berkomentar.

"Pagi-pagi begini sudah berisik."

Juli menoleh. Kevin, suaminya, masih mengenakan kaus tidur dan celana pendek berbahan katun sedang duduk di kursi meja makan, mengamati kegiatannya. Salah satu jarinya masuk ke dalam hidung, asyik melakukan adegan bersih-bersih. Kegiatan normal yang tiap hari dia lakukan hanya di depan istrinya. Di depan Kevin, tergeletak koran pagi.

"Mau sarapan apa? Roti panggang keju?" tanya Juli tanpa mendongak, merasa tidak perlu memerhatikan gaya hidup Kevin yang agak jorok. Jika terlalu lama menonton adegan seronok itu, bisa-bisa Juli tidak akan pernah lagi bernafsu makan.

"Boleh juga."

Tidak ada tatapan mesra, atau pandangan melankolis. Hanya terdengar suara kertas bergemeresik. Kevin mulai membuka koran paginya, ritual yang selalu dilakukannya selama delapan tahun di rumah ini.

Juli menjinjit, mengambil sesuatu di atas rak dapur yang tinggi. Persis ketika tangannya berhasil meraih benda yang diinginkannya, tiba-tiba hantaman gelombang mual menghajarnya. Cepat, mendadak, tanpa pemberitahuan. Persis seperti pengumuman pemerintah tentang kenaikan BBM.

Gawat.

Juli berlari menuju kamar kecil dan memuntahkan isi perutnya di sana. Hueeek.... Sambil bersandar lunglai di tembok kamar mandi, keringatnya meleleh perlahan di punggung. Dia sudah cukup berpengalaman untuk mengetahui bahwa muntah-muntahnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan masuk angin. Indra keenamnya langsung siaga satu. Apakah ini hanya mimpi? Juli mencubit lengannya. Nggak, nggak mimpi kok. Ini sangat real.

"Honey," panggilnya kepada Kevin. Suaminya hanya menggumam singkat, tidak benar-benar menyimak.

"Honey!" seru Juli geregetan.

Kevin tersentak kaget, seolah-olah ada lebah yang menusuk pantatnya. "Hah?!"

Juli mengisap udara dalam-dalam. Dia menimbang-nimbang apa perlu menyemburkan reaksi bombastis. Kira-kira apa ya? Romantis atau dramatis? Mereka telah menikah selama delapan tahun dan Juli telah melewati adegan ini selama dua kali. Yang pertama dia memberikan kejutan supermanis. Lengkap dengan pelukan, ciuman, gendongan, dan... ehm, sensor. Yang kedua dia menjerit, melompat, dan menari gembira. Yang ketiga ini...

"Hon, aku hamil." Tiba-tiba saja kata-kata itu terceplos keluar tanpa sempat dipikir ulang.

Ya sudah deh. Tidak perlu pengumuman heboh. Pemberitahuan normal yang bersahaja juga nggak apa-apa. Yang penting pesannya sampai, kan?

            Barulah Kevin mendongak. Warna matanya yang cokelat muda langsung mengeras menjadi cokelat tua, tapi kemudian seketika melembut. "Sudah cek?" tanyanya manis.

Ah! Ah! Manisnya.

Juli mengangkat bahu sambil nyaris mengusap matanya terharu biru. "Belum. Tapi aku sudah sepuluh hari terlambat mens."

"Mungkin kamu lagi stres?"

Ya, awalnya Juli mengira dia stres. Stres karena Nico semakin luar biasa bandel. Stres karena si kembar tidak pernah hidup rukun layaknya saudara kembar. Katanya kembar selalu akrab? Dalam kasus Juli, sebentar lagi jika si kembar cukup umur, kemungkinan besar mereka saling membacok.

"Nggak mungkin." Juli cemberut, meyakinkan.

Kevin mengernyit kemudian meletus dalam tawa gembira. Walaupun canggung, Juli ikut-ikutan tertawa. Sambil tertawa dia memerhatikan wajah suaminya yang tampan, walaupun terlihat semakin bertambah usia sejak dari pertama kali mereka bertemu. Hmmm... apa itu, kerut mata? Tangan Juli naik, ikut-ikutan mencari kerut matanya. Jangan-jangan sudah ada kerutan di sekitar matanya.

"Senang nggak, Hon?"

"Senang apa?"

"Senang aku hamil."

Mata cokelat Kevin terlihat cemerlang seperti bintang di langit malam yang kelam. "Sudah pasti senang. Bayi adalah anugerah dari Tuhan. Masa nggak senang."

Juli berjalan ke dapur, perasaannya tidak menentu. Dia tidak perlu repot-repot menyela perkataan Kevin. Selama beberapa menit, Juli bengong mengamati kompor tanpa melakukan apa-apa. Dia menengadah dan memergoki Kevin diam-diam menahan tawa.

"Nggak lucu!" katanya sebal.

Kevin masih tertawa. Tawanya menggelegak di dada. "Bayi lagi! Mama pasti senang..."

Oya, mertuanya pasti senang. Juli tidak perlu basa-basi bertanya padanya. Bagi mertuanya, istri adalah pabrik anak.

Di tengah pertempuran perasaan itu, Juli mendengar gedoran-gedoran pertanyaan yang bergaung di telinganya. Benar nggak sih dia senang dengan kehamilan ini... Gila, hamil lagi! Ini malapetaka. Gila, dia hamil lagi! Aneh, kok bisa hamil sih? Padahal dia rajin minum pil itu. Hmph! Besok dia akan menemui dokter kandungannya... Gila, gila, gila! Awas saja dr. Ludwina, kok memberi pil yang tidak efektif mencegah kehamilan. Emangnya hamil itu enak?! Gila, dia hamil lagi....

"Bu, ada telepon. Dari Ibu Tia."

Mutiara Banyu. Sahabat terdekat Juli. Tumben menelepon persis ketika Juli mengetahui kehamilannya. Seperti ada telepati aja.

"Tia!" seru Juli. "Apa kabar, sayangku?"

Di ujung telepon, Mutiara berkata lirih, "Laki gue menghilang lagi, Jul. Kali ini sudah dua minggu."

Juli geregetan, langsung menyumpah-nyumpah. "Dasar lelaki gila, nggak ngerti tanggung jawab. Udah, gitu aja repot. Ceraikan aja, ASAP!"

"Maunya emang begitu. Tapi bagaimana dengan anak-anak gue? Siapa yang bayarin sekolahnya nanti?"

Juli menggosok pelipisnya. Berbicara denga Mutiara terkadang seperti terdampar di jalan raya yang superpadat. Belok kiri jeblos selokan, belok kanan banyak bajaj bersileweran. Kalau lurus, ada truk kontainer menghalangi jalan.  Di belakang, ada pasar kaget baru saja buka. Tidak bisa ke mana-mana.
"Udah dicari belum?"

"Udah. Ke mana-mana! Tapi nggak ketemu."

"Brengsek." Juli menyumpah-nyumpah lagi. "Selama dia pergi, lu dapat uang dari dia?"

"Nggak."

"Nah!" jerit Juli kesal. "Kalau begitu apa bedanya kalau lu menceraikan dia? Toh sama-sama nggak dapat uang."

"Tapi terkadang kalau pulang, dia bawa uang banyak."

Dari arah kamar tidur anak-anaknya, terdengar suara bergemuruh. Si kembar pasti sudah bangun. Sambil tetap mengepit telepon di antara pipi dan dagu, Juli mendesah kepada dirinya sendiri. Pagi telah tiba, harinya telah dimulai.

"Jul? Jadi gimana..." Di ujung sana, Mutiara tersedu-sedu. Juli menggeram putus asa.

Selamat datang virus sinting.

@Clara Ng, 2007


Posted at 08:43 am by editor

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Next Entry Home