Home
Biography
Books
News & Events
Sekilas Isi
Indiana Lesmana
E-mail
Links
Join Clara Ng's Books in Facebook
Ayo Isi Buku Tamu




Pics:

www.flickr.com



Lengkapi Koleksi Anda:
www.flickr.com
This is a Flickr badge showing photos in a set called SFTHStories From The Heart. Make your own badge here.
Stories From The Heart










Bagi Anda yang berminat mengundang Clara Ng sebagai tamu di sekolah/universitas, untuk acara talkshow/diskusi buku/jumpa pengarang, silakan kirim e-mail ke:
indiana_lesmana@yahoo.com atau fiksi@gramedia.com

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Sunday, February 05, 2006
Sekilas Isi - Dimsum Terakhir

PROLOG

 

Kau disebut perawan sebab kau rawan dan harus berhati-hati.

Maka, saat kau beranjak dewasa dan tamumu mulai datang,

Ibumu lalu girang karena “tamu” telah mengetuk pintu putrinya.

Darah merah melambangkan kesuburan lalu tuman datang setiap bulan.

Per 28 hari, lima sampai tujuh hari, apa yang terjadi?

Seperti ayam, telurmu tumbuh dalam tubuh.

Ibumu bahagia, bersyukur dan berdoa. Lalu pesannya,”Jagalah

bungamu, jangan kaubuahi telurmu, agar kau suci selalu hingga

Menjadi persembahan paling berarti bagi calon suami.”

Pagar ayu-pagar ayu... sesuatu yang rawan sebab kau memang perawan.

Sesuatu yang harus dijaga sebab sakral adalah capnya.

Lalu kau menyumpahi dirimu karena kau wanita.

Tapi kemudian dirimu matang seperti telurmu yang siap panggang.

Kau siap menjadi pembawa generasi bagi manusia,

Dan surga ada di telapak kakimu. (*dikutip dari Tabula Rasa – Ratih Kumala, Grasindo 2004)

 

***

 

BUTIR-BUTIR keringat Anas berjatuhan di dahi ketika bayi itu akhirnya berhasil meluncur keluar dari rahimnya. Kepalanya terempas ke belakang. Nyawanya seakan lenyap sedetik dari raganya. Tapi Anas masih menangkap seruan gembira dokter kandungan.

“Bayi keempat! Semuanya perempuan!”

    ***

 

Aku berdiri di pojok kesayanganku. Televisi menyala di ruang keluarga. Cahayanya berpendar lembut. Suaranya rendah. Aku ingin tahu apakah Nung dapat mendengar suara televisi dari sofa tempatnya berbaring. Mungkin dia tidak terlalu memerhatikan isi berita. Mungkin ada berita lain yang memenuhi kepalanya. Aku tidak tahu.

Dari sini aku mengawasi seluruh isi rumah. Tidak banyak yang berubah. Gorden berwarna hijau dengan motif daun-daun tampak masih sama, namun terlihat sedikit kotor karena jarang dicuci. Debu menempel setia di sana. Bufet kecil tempat deretan foto-foto berbingkai. Lukisan pemandangan yang menempel di sisi tembok. Beberapa plakat penghargaan tampak usang. Keanggunannya hilang termakan usia.

Seluruh permukaan lantai masih dialasi keramik yang itu-itu saja. Jika ada insinyur menyempatkan diri datang ke rumah ini, aku tahu apa yang akan dikatakannya. Rumah kuno. Tua renta. Ketinggalan mode. Sudah ringkih. Payah. Bla, bla, bla...

Aku melempar pandangan seluas-luasnya. Dinding bisu menjadi saksi serangkaian perjalanan hidup beberapa jiwa. Warna catnya sedikit lusuh, tapi masih bagus dipandang. Nung pasti belum tertarik untuk mengecat ulang. Di pojok dinding sana, tampak kursi goyang tua yang sampai sekarang masih sering digunakan.

Sepuluh tahun telah berlalu. Aku menghela napas.

Meja sembahyang terlihat jelas di ruang keluarga. Abu jatuh dari hio yang sedikit lagi habis terbakar membuat sebagian meja tampak kotor. Patung Dewi Kwan Im berdiri anggun di sana, diapit dengan dua api yang menyala dengan minyak. Seikat bunga krisan berwarna kuning yang diletakan di atas vas tampak sedikit mengering. Di sampingnya, di sanalah tempat abuku berada.

Sejuta kenangan berhamburan turun. Tubuhku memucat. Dan setitik air mata meluncur turun di pipi.

***


Bip. Bip. Bip.

“Ya?” tanya Siska kesal, menekan tombol speaker phone. Dia sudah berkali-kali memberitahu Donna, sekretarisnya, agar tidak mengganggunya sekarang. Apakah Donna tidak mengerti bahwa dia sedang menerima klien penting. Prospek bisnis masa depan yang buntut-buntutnya akan membayar gaji Donna selama berbulan-bulan. Plus bonus. Dasar sekretaris tidak becus! Apa sih susahnya menolak orang?

“Maaf, ganggu, Bu. Ini---”

Siska menyambar gagang telepon secepat-cepatnya. Giginya gemeletak menahan kekesalan ketika mulutnya mendesis marah, “Tadi kan saya sudah bilang, saya tidak mau diganggu!”

“Ya, Bu. Tapi---”

“Bilang saja saya sedang keluar. Tidak ada di dalam ruangan! Mengerti?!”

“Mengerti, Bu. Saya---”

Siska membanting gagang telepon. Sedetik dia memandangi alat komunikasi itu sebelum menghela napas, menghapus kekesalan wajahnya. Dengan senyum profesional yang telah dilatihnya bertahun-tahun, Siska melempar pandangan kembali kepada beberapa orang yang duduk di ruang pertemuan.

“Oke,” katanya lincah. “Sampai di mana tadi?” Sejuta saraf yang tadi menegang di wajahnya telah hilang. Air muka Siska terlihat rileks.

Bip. Bip. Bip.

Siska ingin berteriak sekuat-kuatnya kepada Donna bahwa dia dipecat sekarang juga. Masih banyak orang yang cakap dan kompeten berjubel di luar sana, bersedia bekerja untuknya.

Bip. Bip. Bip.

Brengsek! Dasar sekretaris bego! Tolol, idiot, supergoblok! Siska melempar pandangan minta maaf kepada seluruh orang yang sedang duduk mengelilinginya.

“Maaf,” katanya sopan. Pita suaranya bergetar dalam gelegak profesional yang telah dilakukannya berjuta-juta kali. Tidak ada titik-titik emosi jengkel yang berseliweran di wajahnya. Siska mempunyai kontrol diri yang amat kuat. Kalau saja para kliennya tahu apa yang sedang terjadi di dalam pikirannya....

Bip. Bip. Bip.

Sekali lagi Siska bergegas berdiri. Meminta maaf dengan sopan kepada para klien penting itu dan berjanji akan segera melanjutkan rapat secepat mungkin.

Tanpa menunggu persetujuan, Siska melangkah lebar-lebar menuju pintu. Dia ingin membanting daun pintu, tapi dia menahan emosi yang sedang meletup. Nanti saja, pikirnya geram. Nanti saja dia akan membanting-banting barang, sesuai dengan perilakunya saat marah. Tidak di depan klien. Jangan sekarang, masih ada waktu. Lihat saja nanti.

Di meja sekretaris, wajah Donna yang pucat pasi langsung terlihat. Semudah menemukan jerawat saat PMS. Tangan Donna sedang menggenggam tangkai telepon. Gemetar. Kacamatanya merosot di ujung hidung. Wajah bosnya yang sedari pagi terlihat kecut merupakan indikasi bahwa suasana hati Siska sedang dilanda angin puting beliung. Donna sudah berusaha mati-matian menjaga agar letupan emosi Bos tidak terarah kepadanya. Kelihatannya Bos sedang supertegang, bersiap menghamburkan rentetan kekesalannya kepada Donna. Mencari gara-gara atas nama masalah sekecil rayap. Sekarang karena telepon bodoh ini, Donna harus menghadapi teror kemarahan.

Siska berjalan seperti singa yang hendak menerkam tikus kecil. Di depan Donna, dia sudah membuka taring lebar-lebar. Donna harus bergerak cepat! Semakin cepat dia mengatakan apa yang perlu dia sampaikan, semakin cepat masalah ini tuntas.

“Maaf, Bu. Ini penting. Dari rumah sakit di Jakarta. Katanya, ayah Ibu kena stroke.”

“Apa?!” Tak ayal, suara Siska naik beberapa desibel. Kepala Donna terhuyung ke belakang mendengar teriakan itu. Oke, bosnya memang menginginkan perang sedari tadi.

Maka Donna semakin mengkeret di kursi. Kalau dia bisa bergelung seperti trenggiling, tentu saja sudah dilakukannya.

 

***


Indah berjalan di antara rak-rak yang berdiri tegak. Buku-buku mengepung jarak pandangnya. Ketenangan atmosfer toko buku ini memang nomor satu. Tidak ada yang bisa menyainginya. Memang seharusnya seperti inilah toko buku modern. Tempat buku-buku berdiri anggun untuk dihormati. Tidak seperti beberapa toko buku di mal-mal yang modelnya seperti toko kelontong. Mencari buku seperti mencari ikan di pasar nelayan. Hiruk-pikuk, berantakan, berisik. Belum lagi segala barang bisa ditemukan di sana, mulai dari penghapus, VCD, gitar, kartu ucapan ulang tahun/Natal/Tahun Baru/Lebaran/Imlek/Valentine (tergantung hari raya apa), alat olahraga, download ringtone, photo box, sampai jepitan rambut.  Benar-benar tidak nyaman.

Segerombolan anak muda mengintip dari ujung lorong. Sedari tadi, rupanya mereka sedang mengamati tingkah laku Indah.

“Mbak Indah? Mbak Indah Prati?”

Indah berhenti melangkah mendengar panggilan itu. Dia menoleh. Senyumnya mengembang lebar ala iklan pasta gigi. “Ya. Ada apa?”

Empat anak muda yang semuanya mengenakan jins dan berambut semodel bergegas mendatangi Indah. Senyum keempatnya tampak ceria.

“Mbak Indah, boleh minta tanda tangannya, ya?”

Keempatnya menyorongkan empat buku ke tangan Indah.

Senyum membingkai sempurna di wajah Indah yang sumringah. Tangannya merogoh-rogoh tasnya, mencari-cari bolpoin.

“Untuk siapa saja?” tanya Indah. Tutup bolpoin ditarik dengan gigi.

Mereka menyebut beberapa nama.

Dengan cepat Indah menggoreskan tanda tangannya pada halaman pertama buku. Sambil terus mengembangkan senyum, dia mengembalikan buku-buku itu ke tangan keempat penggemarnya. Ekspresi gembira tampak bertaburan di wajah mereka ketika menerima buku-buku itu kembali.

“Terima kasih ya, Mbak.”

“Sama-sama,” kata Indah ramah, memasukan bolpoin ke dalam tas. Dia hendak berlalu ketika salah satu anak muda itu bertanya kepadanya.

“Kapan novel berikutnya nih, Mbak Indah?”

Seketika Indah terpaku mati di tempatnya. Pertanyaan sederhana dari mereka tidak berhenti sampai di situ, malah memantulkan gema di benaknya. Terngiang-ngiang sampai telinganya nyaris tuli. Kerutan di dahi Indah mulai terbayang.

“Lagi ditulis,” katanya dengan nada tidak wajar sambil mencoba tersenyum tapi gagal total. Tanpa sadar, tangannya naik menekan dada. Jantung sudah siap ngacir, menggelundung keluar dari rongga rusuk. Indah melirik jam tangan, berpikir-pikir bagaimana caranya agar dapat mengakhir percakapan ini dengan taktis.

“Kapan terbitnya?”

“Tungguin aja ya.”

Indah ingin mengambil langkah seribu sebelum makhluk-makhluk buas ini bertanya macam-macam. Dorongan adrenalin dalam tubuh Indah mengingatkannya untuk cepat-cepat kabur atau mati-matian bertahan.

“Tentang apa, Mbak?”

Nah lu, benar-benar mampus. Sesaat Indah tercengang. Pertanyaan itu menyeretnya kembali ke awal mula kejadian. Ajakan obrolan anak-anak muda itu sudah tidak terdengar ramah di telinga Indah, malah kedengarannya seperti ejekan yang berlebihan. Mati. Matilah dia. Mati kutu. Mati gaya. Mati mampus. Mati beneran. Dan segala jenis mati yang bisa diulang bolak-balik.

Mulutnya terbuka, lalu tertutup lagi. Empat pasang mata memandangnya penuh harap. Sial, dalam hati Indah menyumpah. Kenapa sih harus ketemu empat tuyul ini? Coba tadi tidak pakai acara mampir di toko buku.

“Tentang... ehm...,” ujar Indah linglung sambil memutar otak untuk mencari jalan keluar dari kemelut ini. Wajahnya panik, seutuhnya panik. Senyum Indah tanpa cela, tapi degupan panik jantungnya terdengar jelas. Sungguh, dia kelabakan. Bagaimana cara menjawab pertanyaan yang terdengar tidak senonoh (baca: tidak sopan) di telinganya ini?

Tiba-tiba ponselnya bernyanyi.

Oh demi Tuhan, dia selamat! Indah ingin mencium kaki siapa pun yang sedang meneleponnya. Moga-moga bukan salah sambung. Moga-moga bukan penawaran kartu kredit. Moga-moga juga bukan penjual asuransi.

Indah melirik skrin ponsel dengan tidak sabar. Siska Yuanita. Nama itu berkedip-kedip sempurna. Si setan alas, pikir Indah kesal, bad mood. Dari semua orang yang diharapkannya, mengapa si kutil yang menelepon?

Tapi biar bagaimana, telepon itu telah menyelamatkan nyawanya.

“Sori, ya,” kata Indah sopan kepada empat orang penggemarnya, tanpa menunjukan gelagat panik tingkat tinggi.  “Ada telepon dari kakak kembarku,” katanya.

Indah melangkah menjauh sambil membuka ponsel clampshell-nya. Diam-diam, dia menoleh ke belakang. Empat orang pemujanya telah berlalu. Biarpun dililit rasa frustrasi, Indah bersyukur. Dia cukup beruntung karena dosa kolektifnya sebagai pengarang telah terampuni. Untuk saat ini. Dan untuk selanjutnya dia harus benar-benar bekerja keras menghasilkan novel kedua. Kalau tidak, percuma saja jadi pengarang!

“Halo?”

Kata-kata selanjutnya tidak terdengar dengan baik karena diucapkan secepat pesawat luar angkasa tinggal landas. Diucapkan dengan nada setajam pisau belati.

Kurang lebih begini: “Kamu... tolol... di Jakarta... nggak dengar... Papa... ada... stroke... rumah sakit... ke mana aja... ngelayap... ke mana-mana... dasar...”

Apa-apaan?! Mata Indah membulat sengit. Sumpah, dia menarik kata-kata tadi tentang sembah sujud di kaki Siska. Tapi sekarang bukan saatnya balas mengaum. Ada berita genting yang harus diperhatikannya baik-baik. Maka mengabaikan sarkasme saudari kembarnya, Indah terus mendengarkan biarpun jantungnya berdebar liar.

***


Rosi menutup telepon dengan hati galau. Barusan Indah menelepon, mengabarkan bahwa ayah mereka terserang stroke hari ini. Kesepuluh jari tangan Rosi gemetar hebat sehingga gagang telepon terjatuh keras di pesawatnya.

Di luar, terdengar suara gonggongan anjing labrador hitam miliknya yang bernama Bubu. Tidak berhenti, sambung-menyambung menjadi satu, seperti sedang kesurupan. Pikiran Rosi tersungkur seketika ketika dia berjalan bergegas, melintasi ruangan menuju suara tersebut. Gonggongan anjing yang ribut selalu membuatnya sedikit senewen.

Dia menyibak tirai, melongokkan kepalanya di jendela. Tubuh besar Bubu hanya terlihat sebagian. Hanya sepasang tungkai belakangnya yang kokoh serta ekornya yang tidak berhenti mengibas-ngibas liar. Anjing itu sedang menandak-nandak, melompat-lompat, dan menyalak nyaring. Tidak terdengar geraman galak dan ataupun gonggongan mengancam. Melihat dan mendengar kondisi seperti ini, berarti Bubu dalam keadaan gembira.

Rosi berjalan keluar menuju kebun.

Hari ini adalah hari pertama awal bulan. Udara lembap, sedikit dingin, menerpa pipinya. Rosi berjinjit, melewati beberapa bagian tanah basah yang terciprat air dari atap rumah. Hujan mengguyur sedikit-sedikit semenjak kemarin. Suhu cuaca turun sedikit, memberikan suasana alam yang kaku, keras, serta beku. Siang itu tidak terlalu berangin, tapi daun-daun kering terlihat melayang tepat di ujung kaki Rosi.

Baguslah, pikir Rosi senang. Bagus untuk bunga-bunganya. Bagus untuk bayi-bayi kesayangannya.

Rosi melewati pancang-pancang kayu yang ditancapkan di tanah dengan hati-hati. Dia merasa kehangatan alami memenuhi rongga dadanya. Rosi menoleh ke kiri dan kanan, ke sekelilingnya. Tampaklah deretan bayi-bayi terindah sedunia, perdu yang dipenuhi daun-daun segar dengan kuntum-kuntum mungil yang menyembah ke arah langit. American rose. Rosi adalah petani bunga mawar. Persamaan nama dengan kecintaannya kepada bunga ros merupakan pertanyaan yang mahapenting. Entah ini kebetulan yang lucu atau bukan, Rosi tidak pernah tahu.

Perlahan, Rosi berjalan berjinjit, menghindari pancang. Dia tidak ingin celananya terkait bilah bambu lagi. Cukup sudah. Nyaris seluruh koleksi celananya dihiasi lubang dan tisikan benang.

Gonggongan heboh Bubu semakin jelas. Rosi mengusap dahi dengan punggung tangannya, mengembuskan napasnya sedikit demi sedikit.

Di kebun, Bubu sedang berlari-lari dalam lingkaran besar. Anjing itu menandak-nandak ribut seperti tidak ada kesempatan lain untuk melakukannya. Di depannya berlari seorang gadis muda sambil tertawa-tawa. Tubuhnya sekurus tiang bendera, setipis papan, dan bertulang runcing. Gadis itu berambut lurus sebahu, berwarna hitam, tersiram matahari pukul sepuluh pagi. Kulit wajahnya yang pucat tampak bersinar-sinar diterpa hujan embun. Perempuan muda itu mengenakan celana kain hitam gombrong yang juga belepotan lumpur dan kaus tanpa lengan yang terlihat dekil. Bibirnya yang tipis terbuka lebar, mengalunkan tawa merdu hingga ke langit.

Rosi terpana sesaat. Bengong di tempat. Tidak ada kata yang dapat ditemukan dalam kamus otaknya. Hatinya tergelincir ke padang rumput berbunga, seperti dalam film Little House in the Praire. Dia terpesona habis-habisan melihat pemandangan di depan matanya.

Dharma, nama gadis itu. Dia berlari-lari sambil menjerit-jerit bahagia, dikejar Bubu dan gonggongannya. Dharma seperti bocah cilik dengan rambut dihiasi mahkota bunga sibuk bermain di halaman. Membuatnya seakan-akan menjelma menjadi peri mungil bersayap yang terbang berputar-putar di hamparan bunga-bunga mawar milik Rosi.

“Hei!” pekik Dharma. “Kena kamu!”

Rosi tenggelam dalam rasa takjub. Takjub akan dua perasaan yang sedang menjeratnya. Antara sedih dan bahagia. Antara tidak percaya dan percaya. Antara berduka dan penuh harapan. Antara terkejut dan merasa nyaman.

SYURRR!

Air deras mengalir keluar dari slang yang teracung lurus dan langsung menyembur tepat mengenai dada Rosi. Dharma berdiri tegak sambil tidak berhenti tertawa terbahak-bahak. Bubu melompat-lompat ribut. Seringai lebar ala anjingnya seperti sedang mengejek Rosi.

Selama sedetik sebelum air menyerbu keluar, otak Rosi memberikan perintah refleks untuk berlari. Sialnya Rosi hanya punya kesempatan untuk menjerit, tapi tidak sempat mengelak. Kakinya terpaku mati di atas tanah, menciptakan sasaran empuk buat Dharma.

“AAAHHHHHHHH!!!”

 

***


“Ayahku kena stroke.”

Tangan Tanti berhenti di udara sehingga nyaris menyenggol panci plastik mainan anak-anak yang bertumpuk-tumpuk dari ukuran terkecil sampai yang terbesar.

“Apa katamu?” Pernyataan sahabatnya mengejutkan Tanti dari lamunannya.

“Ayahku kena stroke,” ulang Novera tenang.

“Kok bisa?” Sejenak Tanti bertanya-tanya sendiri mengapa mulutnya menyemburkan komentar seperti itu. Itu pertanyaan tolol. Tanti menggigit bibir cemas, berharap temannya tidak tersinggung dengan pertanyaan yang keluar dari mulutnya tanpa dipikir panjang.

Tanpa terpengaruh reaksi Tanti, Novera menggosok hidung sambil mengamati sepotong krayon kuning. Dalam beberapa detik, terasa kekosongan menyelinap di ruangan kelas. Tanti menatap sahabatnya dengan mata sedih dan prihatin mengenai pengumuman tersebut.

“Ya bisa saja. Namanya juga penyakit. Datangnya bisa mendadak.”

Kelas mereka baru saja berakhir. Mainan anak-anak berserakan di segala sudut. Buku-buku yang tadinya terletak rapi di Sudut Baca, tampak tergeletak di karpet. Biasanya Novera dan Tanti menghabiskan waktu sekitar sepuluh menit untuk membereskan ruangan sebelum berdiskusi tentang persiapan kelas esok hari. Tapi sepertinya pekerjaan itu bisa ditunda. Novera tidak terlihat gembira, tapi tampaknya dia juga tidak ingin dikasihani dengan perhatian yang berlebihan.

“Jadi bagaimana?”

“Bagaimana apa?”

Tanti melanjutkan dengan suara selembut burung merpati. “Bagaimana penyelesaiannya? Apa ayah kamu bakalan tinggal di rumah sakit. Atau apa...” Kata-kata Tanti menguap, tidak tahu bagaimana dia menyelesaikannya dengan baik. Gadis itu tahu, Novera tidak punya ibu lagi. Ayahnya tinggal sendirian di rumahnya di Jakarta dengan tiga ekor kucing Persia yang gendut dan malas-malas.

Novera menggeleng, mengangkat bahu. Tidak terpengaruh kebingungan temannya, dia mencari kata-kata yang tepat. “Mana mungkin tinggal di rumah sakit? Siapa yang sanggup bayar biayanya? Paling-paling dia tetap tinggal di rumah.”

“Siapa yang akan merawat ayahmu?”

Novera mendesah. Pertanyaan Tanti tergantung di udara.

“Ya, itulah...,” katanya bingung bercampur gugup. Novera menopang dagu, menerawang, “...yang jadi masalahnya.”

***


Aku masih berdiri di pojok kesayanganku. Saat ini Nung tidak berada di sofa favoritnya, tentu saja. Kucing-kucing mengeong-ngeong memelas, mungkin kelaparan karena sudah seharian Nung tidak berada di rumah ini. Kasihan juga melihat mereka. Tapi aku yakin, Nung akan kembali besok. Kucing-kucing manja itu pasti bisa bertahan. Aku tidak terlalu mengkhawatirkan mereka. Menurutku, sebaiknya mereka juga diet.

Semburat cahaya kuning menembus tirai jendela, menyorotkan bias keemasan ke dalam rumah. Nung pasti akan pulang bersama keempat anak perempuannya. Empat anak perempuan kembarnya...

Betapa menyenangkan.

Kenangan-kenangan itu kembali. Bagai hantu yang tidak mau pergi. Bagai putaran waktu yang mengkristal.

Aku tersenyum tipis. Rumah ini akan kembali ramai.

 

©2006, Clara Ng

Posted at 10:09 am by editor

dinna...
September 3, 2008   12:26 PM PDT
 
duhh...pgn bgt rasanya pny smua krya clara-ng...
salut lg bwt CLARA!!!
Dian
October 13, 2006   01:35 PM PDT
 
Dari semua buku Clara Ng & dari semua buku pengarang indonesia, this is the greatest !! Cuma butuh waktu 2 hari buat bacanya, sampe gak tidur segala...
CipLuK
August 18, 2006   11:07 PM PDT
 
gue suka novel ini!And you know what...gue sendiri adalah anak kembar!hehehe...
clara huang
August 9, 2006   01:01 AM PDT
 
awalnya males deh pas tau cerita ttg anak2 kembar gitu...
but apparently i was totally wrong!
ceritanya bagus bgt..cara penulisannya jg ga dibuat2 n bikin mau baca terus!!
berkarya terus ya clara!
gud luck!
yana_ndut
July 31, 2006   12:50 AM PDT
 
omigod...
baru baca prolog udah masuk daftar wajib koleksi...
aku suka bgt sama karya2 clara ng, apalagi ma indi, aq jg suka bgt the (un)reality show..it's tottally makes me surprised with the end of the stories..tetep berkarya ya...i'll be waitin' for next..
Nok's
June 27, 2006   09:13 AM PDT
 
Gile...
Keren banget!!!
Clara Ng banget neh. hahahaaa
Boleh deh ikutan baris rapi di lemari buku gw...
Ga pernah rugi ngoleksi buku-2nya Clara...


Natalia
June 25, 2006   01:27 AM PDT
 
gila bagus banget ceritanya.beda banget ama cerita biasanya yang hanya seputar percintaan, BRAVO BUAT CLARA aku suka sama semua karya kamu walaupun waktu baca yang reality show agak bingung2 juga.tapi yang mengenalkan aku pada dirimu adalah indiana lesmana yang membuat aku jatuh cinta dengan karya2mu.aku akan selalu menunggu bukumu yang selanjutnya.btw jangan sampe mandek kaya indah ya ^)^
Enno
June 20, 2006   03:54 PM PDT
 
Gue emang fans beratnya Clara. Udah baca buku yang satu ini, gak sabar nunggu yang berikutnya. Bravo, Clara!
adeline
May 13, 2006   03:14 PM PDT
 
waw...baru baca sinopsis dan sepintas lalu, jadi bikin penasaran kelanjuta "dimsum terakhir" seperti apa ya? apa akan hao che ato pu hao che. Sebagai cewek keturunan harus baca neh. Kalo udah baca ntar aku kasi komen lagi deh. Gudluk buat novelnya
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Next Entry Home