PROLOG
Kau disebut perawan sebab
kau rawan dan harus berhati-hati.
Maka, saat kau beranjak
dewasa dan tamumu mulai datang,
Ibumu lalu girang karena
“tamu” telah mengetuk pintu putrinya.
Darah merah melambangkan
kesuburan lalu tuman datang setiap bulan.
Per 28 hari, lima sampai
tujuh hari, apa yang terjadi?
Seperti ayam, telurmu
tumbuh dalam tubuh.
Ibumu bahagia, bersyukur
dan berdoa. Lalu pesannya,”Jagalah
bungamu, jangan kaubuahi
telurmu, agar kau suci selalu hingga
Menjadi persembahan paling
berarti bagi calon suami.”
Pagar ayu-pagar ayu...
sesuatu yang rawan sebab kau memang perawan.
Sesuatu yang harus dijaga
sebab sakral adalah capnya.
Lalu kau menyumpahi dirimu
karena kau wanita.
Tapi kemudian dirimu matang
seperti telurmu yang siap panggang.
Kau siap menjadi pembawa
generasi bagi manusia,
Dan surga ada di telapak
kakimu. (*dikutip dari Tabula
Rasa – Ratih Kumala, Grasindo 2004)
***
BUTIR-BUTIR keringat Anas
berjatuhan di dahi ketika bayi itu akhirnya berhasil meluncur keluar dari
rahimnya. Kepalanya terempas ke belakang. Nyawanya seakan lenyap sedetik dari
raganya. Tapi Anas masih menangkap seruan gembira dokter kandungan.
“Bayi keempat! Semuanya
perempuan!”
***
Aku berdiri di pojok kesayanganku.
Televisi menyala di ruang keluarga. Cahayanya berpendar lembut. Suaranya
rendah. Aku ingin tahu apakah Nung dapat mendengar suara televisi dari sofa
tempatnya berbaring. Mungkin dia tidak terlalu memerhatikan isi berita. Mungkin
ada berita lain yang memenuhi kepalanya. Aku tidak tahu.
Dari sini aku mengawasi seluruh
isi rumah. Tidak banyak yang berubah. Gorden berwarna hijau dengan motif
daun-daun tampak masih sama, namun terlihat sedikit kotor karena jarang dicuci.
Debu menempel setia di sana. Bufet kecil tempat deretan foto-foto berbingkai.
Lukisan pemandangan yang menempel di sisi tembok. Beberapa plakat penghargaan
tampak usang. Keanggunannya hilang termakan usia.
Seluruh permukaan lantai masih
dialasi keramik yang itu-itu saja. Jika ada insinyur menyempatkan diri datang
ke rumah ini, aku tahu apa yang akan dikatakannya. Rumah kuno. Tua renta.
Ketinggalan mode. Sudah ringkih. Payah. Bla, bla, bla...
Aku melempar pandangan
seluas-luasnya. Dinding bisu menjadi saksi serangkaian perjalanan hidup
beberapa jiwa. Warna catnya sedikit lusuh, tapi masih bagus dipandang. Nung
pasti belum tertarik untuk mengecat ulang. Di pojok dinding sana, tampak kursi
goyang tua yang sampai sekarang masih sering digunakan.
Sepuluh tahun telah berlalu.
Aku menghela napas.
Meja sembahyang terlihat jelas
di ruang keluarga. Abu jatuh dari hio yang sedikit lagi habis terbakar membuat
sebagian meja tampak kotor. Patung Dewi Kwan Im berdiri anggun di sana, diapit
dengan dua api yang menyala dengan minyak. Seikat bunga krisan berwarna kuning
yang diletakan di atas vas tampak sedikit mengering. Di sampingnya, di sanalah
tempat abuku berada.
Sejuta kenangan berhamburan
turun. Tubuhku memucat. Dan setitik air mata meluncur turun di pipi.
***
Bip. Bip. Bip.
“Ya?” tanya Siska kesal,
menekan tombol speaker phone. Dia sudah berkali-kali memberitahu Donna,
sekretarisnya, agar tidak mengganggunya sekarang. Apakah Donna tidak mengerti
bahwa dia sedang menerima klien penting. Prospek bisnis masa depan yang
buntut-buntutnya akan membayar gaji Donna selama berbulan-bulan. Plus bonus.
Dasar sekretaris tidak becus! Apa sih susahnya menolak orang?
“Maaf, ganggu, Bu. Ini---”
Siska menyambar gagang telepon
secepat-cepatnya. Giginya gemeletak menahan kekesalan ketika mulutnya mendesis
marah, “Tadi kan saya sudah bilang, saya tidak mau diganggu!”
“Ya, Bu. Tapi---”
“Bilang saja saya sedang
keluar. Tidak ada di dalam ruangan! Mengerti?!”
“Mengerti, Bu. Saya---”
Siska membanting gagang telepon.
Sedetik dia memandangi alat komunikasi itu sebelum menghela napas, menghapus
kekesalan wajahnya. Dengan senyum profesional yang telah dilatihnya
bertahun-tahun, Siska melempar pandangan kembali kepada beberapa orang yang
duduk di ruang pertemuan.
“Oke,” katanya lincah. “Sampai
di mana tadi?” Sejuta saraf yang tadi menegang di wajahnya telah hilang. Air
muka Siska terlihat rileks.
Bip. Bip. Bip.
Siska ingin berteriak
sekuat-kuatnya kepada Donna bahwa dia dipecat sekarang juga. Masih banyak orang
yang cakap dan kompeten berjubel di luar sana, bersedia bekerja untuknya.
Bip. Bip. Bip.
Brengsek! Dasar sekretaris
bego! Tolol, idiot, supergoblok! Siska melempar pandangan minta maaf kepada seluruh orang yang sedang duduk
mengelilinginya.
“Maaf,” katanya sopan. Pita
suaranya bergetar dalam gelegak profesional yang telah dilakukannya
berjuta-juta kali. Tidak ada titik-titik emosi jengkel yang berseliweran di
wajahnya. Siska mempunyai kontrol diri yang amat kuat. Kalau saja para kliennya
tahu apa yang sedang terjadi di dalam pikirannya....
Bip. Bip. Bip.
Sekali lagi Siska bergegas
berdiri. Meminta maaf dengan sopan kepada para klien penting itu dan berjanji
akan segera melanjutkan rapat secepat mungkin.
Tanpa menunggu persetujuan,
Siska melangkah lebar-lebar menuju pintu. Dia ingin membanting daun pintu, tapi
dia menahan emosi yang sedang meletup. Nanti saja, pikirnya geram. Nanti saja
dia akan membanting-banting barang, sesuai dengan perilakunya saat marah. Tidak
di depan klien. Jangan sekarang, masih ada waktu. Lihat saja nanti.
Di meja sekretaris, wajah
Donna yang pucat pasi langsung terlihat. Semudah menemukan jerawat saat PMS.
Tangan Donna sedang menggenggam tangkai telepon. Gemetar. Kacamatanya merosot
di ujung hidung. Wajah bosnya yang sedari pagi terlihat kecut merupakan
indikasi bahwa suasana hati Siska sedang dilanda angin puting beliung. Donna
sudah berusaha mati-matian menjaga agar letupan emosi Bos tidak terarah
kepadanya. Kelihatannya Bos sedang supertegang, bersiap menghamburkan rentetan
kekesalannya kepada Donna. Mencari gara-gara atas nama masalah sekecil rayap.
Sekarang karena telepon bodoh ini, Donna harus menghadapi teror kemarahan.
Siska berjalan seperti singa
yang hendak menerkam tikus kecil. Di depan Donna, dia sudah membuka taring
lebar-lebar. Donna harus bergerak cepat! Semakin cepat dia mengatakan apa yang
perlu dia sampaikan, semakin cepat masalah ini tuntas.
“Maaf, Bu. Ini penting. Dari
rumah sakit di Jakarta. Katanya, ayah Ibu kena stroke.”
“Apa?!” Tak ayal, suara Siska
naik beberapa desibel. Kepala Donna terhuyung ke belakang mendengar teriakan
itu. Oke, bosnya memang menginginkan perang sedari tadi.
Maka Donna semakin mengkeret
di kursi. Kalau dia bisa bergelung seperti trenggiling, tentu saja sudah
dilakukannya.
***
Indah berjalan di antara rak-rak yang berdiri tegak. Buku-buku mengepung jarak
pandangnya. Ketenangan atmosfer toko buku ini memang nomor satu. Tidak ada yang
bisa menyainginya. Memang seharusnya seperti inilah toko buku modern. Tempat
buku-buku berdiri anggun untuk dihormati. Tidak seperti beberapa toko buku di
mal-mal yang modelnya seperti toko kelontong. Mencari buku seperti mencari ikan
di pasar nelayan. Hiruk-pikuk, berantakan, berisik. Belum lagi segala barang
bisa ditemukan di sana, mulai dari penghapus, VCD, gitar, kartu ucapan ulang tahun/Natal/Tahun
Baru/Lebaran/Imlek/Valentine (tergantung hari raya apa), alat olahraga, download
ringtone, photo box, sampai jepitan rambut. Benar-benar tidak nyaman.
Segerombolan anak muda
mengintip dari ujung lorong. Sedari tadi, rupanya mereka sedang mengamati
tingkah laku Indah.
“Mbak Indah? Mbak Indah
Prati?”
Indah berhenti melangkah
mendengar panggilan itu. Dia menoleh. Senyumnya mengembang lebar ala iklan
pasta gigi. “Ya. Ada apa?”
Empat anak muda yang semuanya
mengenakan jins dan berambut semodel bergegas mendatangi Indah. Senyum
keempatnya tampak ceria.
“Mbak Indah, boleh minta tanda
tangannya, ya?”
Keempatnya menyorongkan empat
buku ke tangan Indah.
Senyum membingkai sempurna di
wajah Indah yang sumringah. Tangannya merogoh-rogoh tasnya, mencari-cari bolpoin.
“Untuk siapa saja?” tanya
Indah. Tutup bolpoin ditarik dengan gigi.
Mereka menyebut beberapa nama.
Dengan cepat Indah
menggoreskan tanda tangannya pada halaman pertama buku. Sambil terus
mengembangkan senyum, dia mengembalikan buku-buku itu ke tangan keempat
penggemarnya. Ekspresi gembira tampak bertaburan di wajah mereka ketika
menerima buku-buku itu kembali.
“Terima kasih ya, Mbak.”
“Sama-sama,” kata Indah ramah,
memasukan bolpoin ke dalam tas. Dia hendak berlalu ketika salah satu anak muda
itu bertanya kepadanya.
“Kapan novel berikutnya nih,
Mbak Indah?”
Seketika Indah terpaku mati di
tempatnya. Pertanyaan sederhana dari mereka tidak berhenti sampai di situ,
malah memantulkan gema di benaknya. Terngiang-ngiang sampai telinganya nyaris
tuli. Kerutan di dahi Indah mulai terbayang.
“Lagi ditulis,” katanya dengan
nada tidak wajar sambil mencoba tersenyum tapi gagal total. Tanpa sadar,
tangannya naik menekan dada. Jantung sudah siap ngacir, menggelundung keluar
dari rongga rusuk. Indah melirik jam tangan, berpikir-pikir bagaimana caranya
agar dapat mengakhir percakapan ini dengan taktis.
“Kapan terbitnya?”
“Tungguin aja ya.”
Indah ingin mengambil langkah
seribu sebelum makhluk-makhluk buas ini bertanya macam-macam. Dorongan
adrenalin dalam tubuh Indah mengingatkannya untuk cepat-cepat kabur atau
mati-matian bertahan.
“Tentang apa, Mbak?”
Nah lu, benar-benar mampus.
Sesaat Indah tercengang.
Pertanyaan itu menyeretnya kembali ke awal mula kejadian. Ajakan obrolan
anak-anak muda itu sudah tidak terdengar ramah di telinga Indah, malah
kedengarannya seperti ejekan yang berlebihan. Mati. Matilah dia. Mati kutu.
Mati gaya. Mati mampus. Mati beneran. Dan segala jenis mati yang bisa diulang
bolak-balik.
Mulutnya terbuka, lalu
tertutup lagi. Empat pasang mata memandangnya penuh harap. Sial, dalam hati
Indah menyumpah. Kenapa sih harus ketemu empat tuyul ini? Coba tadi tidak pakai
acara mampir di toko buku.
“Tentang... ehm...,” ujar
Indah linglung sambil memutar otak untuk mencari jalan keluar dari kemelut ini.
Wajahnya panik, seutuhnya panik. Senyum Indah tanpa cela, tapi degupan panik
jantungnya terdengar jelas. Sungguh, dia kelabakan. Bagaimana cara menjawab
pertanyaan yang terdengar tidak senonoh (baca: tidak sopan) di telinganya ini?
Tiba-tiba ponselnya bernyanyi.
Oh demi Tuhan, dia selamat!
Indah ingin mencium kaki siapa pun yang sedang meneleponnya. Moga-moga bukan salah
sambung. Moga-moga bukan penawaran kartu kredit. Moga-moga juga bukan penjual
asuransi.
Indah melirik skrin ponsel
dengan tidak sabar. Siska Yuanita. Nama itu berkedip-kedip sempurna. Si setan
alas, pikir Indah kesal, bad mood. Dari semua orang yang diharapkannya,
mengapa si kutil yang menelepon?
Tapi biar bagaimana, telepon
itu telah menyelamatkan nyawanya.
“Sori, ya,” kata Indah sopan
kepada empat orang penggemarnya, tanpa menunjukan gelagat panik tingkat
tinggi. “Ada telepon dari kakak kembarku,”
katanya.
Indah melangkah menjauh sambil
membuka ponsel clampshell-nya. Diam-diam, dia menoleh ke belakang. Empat
orang pemujanya telah berlalu. Biarpun dililit rasa frustrasi, Indah bersyukur.
Dia cukup beruntung karena dosa kolektifnya sebagai pengarang telah terampuni. Untuk
saat ini. Dan untuk selanjutnya dia harus benar-benar bekerja keras
menghasilkan novel kedua. Kalau tidak, percuma saja jadi pengarang!
“Halo?”
Kata-kata selanjutnya tidak
terdengar dengan baik karena diucapkan secepat pesawat luar angkasa tinggal
landas. Diucapkan dengan nada setajam pisau belati.
Kurang lebih begini: “Kamu...
tolol... di Jakarta... nggak dengar... Papa... ada... stroke... rumah
sakit... ke mana aja... ngelayap... ke mana-mana... dasar...”
Apa-apaan?! Mata Indah
membulat sengit. Sumpah, dia menarik kata-kata tadi tentang sembah sujud di
kaki Siska. Tapi sekarang bukan saatnya balas mengaum. Ada berita genting yang
harus diperhatikannya baik-baik. Maka mengabaikan sarkasme saudari kembarnya,
Indah terus mendengarkan biarpun jantungnya berdebar liar.
***
Rosi menutup telepon dengan hati galau. Barusan Indah menelepon, mengabarkan
bahwa ayah mereka terserang stroke hari ini. Kesepuluh jari tangan Rosi
gemetar hebat sehingga gagang telepon terjatuh keras di pesawatnya.
Di luar, terdengar suara
gonggongan anjing labrador hitam miliknya yang bernama Bubu. Tidak berhenti,
sambung-menyambung menjadi satu, seperti sedang kesurupan. Pikiran Rosi
tersungkur seketika ketika dia berjalan bergegas, melintasi ruangan menuju suara
tersebut. Gonggongan anjing yang ribut selalu membuatnya sedikit senewen.
Dia menyibak tirai, melongokkan
kepalanya di jendela. Tubuh besar Bubu hanya terlihat sebagian. Hanya sepasang
tungkai belakangnya yang kokoh serta ekornya yang tidak berhenti mengibas-ngibas
liar. Anjing itu sedang menandak-nandak, melompat-lompat, dan menyalak nyaring.
Tidak terdengar geraman galak dan ataupun gonggongan mengancam. Melihat dan
mendengar kondisi seperti ini, berarti Bubu dalam keadaan gembira.
Rosi berjalan keluar menuju
kebun.
Hari ini adalah hari pertama
awal bulan. Udara lembap, sedikit dingin, menerpa pipinya. Rosi berjinjit,
melewati beberapa bagian tanah basah yang terciprat air dari atap rumah. Hujan
mengguyur sedikit-sedikit semenjak kemarin. Suhu cuaca turun sedikit,
memberikan suasana alam yang kaku, keras, serta beku. Siang itu tidak terlalu
berangin, tapi daun-daun kering terlihat melayang tepat di ujung kaki Rosi.
Baguslah, pikir Rosi senang.
Bagus untuk bunga-bunganya. Bagus untuk bayi-bayi kesayangannya.
Rosi melewati pancang-pancang
kayu yang ditancapkan di tanah dengan hati-hati. Dia merasa kehangatan alami
memenuhi rongga dadanya. Rosi menoleh ke kiri dan kanan, ke sekelilingnya.
Tampaklah deretan bayi-bayi terindah sedunia, perdu yang dipenuhi daun-daun
segar dengan kuntum-kuntum mungil yang menyembah ke arah langit. American
rose. Rosi adalah petani bunga mawar. Persamaan nama dengan kecintaannya
kepada bunga ros merupakan pertanyaan yang mahapenting. Entah ini kebetulan
yang lucu atau bukan, Rosi tidak pernah tahu.
Perlahan, Rosi berjalan
berjinjit, menghindari pancang. Dia tidak ingin celananya terkait bilah bambu
lagi. Cukup sudah. Nyaris seluruh koleksi celananya dihiasi lubang dan tisikan
benang.
Gonggongan heboh Bubu semakin
jelas. Rosi mengusap dahi dengan punggung tangannya, mengembuskan napasnya
sedikit demi sedikit.
Di kebun, Bubu sedang
berlari-lari dalam lingkaran besar. Anjing itu menandak-nandak ribut seperti
tidak ada kesempatan lain untuk melakukannya. Di depannya berlari seorang gadis
muda sambil tertawa-tawa. Tubuhnya sekurus tiang bendera, setipis papan, dan
bertulang runcing. Gadis itu berambut lurus sebahu, berwarna hitam, tersiram
matahari pukul sepuluh pagi. Kulit wajahnya yang pucat tampak bersinar-sinar
diterpa hujan embun. Perempuan muda itu mengenakan celana kain hitam gombrong
yang juga belepotan lumpur dan kaus tanpa lengan yang terlihat dekil. Bibirnya
yang tipis terbuka lebar, mengalunkan tawa merdu hingga ke langit.
Rosi terpana sesaat. Bengong
di tempat. Tidak ada kata yang dapat ditemukan dalam kamus otaknya. Hatinya
tergelincir ke padang rumput berbunga, seperti dalam film Little House in
the Praire. Dia terpesona habis-habisan melihat pemandangan di depan
matanya.
Dharma, nama gadis itu. Dia
berlari-lari sambil menjerit-jerit bahagia, dikejar Bubu dan gonggongannya.
Dharma seperti bocah cilik dengan rambut dihiasi mahkota bunga sibuk bermain di
halaman. Membuatnya seakan-akan menjelma menjadi peri mungil bersayap yang
terbang berputar-putar di hamparan bunga-bunga mawar milik Rosi.
“Hei!” pekik Dharma. “Kena
kamu!”
Rosi tenggelam dalam rasa
takjub. Takjub akan dua perasaan yang sedang menjeratnya. Antara sedih dan
bahagia. Antara tidak percaya dan percaya. Antara berduka dan penuh harapan.
Antara terkejut dan merasa nyaman.
SYURRR!
Air deras mengalir keluar dari
slang yang teracung lurus dan langsung menyembur tepat mengenai dada Rosi.
Dharma berdiri tegak sambil tidak berhenti tertawa terbahak-bahak. Bubu
melompat-lompat ribut. Seringai lebar ala anjingnya seperti sedang mengejek
Rosi.
Selama sedetik sebelum air
menyerbu keluar, otak Rosi memberikan perintah refleks untuk berlari. Sialnya
Rosi hanya punya kesempatan untuk menjerit, tapi tidak sempat mengelak. Kakinya
terpaku mati di atas tanah, menciptakan sasaran empuk buat Dharma.
“AAAHHHHHHHH!!!”
***
“Ayahku kena stroke.”
Tangan Tanti berhenti di udara
sehingga nyaris menyenggol panci plastik mainan anak-anak yang bertumpuk-tumpuk
dari ukuran terkecil sampai yang terbesar.
“Apa katamu?” Pernyataan
sahabatnya mengejutkan Tanti dari lamunannya.
“Ayahku kena stroke,” ulang
Novera tenang.
“Kok bisa?” Sejenak Tanti
bertanya-tanya sendiri mengapa mulutnya menyemburkan komentar seperti itu. Itu pertanyaan
tolol. Tanti menggigit bibir cemas, berharap temannya tidak tersinggung dengan
pertanyaan yang keluar dari mulutnya tanpa dipikir panjang.
Tanpa terpengaruh reaksi
Tanti, Novera menggosok hidung sambil mengamati sepotong krayon kuning. Dalam
beberapa detik, terasa kekosongan menyelinap di ruangan kelas. Tanti menatap
sahabatnya dengan mata sedih dan prihatin mengenai pengumuman tersebut.
“Ya bisa saja. Namanya juga
penyakit. Datangnya bisa mendadak.”
Kelas mereka baru saja
berakhir. Mainan anak-anak berserakan di segala sudut. Buku-buku yang tadinya
terletak rapi di Sudut Baca, tampak tergeletak di karpet. Biasanya Novera dan
Tanti menghabiskan waktu sekitar sepuluh menit untuk membereskan ruangan
sebelum berdiskusi tentang persiapan kelas esok hari. Tapi sepertinya pekerjaan
itu bisa ditunda. Novera tidak terlihat gembira, tapi tampaknya dia juga tidak
ingin dikasihani dengan perhatian yang berlebihan.
“Jadi bagaimana?”
“Bagaimana apa?”
Tanti melanjutkan dengan suara
selembut burung merpati. “Bagaimana penyelesaiannya? Apa ayah kamu bakalan
tinggal di rumah sakit. Atau apa...” Kata-kata Tanti menguap, tidak tahu
bagaimana dia menyelesaikannya dengan baik. Gadis itu tahu, Novera tidak punya ibu
lagi. Ayahnya tinggal sendirian di rumahnya di Jakarta dengan tiga ekor kucing
Persia yang gendut dan malas-malas.
Novera menggeleng, mengangkat
bahu. Tidak terpengaruh kebingungan temannya, dia mencari kata-kata yang tepat.
“Mana mungkin tinggal di rumah sakit? Siapa yang sanggup bayar biayanya?
Paling-paling dia tetap tinggal di rumah.”
“Siapa yang akan merawat ayahmu?”
Novera mendesah. Pertanyaan
Tanti tergantung di udara.
“Ya, itulah...,” katanya
bingung bercampur gugup. Novera menopang dagu, menerawang, “...yang jadi
masalahnya.”
***
Aku masih berdiri di pojok kesayanganku. Saat ini Nung tidak berada di sofa
favoritnya, tentu saja. Kucing-kucing mengeong-ngeong memelas, mungkin
kelaparan karena sudah seharian Nung tidak berada di rumah ini. Kasihan juga
melihat mereka. Tapi aku yakin, Nung akan kembali besok. Kucing-kucing manja
itu pasti bisa bertahan. Aku tidak terlalu mengkhawatirkan mereka. Menurutku,
sebaiknya mereka juga diet.
Semburat cahaya kuning
menembus tirai jendela, menyorotkan bias keemasan ke dalam rumah. Nung pasti
akan pulang bersama keempat anak perempuannya. Empat anak perempuan kembarnya...
Betapa menyenangkan.
Kenangan-kenangan itu kembali.
Bagai hantu yang tidak mau pergi. Bagai putaran waktu yang mengkristal.
Aku tersenyum tipis. Rumah ini
akan kembali ramai.
©2006, Clara Ng