Prolog
Pintu Telah Terbuka
The Michigan States University, February 1996
LELAKI itu berjalan sambil mengetatkan jaket erat-erat di tubuh. Napasnya mengeluarkan asap putih yang bukan berasal dari rokok. Sementara telinganya membeku dan mati rasa. Dia bahkan tidak dapat bernapas normal.
Salju turun berhamburan tanpa henti sampai nyaris membutakan matanya. Di mana-mana yang terlihat hanyalah kapas-kapas putih melayang turun, berdempetan satu sama lain, sehingga tampak seperti daun-daun kecil runtuh dari langit.
Dulu, empat tahun yang lalu, ketika lelaki itu tiba pertama kali tiba di kota ini, salju selalu mampu membuatnya terpesona. Dia yang berasal dari negeri tropis di mana matahari selalu hangat bersinar, dapat terbius dengan pemandangan putih seperti ini. Dingin tidak lagi dapat dirasakan. Berjalan, berlari, dan berusaha menangkap butir-butir putih dilakukannya tanpa memedulikan sekeliling. Entah apakah orang-orang bule menganggapnya sebagai manusia tanpa masa kecil yang bahagia. Dia tidak peduli. Dia terlalu disekap perasaan takjub oleh pesona alam nan dahsyat.
Salah satu kegiatan istimewa yang ia lakukan pertama kali adalah mendongak ke langit, membuka mulut lebar-lebar, dan menatap salju menari-nari turun sebelum jatuh ke lidah. Dia mengecap rasa dingin yang lumer di sana.
Lalu datang musim dingin kedua. Dan ketiga. Dan keempat...
Setelah empat tahun, musim dingin tidak lagi menarik perhatian lelaki itu. Salju putih yang turun deras seperti hujan tidak lagi tampak cantik di matanya. Lelaki itu mengenal pengetahuan. Ternyata salju dapat membuat kecelakaan di jalan raya. Ternyata salju membuat hidup manusia menjadi lebih sulit. Ternyata setelah menyentuh tanah, salju menjadi berwarna kecokelatan karena kotor. Tidak ada bedanya seperti segumpal lumpur di pinggir trotoar.
Dan satu lagi... jangan tanyakan dinginnya.
Kekagumannya terhadap salju perlahan-lahan mencair seperti salju mencair oleh panasnya matahari musim semi. Musim favoritnya bukan lagi musim dingin. Tentu tidak. Baginya sekarang, musim dingin adalah musim muram yang menyimpan suasana kelam. Salju berwarna putih tidak sejujurnya putih. Sekarang ia tahu, putih bukanlah warna keindahan. Putih adalah warna pengkhianatan.
Lelaki itu menenggelamkan kedua tangannya yang dibalut sarung tangan tebal ke dalam kantong jaket dari kulit angsa. Berharap dengan mengerutkan tubuhnya seperti itu, udara dingin dapat sedikit dienyahkan. Beberapa butir salju menempel di kacamatanya, memperlihatkan setiap butir itu ternyata terukir dengan aneka bentuk indah. Bentuk yang tidak pernah sama satu dengan lainnya. Sama seperti cetakan jemari manusia.
Dia menoleh ke belakang. Mobilnya yang baru diparkir lima menit lalu telah penuh rinai salju. Malahan kaca depannya sudah tertutup rapat. Salju pasti sudah mengeras pada saat dia kembali, entah kapan. Mungkin pada saat fajar menjelang. Nanti dia harus menghabiskan waktunya mengorek-ngorek kaca depan dengan korekan khusus yang pasti dimiliki oleh setiap pemilik mobil di negeri ini. Lelaki itu mendengus lelah. Sebentuk asap melayang keluar dari mulut lalu menghilang, bersatu dengan angin malam.
Dia melirik jam tangannya. Pukul dua belas tengah malam. Lewat sebelas menit.
Sambil menggosok hidung yang penuh dengan cairan beku, lelaki itu semakin mengetatkan jaket. Tas ransel terasa sedikit berat di punggungnya, tapi itu tidak seberapa dibandingkan dengan udara dingin yang menikam tulang. Dia harus segera mencapai tempat tujuan. Di sana temperatur hangat dan secangkir kopi nikmat dapat membuat otak yang setengah beku dapat kembali mencair dan bekerja normal.
Lelaki itu berjalan semakin bergegas. Sementara salju turun semakin deras.
***
"Naeva!"
Mata gadis itu berair setelah berjam-jam menatap layar monitor. Mungkin dia sudah setengah buta dan mengalami kesulitan fokus. Dia tidak tahu. Tapi telinganya bekerja baik. Di tengah-tengah keheningan perpustakaan kampus mahaluas, suara panggilan yang nyaris menyerupai bisikan sedikit mengagetkannya.
Naeva mendongak, memecahkan perhatiannya dari layar komputer.
Teman lelakinya berjalan menghampiri. Terlihat seperti mammoth karena tubuhnya dibungkus jaket bulu angsa yang luar biasa tebal. Kehangatan main library kampus seakan-akan tidak sanggup menolong menaikkan suhu tubuhnya. Di tangan kanan, dia menggenggam cangkir styrofoam yang pasti isinya kopi ala vending mechine. Pipi yang biasanya berwarna cokelat tua kali ini tampak memerah. Adam mencabut topi rajutan yang sedari tadi mendekam di kepala. Rambut hitam agak panjang menjadi berantakan tidak keruan. Sebagian besar berdiri tegak ke atas, melayang-layang seperti kapas tertiup angin. Pasti diakibatkan gesekan statis yang terjadi antara topi rajutan dengan udara yang luar biasa kering. Sepasang matanya terlihat merah seperti kurang tidur.
Sebagai langganan tetap di gedung ini, Naeva tidak merasa heran. Di kampus, siapa pun yang berkutat di perpustakaan raksasa pada jam-jam setan seperti sekarang ini mempunyai mata dengan spesifikasi khusus; merah, bengkak, berair. Seperti mata pencandu alkohol. Atau penderita sakit jiwa. Atau bahkan, orang sedang sakaw.
"Di luar turun salju?" tanya Naeva basa-basi sambil memutar tubuhnya di kursi sehingga mereka berhadapan. Tengkuknya terasa sangat kaku. Mungkin dia perlu menempelkan koyo di sana. Awal bulan kemarin ibunya menitip selusin koyo melalui teman yang baru saja kembali dari Indonesia.
Adam menarik kursi dan duduk di terminal komputer di sebelahnya.
"Bukan hanya salju," kata Adam sambil menggosok hidung yang merah berair. "Badai."
"Persis seperti kata ramalan cuaca. Hhh... " Naeva menopang dagu, memerhatikan Adam melepaskan sarung tangan wol berwarna hijau lumut. "Tumben datang jam segini. Telat banget. Biasanya sedari sore," katanya lagi.
"Barusan dari tempat lain. Biasa, riset."
Naeva mengembalikan perhatiannya kepada buku-buku tebal di depannya. Hm, halaman berapa tadi?
"Ujian apa?"
Naeva menggosok matanya yang perih. Kata-kata yang tercetak di buku terlihat morat-marit. "Bukan ujian. Biasalah. Research paper di tengah-tengah semester. Sinting."
"Kelas apa?"
"Jurnalism 720H. Kelas honor."
Teman lelakinya mendengus. "Terdengar horor di telingaku."
Naeva melipat tangan di dada, mengangguk lelah.
"Kasihan sekali."
Sebuah buku terjatuh di salah satu sudut terminal. Walaupun tidak menimbulkan kehebohan yang parah, suara benda jatuh itu terdengar membahana di ruangan yang hening. Tidak ada seorang pun segera bereaksi. Penjaga perpustakaan bergerak keluar dari booth-nya dan merapikan buku-buku tersebut.
"Sedang mengerjakan apa sekarang, Dam?"
Adam berhenti menggoyang-goyangkan mouse. "Aku ambil kelas Religious Studies 750. Core requirement untuk kelas lanjutan. Aku masih punya sekitar sepuluh kredit untuk kelas elective. Sekalian ambil History 560."
"History 560?"
Naeva melirik jam yang tergantung di dinding perpustakaan. Lima menit telah berlalu lagi. Buku-buku yang berserakan di sekeliling kakinya mulai terasa mengganggu. Mind, Self, and Society. Language and Social Knowledge. Stories We Live By. Betrayal of Trust. Kursi komputer berputar dan Naeva menangkap bayangannya pada monitor di terminal belakang. Samar-samar terlihat siluet wajah yang berantakan dan kurang cuci muka.
"Suka cerita-cerita mitologi?"
"Mitologi apa?" Sekali lagi, Naeva mengucek matanya. Apa yang dia lakukan di sini, tengah malam buta mengetik research paper? Seharusnya dia mendengarkan kata-kata Steve Lim, pacarnya yang warga negara Singapura. "Jangan mengambil kelas terlalu padat, apalagi kelas honor. Sekolah akan membuatnya mati muda."
Adam membungkuk, menarik ritsleting tas ransel. Dari dalam, dia mengeluarkan diktat tebal. Sebelum menyerahkan kepada Naeva, Adam membuka kacamata dan mengelapnya hati-hati.
Pada halaman depan, tertera sederetan huruf... atau gambar... yang terlihat sangat tidak lazim.
"Tulisan apa itu?" tanya Naeva tertarik. Lupakan sejenak research paper sialan. Lima menit istirahat tidak akan membuat gelar Master of Arts yang akan diraihnya pada musim semi tahun depan akan tertunda.
Hati-hati Adam membuka diktat tersebut. "Tulisan ini namanya abjad cuneiform atau kuneiform."
Naeva menyipitkan matanya. "Kun... apa?"
"Kuneiformis. Tulisan bangsa Mesopotamia kuno. Seperti huruf-huruf alfabet yang ada sekarang, hanya saja berbeda. Lebih kompleks daripada hieroglif, alfabetnya orang-orang Mesir kuno. Kau pasti pernah dengar yang itu."
"Hmmm..." Naeva berdiri dan membungkuk di samping terminal komputer Adam. "Kau bisa membaca tulisan itu?" tanyanya tidak percaya.
"Sedikit-sedikit. Kalau tidak, bagaimana mungkin aku dapat meraih gelar Ph.D nanti?"
"Kau? Ph.D? Huh, sombongnya. Gelar master saja belum selesai."
"Ph.D..." Adam mendesah. "Masa tidak tahu? Permanent Head Damage."
Naeva terperangah lalu tertawa. "Hahaha. Lucu."
"Perlu aku lanjutkan?"
"Be my guest, Sir."
Adam menatap Naeva sejenak lalu meneruskan omongannya, "Lihat yang ini! Ini adalah tulisan di clay tablet yang berhasil ditemukan oleh para ilmuwan. Tulisan ini adalah salah satu sastra tertua di dunia, ditulis beribu-ribu tahun sebelum masehi. Namanya Epic Gilgamesh. Pernah dengar?"
Naeva menggeleng malas. "Epik Bilbahes... apa? Cepat ngomong. Sebelum aku bosan dengan topik ini."
"Epik Gilgamesh. Kujamin kau tidak akan pernah bosan mendengar mitos-mitos ini. Apalagi mitos bangsa Mesopotamia. Banyak clay tablet yang berhasil ditemukan di---"
"Sori memotong. Bangsa apa yang kauceritakan sedari tadi?"
"Bangsa Mesopotamia. Gabungan keturunan bangsa Sumeria dan Babylonia. Beribu-ribu tahun yang lalu mereka hidup di antara Sungai Tigris dan Sungai Eufrat di daerah sangat subur bernama Mesopotamia. Sekarang daerah itu adalah daerah selatan dan tengah dari negara Irak dan Kuwait."
Naeva mengangguk-angguk. "Ohh..."
"Mereka adalah salah satu bangsa pertama yang menetap setelah beribu-ribu tahun hidup sebagai bangsa nomaden. Mereka menetap karena akhirnya dapat mengontrol tanaman dan binatang untuk diolah menjadi bahan makanan. Mereka menggembalakan domba serta ternak lainnya, bercocok tanam, mendirikan kota-kota, dan membuat sistem pemerintahan yang mengatur kehidupan. Daerah ini akhirnya menjadi 'Buaian Peradaban' atau istilah bahasa Inggrisnya cradle of civilization."
Naeva mengangguk-angguk lagi. "Oohh..."
"Ooh..., bulet. Jangan kebanyakan oh, cobain ah. Anyway, clay tablet yang memuat cerita-cerita mitologi banyak yang hancur dan rusak sehingga banyak cerita yang tidak atau kurang lengkap. Sayang sekali. Tapi, coba lihat yang ini, Naeva. Tulisan ini kutemukan di salah satu toko barang-barang antik di downtown tadi sore."
Adam membuka diktat tebal yang kelihatan lusuh dan tua di depan Naeva. Dengan hati-hati tangannya menyisiri bagian tertentu pada halaman awal.
Naeva mendelik. "Ya? Bisa tolong terjemahkan artinya? Aku buta huruf."
Adam mulai membaca perlahan-lahan. "Di sini tertulis cerita tentang penciptaan dan kelahiran monster pembawa kericuhan di Negeri-Atas, alias dunia dewa-dewi. Monster termuda, oleh sebab-musabab yang kacau-balau jatuh cinta pada seorang pendeta. Raja dewa memutuskan ia harus mati dan hidup kembali tujuh ribu tahun kemudian untuk menggenapi nasib dan cintanya yang abadi. Sekarang sudah nyaris tahun 2000, Naeva."
Naeva menautkan dahinya. "He-eh."
Adam meneguk kopi kental dari cangkir styrofoam. Kopi itu rasanya tidak enak di lidah. Mukanya mengernyit kecut. "He-eh? Cuma he-eh? Begitu aja reaksimu?"
Naeva mengerenyitkan keningnya semakin dalam. Pukul satu kurang lima belas menit. Diskusi yang kurang menarik pada saat ini.
"Iya deh. Bagaimana kalau..." Naeva mengambil napas dalam-dalam. Menggaruk-garuk pipinya. "OH MY GOD! YOU'VE FOUND IT! HEBAT, GILA, MENAKJUBKAN! EUREKA!"
Adam melirik sewot. Mood-nya yang sudah jelek gara-gara kopi menjadi semakin memburuk. Naeve buru-buru menghilangkan cengiran lebarnya.
"Oke deh, Pak. Peraturan nomor satu: dilarang bercanda di perpustakaan," gumam Naeva. "Peraturan nomor dua: no nonsense. Hmm... Sekarang nyaris pukul satu. Aku harus kembali bekerja sebelum matahari bersinar. Salam cinta buat monstermu."
Naeva berjalan kembali ke terminal dan mulai mengetik beberapa kalimat. Adam mengembalikan perhatiannya ke arah monitor
"Silakan hitung."
Naeva mendongak. Air mukanya memancarkan rasa heran. "Hitung apa lagi? Aku bukan mahasiswi matematika. Aku tidak kenal angka, Sayang. Duniaku adalah alfabet dan sensasi. Jurnalism, begitu," katanya sinis.
"Lima ribu dan dua ribu berjumlah tujuh ribu."
Naeva membesarkan kedua matanya sengaja. "Wow, Adam. Sangat ruwet perhitungan matematikanya. Hmmm..."
"Jangan sinis. Dengarkan dulu kata-kataku. Maksudku, berdasarkan clay tablet, beribu-ribu tahun telah berlalu. Berarti---"
"Berarti manusia sudah lebih canggih? Komputer sudah ditemukan? Bill Gates makin kaya? Harga ponsel semakin murah?"
Adam menulikan telinganya. "...kalau tulisan ini benar maka sekaranglah saatnya untuk menggenapi ramalan itu."
Naeva mendengus. "Ya ampun. Kayaknya ada yang kurang tidur---"
"Dan yang lebih gila lagi, coba kau baca kalimat ini." Adam menuding deretan alfabet gambar yang sangat asing di mata Naeva.
Naeva memutar bola matanya.
"Tertulis tentang monster yang terlahir kembali sebagai manusia."
"O my God. Sangat... sangat..." Naeva kehilangan kata-kata. "Sangat dalam." Dia memalingkan wajah, berusaha melupakan percakapan luar biasa yang terjadi pada pukul satu pagi dan kembali bekerja di terminal.
Adam tidak mendengarkan. Dia merapatkan bibir, lalu mengambil sisa tumpukan kertas-kertas lainnya dari tas ransel. Diletakannya semua kertas itu di samping meja terminal dengan rapi.
Di luar salju turun semakin deras. Naeva tidak menyadari bahwa percakapannya dengan Adam bukanlah akhir dari segalanya.
©2006, Clara Ng