Home
Biography
Books
News & Events
Sekilas Isi
Indiana Lesmana
E-mail
Links
Join Clara Ng's Books in Facebook
Ayo Isi Buku Tamu




Pics:

www.flickr.com



Lengkapi Koleksi Anda:
www.flickr.com
This is a Flickr badge showing photos in a set called SFTHStories From The Heart. Make your own badge here.
Stories From The Heart










Bagi Anda yang berminat mengundang Clara Ng sebagai tamu di sekolah/universitas, untuk acara talkshow/diskusi buku/jumpa pengarang, silakan kirim e-mail ke:
indiana_lesmana@yahoo.com atau fiksi@gramedia.com

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Monday, August 22, 2005
Sekilas Isi - The (Un)Reality Show


Prolog

MATAHARI belum lagi menginjak bubungan langit ketika tampak beberapa orang sedang duduk berhadap-hadapan di sebuah ruangan. Wajah-wajah mereka berkerut tapi terkadang tawa mereka yang meledak terdengar sampai ke ujung lorong. Tim kreatif ToP TV atau disingkat menjadi TPTV sedang mengadakan rapat tahunan untuk membahas acara baru yang akan ditayangkan di program tahunan mereka.
Mereka mencari ide acara yang dapat meledak.
Acara yang bisa membuat heboh habis-habisan.
Harus kreatif, orisinal, tidak boleh menjiplak.
"Alaah," terdengar suara melecehkan disertai keresek-keresek kertas yang dibolak-balik. "Zaman sekarang, sedikit menyontek di sana-sini juga tidak apa-apa."
Ini tadi kata Indra, sang bos, yang mengepalai departemen kreatif selama tiga tahun belakangan ini. Dari tangannya sudah lahir beberapa acara yang membuat namanya menjadi pembicaraan favorit di kalangan para headhunter. Memang idenya selalu hebat dan membuat banyak staf TPTV kelabakan karena besarnya antusiasme penonton TV terhadap program yang diciptakannya.
Tapi sekarang Indra sedang sakit kepala. Dia sudah pusing karena mendapat tekanan bertubi-tubi dari dewan direksi TPTV. Bos-bos besar itu semakin menuntut Indra agar terus-terusan menciptakan program megabrilian, yang tidak hanya menaikkan rating, tapi juga menaikkan citra ToP TV.
"Ada program di Amerika, Bos," kata Jason, yang memakai dasi bergambar Tweety. "Namanya American Idol."
"Tidak bisa!" sergah Indra cemberut. "RCTI sudah membeli hak siarnya. Kita terlambat."
"Tapi belum dicontek sama orang lain, kan?" kata Jason bersemangat, tidak mau kalah. "Bagaimana kalau kita juga membuat program yang kurang-lebih sama? Pakai nama program yang berbeda, ubah sana-sini, dan langsung on air! Pasti RCTI kelabakan kalau ketahuan acaranya ditantang sama kita."
"Itu namanya bukan kreatif, tapi meniru."
"Lho, katanya tadi menyontek sedikit juga tidak apa-apa."
"Benar juga sih…"
"Nah, begitu!" seru Jason. Dia memajukkan duduknya. "Kita pakai nama program yang berbeda… seperti… hmmm…, Adicipta Festival Indonesia… atau singkatannya… hmm…, AFI! Kita ciptakan lagu jingle yang oke, yang bakalan menjadi hit di tengah-tengah masyarakat. Kita masukkan anak-anak muda yang energik. Aku mau semua bisa menyanyikan lagu mars AFI, ya tukang bajaj, anak kecil, sampai ibu-ibu. Lalu kita adakan acaranya di Puncak Pass, tempat dugem pas long weekend. Mungkin nanti tema lagunya adalah Menuju Puncak!"
Ruangan menjadi senyap.
"Bagaimana? Oke tidak?" tanya Jason bersemangat.
"Bukannya begitu…" Indra menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu suaranya mulai meninggi. "Bukannya menghina idemu, tapi setahuku, Indosiar sudah mengadakan acara yang persis kausebutkan tadi. Namanya Akademi Fantasi Indosiar! Haloooo? Kau berada di mana, Jason? Tok, tok, tok. Bangun!"
Jason kembali terenyak di kursinya. Dia menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti menyontek-sedikit-tidak-apa-apa. Ruangan jadi tambah senyap.
"Hei, aku tahu!" seru Sisca tiba-tiba. "Belakangan ada program yang sedang diikuti oleh banyak stasiun swasta lain. Tapi kupikir, kita bisa melakukannya dengan cara 'kita'. Pasti bakalan ngetop dan tidak usah takut disebut ikut-ikutan."
Semua mata sekarang memandang Sisca.
Setelah yakin semua sedang antusias mendengarkan perkataannya, Sisca melanjutkan. "Yang sering dilakukan oleh stasiun TV sekarang adalah Reality Show. Tahu kan, merekam reaksi orang-orang yang tidak sadar dirinya direkam di TV? Nah, yang akan kita lakukan adalah sebaliknya. Kita akan merekam orang-orang yang sadar dan merelakan dirinya direkam oleh TV. Tapi yang hebatnya, kita tidak akan mengatur jalannya cerita berdasarkan skrip cerita. Kita biarkan terjadi apa adanya."
Sisca terdiam sejenak untuk menarik napas. Indra menganggukkan kepalanya menandakan bahwa dia mengerti apa yang Sisca katakan.
"Nah, kita akan mengumpulkan beberapa orang yang biasa-biasa saja, tanpa audisi, secara acak, dan tanpa paksaan. Mereka akan tinggal di dalam satu rumah dan kita berikan mereka tugas yang harus mereka selesaikan dalam satu minggu. Tugas itu akan kita sebut sebagai 'tugas tantangan'. Kita biarkan mereka berinteraksi satu sama lain lalu kita rekam secara LIVE 24 jam."
Indra membelai-belai dagunya. Terdengar beberapa gumaman rendah sesama mereka.
"Apakah para pemirsa TV boleh ikut bergabung dalam acara kita?"
Sisca mengangguk. "Tentu saja. Akan ada hadiah yang diundi setiap minggunya. Bayangkan, kita berikan hadiahnya satu miliar! Pemirsa TV melalui poling SMS harus memilih salah satu tokoh favoritnya di TV setiap minggu."
"Satu orang favorit?" tanya Indra membeo.
"Ya."
"Oke, lanjutkan…"
"Semua orang-orang yang tinggal dalam rumah tersebut tidak usah membayar apa pun. Biaya listrik, air, bahkan telepon semuanya ditanggung oleh kita. Kegiatan mereka sehari-hari pun tidak boleh dipotong slot iklan maupun ucapan-ucapan yang berasal dari skrip. Semua harus alami dan apa adanya."
"Oooh, seperti film The Truman Show?" seru Indra, akhirnya gembira berhasil bangkit dari kuburnya, eh maksudnya, kebengongannya.
Sisca mengangguk lalu menggeleng. "Ya dan tidak. Dalam Truman Show si tokoh utama tidak sadar bahwa dirinya direkam oleh TV. Dalam program ini, kedelapan orang tersebut sadar bahwa dirinya sedang ditonton oleh jutaan penduduk Indonesia."
"Apa?" tanya Indra membelalak. "Kaubilang delapan?"
"Ya, empat lelaki dan empat perempuan. Pada awalnya tidak ada hubungan keluarga maupun persahabatan. Tidak saling mengenal. Tinggal dalam satu rumah bersama-sama. Kita lihat apa yang terjadi dalam tujuh minggu pertama dan bagaimana mereka menyelesaikan tujuh tugas tantangannya."
"Rada-rada mirip reality show yang diputar di Amerika."
"Kan katanya menyontek sedikit tidak apa-apa…" Sisca terkekeh. "Tidak banyak perbedaan sih. Hanya saja kan ini dilakukan di Indonesia. Yang sudah muak dengan reality show Amerika bisa nonton reality show ala TPTV."
"Hmmm…" Jason menggumam perlahan. "Kedengarannya sih lumayan oke!"
"Yup, setuju," seru Daisy bersemangat.
Sisca menghela napas dalam-dalam. Dadanya menggelembung bangga. Senyumnya mengembang dari ujung ke ujung.
"Bagaimana dengan pekerjaan dan kehidupan mereka?"
"Inilah serunya. Mereka tidak usah bekerja karena hidup mereka dibayar oleh perusahaan TV. Siapa pun yang mempunyai tanggungan atau keluarga di luar hidup mereka, maka kita pun akan menanggungnya. Apabila program ini sudah berakhir, mereka akan kita tempatkan kembali bekerja di perusahaan yang membutuhkan mereka atau perusahaan yang lama. Ini harus menjadi jaminan dari pihak kita."
"Bagaimana dengan nama programnya?" Yang ini Daisy bertanya. Matanya yang sudah besar sedang membelalak. Ciri khasnya kalau dia sedang bersemangat.
"Namanya…," kata Indra menyambar. Untuk yang ini, dia telah siap. "Namanya The (Un)Reality Show."
"Apa?!"
Mulut Jason terbuka sedikit. Air mukanya menunjukan kebingungan. "The (Un)Reality Show? Apa artinya?"
"Suatu pertunjukan realitas yang bukan realitas. Ini adalah acara balasan dari acara-acara reality show yang sering dilakukan oleh TV swasta lainnya, termasuk reality show yang tadi dikatakan sering diputar di Amerika."
Ruangan kembali terdiam. Masing-masing mengerutkan keningnya.
"Pertunjukan realitas yang bukan realitas?" kata Daisy, seperti mengeja. "Kedengarannya…. hmmm…. kedengarannya 'dalam' sekali."
"Dalam? Sumur kali! Menurutku judulnya keren banget."
"Setuju, setuju!"
Seketika itu juga, ruangan penuh dengan senyum-senyum yang bertebaran. Ini akan menjadi program yang bakal jadi sensasi se-Indonesia. Sudah terbayang bonus dan limpahan materi yang bertaburan untuk para tim kreatif.
Untuk Sisca, sebentar lagi jabatan dan gajinya tentu akan naik.
Hidup TV! Hidup dunia hiburan!


ACT ONE
"Here Come the Boys!"

PRIMUS berjalan dengan langkah-langkah gagah di trotoar sepanjang Jalan Sudirman. Banyak orang berkeliaran pada jam-jam makan siang seperti ini. Hari ini adalah hari yang benar-benar menyebalkan. A hell day. Hari sialan.
Hmm… kalau dipikir-pikir lagi, hari-hari Primus isinya memang hari-hari sialan.
Seorang gadis melirik ke arahnya, lalu dengan kecepatan tinggi, kepala gadis itu menoleh dan menatapnya seperti melihat alien dari planet Mars. Walaupun memunggungi gadis itu, Primus tahu bahwa dia sedang dipelototi habis-habisan.
Ah, brengsek. Kenapa gadis-gadis tidak bisa membiarkan dirinya sendirian.
Primus tahu dia ganteng. Dia sadar sesadar-sadarnya bahwa hidupnya berturut-turut bermula dari bayi yang imut-imut, balita yang lucu, anak yang manis, remaja yang digila-gilai oleh teman-teman ceweknya, dan akhirnya pria dewasa yang sangat menggairahkan. Bagaimana tidak? Primus tinggi, gagah, dan wajahnya membuat perempuan mana pun merasa grogi kalau ditatap olehnya.
Bahkan lelaki pun bisa terpesona. Bayangkan, lelaki! Tentu saja lelaki yang "istimewa".
Ya Tuhan, betapa membosankannya. Dia tidak bisa menatap si pemilik wajah yang berkelamin perempuan (dan beberapa lelaki yang "istimewa" itu) tanpa membuat si pemilik berkeringat.
Ehm, kalau dipikir-pikir ada juga satu perempuan yang tidak kena masalah kalau ditatap olehnya. Dan perempuan itu adalah ibunya.
Sialan.
Dia berhenti di depan lampu penerangan jalan. Dari ujung matanya dia sudah tahu, banyak penumpang di bus yang lewat di depannya sedang asyik memelototinya. Terdengar sedikit teriakan, "Gila, Brad Pitt datang ke Indonesia?!"
Rasanya dia ingin membenturkan kepalanya di tiang listrik sebelah sana.
Stupid. Stupid life.
Siapa yang bisa mengerti isi hatinya sekarang? Bagaimana cara menceritakan semua yang dia rasakan?
Bos di kantornya jatuh hati kepadanya. Lalu sekretaris bos juga kalau ada kesempatan selalu pamer seperti burung merak. Belum lagi para operator telepon dan staf-staf cewek lain. Bahkan perempuan-perempuan yang sudah bersuami dan punya anak-anak batita jatuh dalam pesonanya. Lalu ada lagi staf keuangan yang suka main mata… Brrr! Primus merinding! Astaga…!
Tangannya memain-mainkan ujung dasinya yang tadi kena cipratan saus tomat. Ini gara-gara sewaktu makan siang, Melani senewen berdekat-dekatan dengannya. Selain tidak memencet sachet saus tomat dengan baik dan benar, jari-jari tangan gadis itu gemetaran. Mungkin Primus duduk terlalu dekat dengannya. Jadilah saus itu muncrat melewati meja dan mendarat persis di dasinya.
Hebat. Tembakan yang hebat.
Seharusnya Tuhan juga tidak usah menganugerahkan sifat supel dan ramah itu kepada Primus. Jadi hidupnya seperti ini. Berantakan habis-habisan. Sudah ganteng, auranya sensual lagi. Siapa yang bisa mengalahkan hal itu?
Primus menggeleng-gelengkan kepalanya, seakan sedang mengusir pening yang hinggap di kepala.
"Aku benar-benar perlu liburan panjang," keluhnya kepada dirinya sendiri.


"Primus, ada surat"
Primus mengangkat wajahnya. Lindsay, sekretaris bos, sedang berdiri di depannya dan menyodorkan surat dengan gaya centil. Terpaksa Primus mengambil surat yang sedang disodorkan gadis itu sambil tersenyum. Dia ingin melompati acara senyum-senyuman ini, tapi bibirnya tidak bisa ditahan untuk mengembangkan senyuman. Dalam hati dia tahu, pasti senyumannya maut. Kalau tidak, bagaimana mungkin mata Lindsay berbinar-binar seperti dialiri listrik ribuan watt.
Primus melepaskan tatapannya dari tatapan Lindsay dan membolak-balik amplop putih panjang di tangannya. Di pojok kiri depan ada logo TPTV, stasiun TV swasta raksasa di Indonesia. Wow. Ada apa ini? Mengapa studio TPTV mengirimkan surat kepadanya? Dia tidak merasa mengirim surat lamaran apa pun ke sana.
Kepala Lindsay terulur, melewati meja Primus. "Apaan tuh?" tanyanya sumringah.
"Hmm…" Primus menggumam. "Kelihatannya dari---"
"Woow! Dari TPTV!" Lindsay melompat dan dalam sepersekian detik, dia sudah berada tepat di belakang tubuh Primus.
Di balik meja.
Primus menoleh ke arah Lindsay dengan tatapan terganggu. Yang sedang ditatap kelihatannya tidak merasakan apa-apa, apalagi merasa bersalah. "Cepat, buka!" seru gadis itu dengan semangat berapi-api.
Primus tidak merasa harus membuka amplop itu dengan cepat.
"Dari TPTV! Wow, mungkin mereka memanggilmu untuk menjadi aktor di salah satu sinetron mereka. Atau mungkin jadi presenter. Kau cocok…"
"Lindsay, jangan teriak-teriak di dekat telingaku. Bisa budek."
"…kataku, kau cocok jadi presenter daripada aktor di sinetron. Lagi pula…"
"Siapa yang cocok jadi presenter?" Tiba-tiba kepala Dewi, Manajer Personalia dan Administrasi muncul dari balik ruangan Primus. Rambutnya yang keriting jatuh terjurai ke bahunya.
"Ini," seru Lindsay dengan bersemangat. "Ini, Primus diminta oleh TPTV menjadi presenter acara mereka."
"WOOOOW! Keren!" jerit Dewi bersemangat. "Presenter acara apa? Acara nyanyi seperti Indonesian Idol itu, ya? Atau presenter acara masak? Atau presenter acara esek-esek?"
"Apaan sih esek-esek, Wi?"
"Itu, acara tujuh belas tahun ke atas," kata Dewi sambil mengedipkan matanya. Dia sekarang ikut-ikutan melompat masuk ke ruangan Primus. Lalu seperti Tarzan, dia berteriak, "Haloo, semuanya…! Primus mau jadi presenter di TPTV!"
Bisa ditebak, yang melompat berdiri adalah gadis-gadis LCB---Lajang, Cerdas, dan Buas. Tiga dari lima staf di bagian departemen Primus, Departemen Marketing adalah perempuan. Mereka berparas manis, bertubuh kurus seperti papan, dan luar biasa smart. Sekarang semuanya, Chyntia, Mega, dan Rani, berdiri berdesak-desakan di depan meja Primus.
Primus nyaris pingsan melihat pemandangan seperti itu. Surat itu hampir tidak jadi dibuka. Tiba-tiba ruangannya terasa sangat gerah.
"Buruan buka suratnya!"
Dengan cepat Primus merobek ujung surat itu dan membacanya dengan cepat. Hmmm… tujuh minggu, tinggal bersama di rumah besar, bla… bla… bla…. tidak perlu bayar biaya listrik, air, dan lain-lain, plus gaji. WHAT?! Gaji??? Bla… bla… bla… bonus akhir program, uang saku, kulkas penuh dengan berbagai pilihan makanan, bla… bla… bla… dan sahabat-sahabat baru.
Cepat-cepat Primus mengucapkan doa singkat di dalam hatinya. Semoga sahabat-sahabat barunya itu kebanyakan berkelamin lelaki.
"Bagaimana, Say?" tanya Mega manja. "Kapan kita-kita ditraktir?"
"Huh?" Primus mendongakkan kepalanya. Matanya yang sangat indah itu berkedip. Mega nyaris semaput melihatnya. "Buat apa traktir-traktiran segala?"
"Kan kau bakalan jadi presenter? Pekerjaan baru, gaji baru. Pasti hebat."
Ini sih bukan pekerjaan, pikir Primus sambil termangu. TPTV tidak meminta dia untuk melakukan sesuatu. TPTV hanya meminta dia melanjutkan kehidupannya saja. Jadi, apanya yang hebat?
Tapi… oke, jujur saja. Bayarannya memang menggiurkan. Dengan penginapan gratis berikut segala keperluan pribadinya. Kelihatannya menarik juga.
"Ada apa ramai-ramai di sini? Ada yang ulang tahun? Oooo…, Primus ulang tahun, ya?" Tiba-tiba Sandy muncul dari balik ruangan. Dia bergegas masuk seperti lokomotif menderu memasuki gerbong.
Primus menghela napas. Here we go again…
Trriiing. Teleponnya berdering. Primus mengangkat gagang telepon dengan ogah-ogahan. "Halo?" sapanya.
"Primus, kenapa cewek-cewek itu semuanya ada di depan mejamu?! Beritahu mereka bahwa jam ngegosip sudah selesai. Saatnya untuk kembali bekerja!" Suara Patricia, sang bos, menggelegar ketus di gagang telepon.
O-oh.
Primus meletakkan gagang telepon dengan tangan yang dingin. Baiklah, sudah cukup hari-harinya dipermainkan dengan tidak senonoh. Saatnya untuk menghilang dari kehidupan gila seperti ini. Gadis-gadis ini bisa mengganggu kesehatan mentalnya.
Sementara itu, teman-temannya masih bergerombol di depan mejanya. Mereka bercakap-cakap dengan suara lengkingan khas cewek-cewek masa kini.
Dia akan pergi. Jelasnya, Primus akan melarikan diri dari kehidupan ini.
Tunggu. Dahinya berkerut. Bukan, ini namanya bukan melarikan diri. Dia bukan lelaki pengecut. Primus lelaki yang gagah perkasa plus gentle.
"Siapa yang nelepon, Say?"
"Kalau sudah ngetop, ingat-ingat Chyntia ya."
"Jangan lupa kenalin dengan yang keren-keren di sana sama kita-kita… hihihi…."
Primus ingin menutup telinga dengan kedua tangannya. Ya ampun! Dia menyerah, bahkan sebelum ronde penghabisan. Kelihatannya dia memang sedang melarikan diri.



Richard lama memandangi surat itu. Tatapannya dalam dan dingin. Itu memang tatapan yang sering dilakukannya.
Dapat gaji dan tempat tinggal gratis?
Jaminan ditempatkan bekerja setelah program berakhir?
Yeesss!
Ini penawaran yang luar biasa. Setelah bolak-balik setengah mati mencari kerja, surat ini seperti bintang yang jatuh dari langit. Tentu dia akan menyetujui tawaran ini. Orang sinting mana yang akan menolaknya?
Dahinya berkerut ketika membaca kata-kata tujuh minggu. Berapa hari itu? Empat puluh sembilan hari… Bayangkan. Apakah dia sanggup? Dia membayangkan seluruh rumah yang dipenuhi kamera di sana-sini (tentu dengan perkecualian kamar mandi). Lalu ada teman-teman lainnya yang bergabung dan para pemirsa yang menontonnya dari seluruh penjuru provinsi di Indonesia. Apakah nanti ada yang bakal mengetahui masa lalunya?
Richard membuang puntung rokoknya ke comberan kotor di jalanan. Kamera? Teman-teman? Penonton televisi? Ini masalah kecil. Dia pernah menghadapi masalah yang lebih besar daripada semua ini. Tentu dia dapat mengatasinya.
Matahari bersinar sangat terik ketika Richard menyetop bus yang lewat di depannya. Soal masa lalunya, dia percaya semuanya telah berlalu dan terkubur rapat-rapat. Dia adalah manusia baru yang penuh harapan akan masa depan. Masa depan yang sangat menantang.
Ketika Richard masuk ke dalam bus, dia yakin bahwa dia siap menghadapi pertunjukan ini.



Jodi berlari-lari kecil menuju mobilnya. Dilemparnya sebuah tas beroda langsung ke bagasi.
Baru saja dia berbalik hendak mengambil sebuah tas kanvas lagi, matanya langsung menyambar pemandangan indah. Seorang gadis muda yang tentu saja cantik dan ehm… seksi, pastilah seorang mahasiswi, sedang berjalan di trotoar depan rumahnya.
"Hai!" sapa Jodi dengan gaya. Tangannya melambai.
Gadis itu tidak menoleh. Malah dia berbelok di tikungan.
Jantung Jodi rasanya mau merosot ke dalam perutnya. Benar-benar kampret! Kenapa sih dengan dirinya? Apakah tubuhnya memancarkan aura penolak cewek? Kenapa gadis-gadis ogah berdekatan dengannya, bahkan dalam jarak dua meter pun?
Ini adalah bulan-bulan sial. Sudah lama Jodi tidak berkencan, tidak bisa merasakan kenikmatan berdekatan dengan gadis-gadis.
Ketika Jodi membaca surat yang dikirim dari TPTV, pikirannya langsung terbang kepada rumah yang berisi penuh dengan gadis-gadis cantik berbikini. Dunia harem. Mungkin dia terlalu membesar-besarkan, tapi masa bodoh. Siapa yang peduli?
Bayangkan, setelah berminggu-minggu dia nyaris mati kekeringan karena dahaga, tiba-tiba surat ini tiba di pangkuannya. Bukankah seperti kejatuhan durian runtuh?
Pikiran Jodi langsung teringat kepada surat tersebut. Di sana tertulis tentang tugas-tugas tantangan yang harus dia selesalikan selama bergabung dalam program tersebut. Kira-kira apa yang menjadi tugas tantangan itu ya? Semoga tantangannya berhubungan dengan perempuan. Jodi siap untuk yang satu itu! Membayangkan saja, semangatnya langsung memuncak.
Triiit. Triiit.
Ponselnya berdering. Malas-malasan dia menerimanya.
"Jodi, tadi toko Papa sudah ditutup rapat-rapat?"
Jodi menghela napas dalam-dalam. Dia masuk ke dalam suasana bosan. "Sudah, Pa. Ngapain sih pake nelepon segala?"
"Bukan apa-apa, Papa tidak mau kejadian yang dulu terulang lagi. Masa seluruh isi toko Papa hilang dibobol maling hanya gara-gara kau lupa menggembok pintu?"
Jodi membanting bagasi mobilnya sampai tertutup. Disekanya keringatnya dengan kesal.
"Jangan suka ungkit-ungkit yang itu, Pa! Itu kan sudah delapan tahun berlalu. Bayangin, delapan tahun! Sudah basi, Pa, aku bisa mati berdiri mendengarnya!"
"Kacau banget sih omonganmu sama orangtua, Jo? Kok pakai acara mati berdiri segala? Kalau seluruh ponsel di toko kita kemalingan lagi, baru tuh bisa mati berdiri."
Lagi-lagi soal pencurian itu.
Jodi menggelengkan kepalanya dengan kesal. Dia harus segera mengakhir pembicaraan dengan papanya ini. Kalau tidak papanya akan terus-terusan mengoceh soal peristiwa pencurian delapan tahun yang lalu itu. Capek sekali mendengarnya.
Tapi ketika Jodi mematikan ponselnya, mau tidak mau pikirannya melayang kepada peristiwa delapan tahun yang lalu. Entah apa yang menyebabkan papanya tidak rela melepaskan peristiwa itu ke dalam percakapan sehari-hari mereka. Setiap ada kesempatan, papanya selalu menyambar seperti api menyambar gas.
Apakah papanya curiga?
Apakah papanya diam-diam mengetahui otak di belakang layar kejadian itu?
Jodi tidak ingin papanya curiga apalagi pakai acara mengendus-endus segala seperti anjing pelacak. Demi Tuhan, kejadian itu sudah berlalu delapan tahun! Sudah tua, sudah basi, sudah karatan! Jodi tidak mau mengingat-ingat hal itu lagi. Saat itu dia masih muda, tidak berpengalaman, dan membutuhkan uang cepat.
Mungkin dia berbuat kesalahan. Ya. Pasti. Itu merupakan kesalahan. Tapi dia sudah menebusnya dengan bekerja bertahun-tahun membantu papanya di toko tersebut. Semuanya sudah impas. Tidak ada lagi yang terutang.
Dia menghela napas lagi. Pikirannya kembali terbang ke surat undangan TPTV tersebut. Senyumnya berkembang lagi.
Lupakan saja papanya. Lupakan masa lalu. Saat ini dia hidup di masa sekarang. Dia akan muncul di TV bersama-sama gadis-gadis cantik di dalam satu rumah. Mana yang lebih hebat daripada semua itu?
Jodi tersenyum-senyum sendiri sambil menyalakan mesin mobilnya. Ludahnya nyaris menitik. Untuk masa depan yang lebih baik, ini dia datang!




Primus tiba di rumah tersebut dengan taksi. Dia langsung terkesan melihat rumah besar yang terletak di lingkungan yang asri itu.
Rumah itu sepertinya sangat teduh dan nyaman untuk ditinggali. Bubungan atapnya berwarna merah bata dan temboknya tidak terlihat angkuh. Di beberapa dinding bahkan ditempeli batu alam sehingga tampak sangat alami dan sehat. Belum lagi pohon-pohon palemnya, rumput hijaunya, serta kolam ikannya. Secara singkat, tamannya merepresentasikan taman tropis yang hangat.
Primus langsung jatuh cinta kepada rumah ini.
Tanpa ragu-ragu dia menekan bel.
Baru selesai tangannya melepaskan diri dari tombol bel, gerbang besar itu terbuka. Seseorang berpakaian jaket hitam dan bertopi kuning melangkah keluar. Tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun, laki-laki itu berjalan kaki menjauhi rumah dengan tangan dimasukkan di saku. Primus menatap punggung laki-laki itu dengan tatapan ingin tahu.
Seseorang dari dalam membuka gerbang semakin lebar.
"Selamat datang," sapanya ramah.
Primus langsung menyukai lelaki simpatik ini. Heran, dia selalu merasa nyaman apabila bersama-sama lelaki.
Bukan berarti dia punya hasrat untuk lelaki.
Tidak, dia bukan homo.
Dia seratus persen normal!
Dia hanya suka salah tingkah apabila berdekat-dekatan dengan perempuan. Pasti perempuan itu jadi serbasalah dan tidak bisa bersikap alami. Ah, dia benci hal itu.
Lelaki lain datang dan berdiri di belakang lelaki yang sedang membuka gerbang. Tangannya menggotong kamera.
"Kau yang bakalan tinggal di sini?"
"Eh, ya," kata Primus sedikit tergagap. Kamera besar itu benar-benar mengintimidasi dirinya.
"Siapa namamu?"
"Primus. Primus Oktavian."
Lelaki itu mengambil selembar kertas dari sakunya. "Hm…, Primus… Primus…, ya. Primus Oktavian. Bisa lihat KTP-nya?"
Primus meletakkan tas kanvasnya ke bawah lalu dengan tangannya yang kosong, dia meraba kantong jinsnya. Dikeluarkan sebuah dompet dan diulurkannya kartu tanda pengenalnya kepada lelaki tersebut.
Setelah mengecek nama dan foto, lelaki tersebut mengembalikan KTP Primus. "Oke. Semuanya beres. Oya, nama saya James, saya pemimpin lapangan di sini. Teman saya yang sedang memanggul kamera ini bernama Zulnaidi. Selamat datang ke set The (Un)Reality Show."
Mereka berjabat tangan. Primus tidak bisa menahan rasa ingin tahunya. "Siapa lelaki yang tadi keluar?" tanyanya.
"Yang pakai jaket hitam dan topi kuning?"
"Yeah."
"Hmm…, coba lihat…. Ya! Namanya Richard. Richard Austin Wibowo."
"Dia juga salah satu yang bergabung dalam acara ini?"
James mengangguk.
"Mau apa dia keluar?"
"Sejujurnya, saya tidak tahu."
"Kenapa?"
"Kenapa apa?
"Kenapa nggak tahu?"
James mengangkat bahunya. "Kau banyak nanya, ya?" sindirnya.
Primus ingin membusungkan dadanya. "Kalau tidak banyak nanya, saya bukan Manajer Marketing," katanya bangga. Coba bosnya ada di sini! Kalau iya, kan ini bisa menjadi poin tambahan bagi review kariernya.
James menggeleng. "Sekarang tidak lagi. Tidak ada yang bawa jabatan apa pun ketika memasuki rumah ini."
Primus tergagap mendengarnya. Dadanya yang membusung mengempis seketika. Sialan. Dalam hati dia bertanya-tanya. Siapakah dia tanpa jabatannya? Nobody. Akhirnya dengan terpaksa, dia berkata, "Oh, begitu ya? Rese sekali."
James menunjuk salah satu bawaan Primus. "Apa itu?" tanyanya penasaran.
"Itu? Itu saksofon."
"Kau bisa memainkannya?"
"Nggak bisa."
"Lho?!"
Primus melirik sebal. "Tentu saja bisa. Kalau tidak untuk apa kubawa-bawa? Untuk mengorek hidung?"
James tersenyum kecut sambil berusaha menghindari tatapan Primus yang melecehkan. Dia meminggirkan tubuhnya ke samping gerbang. "Silakan masuk," sambutnya singkat, padat, dan jelas.
Dengan sedikit ragu-ragu, Primus melangkahkan kakinya masuk ke ruang tamu kemudian duduk di sofa besar. Kakinya bergoyang-goyang gelisah.
"Kamera itu…, apa ini sudah mulai?" Primus berdeham melegakan tenggorokannya. Matanya memandang sekeliling.
Wow. Ruangan ini terlihat sangat nyaman sekali.
James memberikan senyuman dukungannya. Diingat-ingatnya kata-kata bosnya, Pak Indra, agar selalu tersenyum kepada para pemain supaya mereka tidak gugup. Para pemain ini semuanya tidak pernah muncul di depan TV. Jadi kebayang dong kalau mereka bakalan panik?
"Apa?!" Primus tergagap. Nah, betul kan kata Pak Indra? Pasti lelaki ini sedang panik. "Sudah mulai? Yang benar? Ehm…"
"Iya, sudah mulai. Sekarang, tolong perkenalkan dirimu kepada para pemirsa TV," kata James tenang dan masih dengan senyum dukungannya.
What? Mata Primus membelalak lagi. Memperkenalkan diri kepada pemirsa TV?
"Ya, silakan."
Perlahan-lahan tangan Primus melambai di depan kamera dengan ragu-ragu. "Hai. Halo. Nama saya Primus. Primus Oktavian. Saya berasal dari Jakarta. Eh…, apa lagi? Oh, ya, saya punya keluarga di sini. Saya blasteran, setengah Jerman, setengah Jawa. Jangan takut, saya bukan anggota Neo Nazi dan mama saya bukan keturunan Hitler. Saya punya adik perempuan, masih kelas tiga SMP."
James memperhatikan gerak-gerik Primus dengan penuh perhatian. Kelihatan Primus memang pantas muncul di depan TV. Biarpun terlihat gugup, tampang kerennya tidak terlihat panik sama sekali. Malah terlihat semakin ganteng.
"Saya bisa bermain saksofon. Oya, Mas James, saya boleh menyapa orang? Boleh?"
James mengangguk ragu-ragu.
"Benar? Oke, 'makasih." Primus melambai sekali lagi. "Hai, Amy! Hai Mom, Dad!"
"Siapa Amy?"
Primus menoleh kepada James. "Dia adikku."
Tiba-tiba terdengar suara bel membelah percakapan. James segera berdiri diikuti oleh Primus. "Saya rasa ada yang datang lagi di luar," kata James.
Mereka berdua bergabung menuju ke teras depan. Wajah Primus menghilang dari balik layar kamera.



Di balik gerbang, berdiri seorang lelaki bertubuh pendek, sedikit gemuk, bersepatu kets, bertopi, dan menggunakan kaus yang warnanya sudah luntur. Bawaannya tampak memenuhi seluruh trotoar jalanan.
"Halo? Ini rumah untuk acara TV itu?"
James mendelik melihat barang-barang yang berserakan. "Astaga! Bawaanmu banyak sekali."
Lelaki itu menoleh, memberikan satu tengokan kepada setiap barang-barangnya. "Ya, semuanya barang-barangku. Tidak bisa ditinggalkan begitu saja."
James menunjuk onggokan kecil. "Itu apa?"
"Mana? Oh, itu gunting rumput."
"Yang itu?"
"Sekop."
"Iya, aku tahu itu sekop. Untuk apa bawa-bawa gunting rumput dan sekop?"
Lelaki itu mengangkat bahunya. "Aku senang berkebun. Siapa tahu bisa berkebun."
"Astaga, kau juga bawa pupuk segala?!"
Pintu gerbang terbuka semakin lebar. Kepala Primus melongok keluar. "Halo," sapanya ramah. "Namaku Primus Oktavian, pemeran acara keren ini. Siapa namamu?"
"Aku Jodi."
"Ini semua barang-barangmu?" tanya Primus sambil mengerutkan kening. "Wah, kau senang berkebun rupanya!"
Jodi mengangguk. "Kebunnya cantik juga. Bisa kuperawani."
James pura-pura tidak mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Jodi.
"Yuk, kubantu mengangkat barang-barangmu. Barang-barangku sudah di dalam semuanya. Hati-hati dengan kamera itu, begitu kau masuk sini, kau langsung terekam," kata Primus.
Jodi langsung memancarkan mimik tertarik. "Hebat. Jadi, sekarang aku sudah masuk TV? Beneran nih? Nggak mimpi?"
Reaksi normal dari orang-orang normal yang belum pernah masuk TV, pikir James. Tapi James kemudian mengangguk berbarengan dengan Primus yang berdiri di depannya. Ditambah dengan senyum versi Pak Indra. Mantap sekali.
"Nama saya James," kata James memperkenalkan diri. "Saya manajer lapangan di sini."
Jodi mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Ngomong-ngomong, saya perlu lihat KTP-mu," kata James melanjutkan.
Jodi mengernyitkan dahinya. "KTP?" tanyanya heran, seakan-akan belum pernah mendengar kata tersebut. "Saya tidak tahu di mana saya menyimpan KTP."
"Masa tidak tahu? Di dompet… Di kantong… Di lipatan celana…"
Kernyitan dahi Jodi semakin dalam. Di lipatan celana? Yang benar saja. James ini punya selera humor yang rada-rada aneh. Memangnya dia TKI, menyimpan barang penting di balik pakaian dalam? TKI juga nggak gitu-gitu amat.
"Aku tidak pernah meletakkan KTP-ku di lipatan celana. Kenapa sih? Pakai SIM saja, ya?" usul Jodi. Dia membuka dompetnya dan mengangsurkan selembar kartu kepada James.
"Namamu Jodi siapa?"
Mata Jodi sedang memandangi kebun depan. Menarik juga. Tampaknya semak di sana sudah perlu dirapikan. "Jodi saja. Tanpa embel-embel. Singkat, cepat, dan…," Dia tersenyum. "…memuaskan."
Tiba-tiba mata Primus membelalak. "Ya ampun!" serunya tertahan. Dia menunjuk benda yang disandarkan di dekat pagar. "Itu pacul?"
Jodi mendecak, menyindir. "Ck! Baru lihat pacul pertama kali?"
Primus tidak merasa disindir oleh Jodi. Dia memandangi pacul tersebut dengan takjub.
"Paculnya mau kutaruh di luar atau di ruang tamu?" tanya Jodi akhirnya setelah jeda beberapa waktu. Jodi ternyata cukup sabar menunggu reaksi Primus.
"Pacul ditaruh di luar. Barang-barang berkebun tidak ada yang boleh masuk ke ruang tamu!" seru James tegas.
Jodi langsung tersinggung. "Huh," deliknya. "Peraturan dari mana itu?"
"Belum pernah dengar? Ini peraturan normal. Semua orang meletakkan paculnya di luar," sahut James sambil melangkah masuk.
Jodi mengikuti gerakan James dengan tatapan tidak yakin. "Apakah kau meletakkan paculmu di luar, Primus?" tanyanya sambil menoleh kepada Primus.
Yang ditanya malah berdiri salah tingkah. Primus mengedipkan matanya karena bingung. "Hmm… iya…," jawabnya tidak yakin.
"Di rumahku pacul diletakkan di dalam."
"Mungkin di rumahmu begitu, tapi di sini kan kita harus mengikuti peraturan. Aku tidak tahu apakah pacul harus diletakkan di luar karena kebetulan hari ini aku tidak membawa pacul."
Mereka berdua beriringan masuk ke ruang tamu, di sana James sudah menanti mereka. Di dalam Jodi berseru takjub, "Kau bisa main saksofon, ya? Hebat. Seperti… hm, Kenny G. Eh, apa Kenny G. main saksofon?" Jodi terkekeh. "Coba mainkan, aku ingin dengar."
Belum sedetik Jodi menyambar saksofon tersebut, James sudah berdiri di tengah-tengah mereka. Di tangannya teracung stoples besar berisi gulungan-gulungan kertas.
"Tunggu dulu! Jangan menyentuh apa-apa. Silakan ambil undian untuk menentukan letak kamar tidur."
Primus dan Jodi berpandangan dengan sedikit tertarik, kemudian masing-masing mengambil kertas yang tergulung dari stoples. Primus meluruskan kertas tersebut.
"Kamar nomor dua ada di mana?" tanyanya sambil menatap nomor besar yang tertera di sana.
"Lantai atas."
Primus melongokkan kepalanya melewati bahu Jodi. "Kau dapat nomor berapa?" tanyanya penasaran.
"Empat."
James berpikir sejenak. Lalu langsung menjawab, "Nomor empat… hm… Itu juga ada di lantai atas. Kalian bertetangga."
"Asyik!" seru Jodi sambil menatap Primus. Dia langsung menyukai ide bertetangga dengan sahabat barunya ini. Kelihatannya Primus cukup menyenangkan untuk diajak berteman. "Aku mau lihat kamarku."
Primus mengangguk. James menunjuk barang-barang Primus dan Jodi yang masih berserakan di ruang tamu. "Bawa sekalian barang-barang kalian!"
Berempat, termasuk Zulnaidi yang masih memanggul kamera, mereka berjalan menaiki tangga. Jodi segera memasuki kamar yang ditempeli nomor di depan pintunya. Nomor empat.
Baru melangkahkan dua kaki ke dalam kamar tersebut, Jodi langsung berseru kagum. "Wow! Kamar yang nyaman. Bersih. Tidak ada laba-laba. Jendela besar. Ada balkon lagi! Asyik. Ini baru namanya kamar."
Jodi membuka pintu balkon dan dengan cepat melompat keluar.
Gerakan Jodi yang sangat cepat membuat James terbengong-bengong. "Hei, ke mana dia?!" serunya tertahan.
Primus berjalan ke balkon dan melongokkan kepalanya. "Ehm… kau sedang apa?" tanyanya bingung.
"Mengecek jalan darurat."
"Jalan darurat apa?"
"Jalan darurat untuk kabur…, untuk merokok…, untuk ngelamun jorok.…" Jodi merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sebungkus rokok.
Primus ikut-ikutan melompat keluar dari balkon.
James juga terburu-buru berjalan menuju balkon.
"Kau mau?" tanya Jodi menawarkan kepada Primus, yang langsung menggeleng. Jodi menyalakan pemantik api dan membakar rokok di sela jemarinya dengan santai. "Lihat tuh, ada balkon di sana. Itu pasti balkon kamarmu. Yuk, masuk ke sana."
Mereka berdua meniti hati-hati di atas genteng. Tidak lama kemudian mereka tiba di balkon tersebut. Begitu Primus membuka pintu, air mukanya langsung terpesona. "Wah!" seru Primus sambil menatap sekeliling ruangan. "Kamarku lebih besar daripada kamarmu. Asyik!"
Kamar itu berwarna biru muda didekorasi bergaya Jawa kolonial. Ranjangnya besar dengan empat tiang tinggi beserta meja-kursi pelengkap yang bernuansa sama. Di sana-sini terlihat beberapa lukisan pemandangan dan potret hitam-putih. Ada batik yang disampirkan menjadi tatakan meja. Wangi bunga melati menyerbak samar-samar.
"Gila, kayak kamar pengantin saja."
"Lihat di sana!" Jodi menunjuk langit-langit. "Ada dua kamera dipasang di kamarmu. Tapi tampaknya belum diaktifkan."
Primus mendongak. "Betul juga. Gila sekali mereka. Masa kamar tidur pun mau direkam?"
Jodi mengangkat bahu tidak peduli. Ada pikiran lain yang berkelebat di otaknya.
"Kenapa tidak ada kamar mandi di tiap kamar ya? Menyebalkan," gumam Jodi kepada dirinya sendiri. "Kira-kira ada berapa kamar mandi di rumah ini, ya?"
Pintu tiba-tiba terbuka. Zulnaidi bersama kameranya dan James memasuki ruangan melalui pintu. Wajah James terlihat keruh dan kesal. "Lain kali," katanya mengingatkan. "Masuk kamar selalu melalui pintu."
"Memangnya kenapa kalau melalui balkon?"
James baru hendak menjawab ketika Primus memotong tanpa basa-basi, "Apakah ini kamarku?"
James berganti haluan. Dia mengangguk mengiyakan. "Iya. Suka, tidak?"
"Kayak kamar pengantin."
"Ngomong-ngomong, ada berapa kamar mandi di rumah ini?" tanya Jodi penasaran.
"Tiga."
What…Tiga?!
Jodi nyaris ambruk mendengarnya. Coba ulangi pertanyaannya.
"Tiga." Sekali lagi jawaban James.
"Tiga?!" Suara Jodi naik satu oktaf, tidak percaya.
"Iya. Tiga. Ditambah satu kamar mandi pembantu di belakang."
Ada yang salah di sini, pikir Jodi. "Memangnya berapa yang akan tinggal di sini?" tanyanya menyelidiki.
"Delapan."
Delapan? Banyak sekali orang dengan sedikit kamar mandi. Dalam hati Jodi menyumpah-nyumpah. Primus melongok ke luar jendela.
"Lihat!" serunya sambil menunjuk. "Tampaknya ada yang datang lagi!"



Feivel duduk di pinggir ranjang sambil menundukkan kepalanya. Dia sedang berpikir keras.
Sekali lagi dia melirik surat yang terletak di meja samping ranjangnya. Tertulis bahwa dia diundang untuk tinggal di sebuah rumah besar dalam acara TV bersama-sama beberapa orang lainnya yang belum pernah dikenalnya. Semua biaya dibayar dan bahkan dia akan mendapatkan gaji tetap.
Jackpot. Ini seperti menang lotre.
Kalau kondisinya tidak seperti sekarang, tentu dia tidak akan tertarik dengan undangan tersebut. Dengan utang yang belum berhasil dilunasinya, rasanya iming-iming tempat tinggal gratis, gaji, serta bonus yang menarik bisa memengaruhinya.
Hanya sayang, ada sedikit hal yang mengganggu dirinya.
Seorang lelaki membuka pintu dan duduk di sebelahnya. Tangannya langsung membelai-belai rambut Feivel. Lelaki itu menoleh dan menatap pasangannya sambil tersenyum. Ini dia yang menjadi kendalanya. Pacarnya tersayang. Dia berat berpisah dengan Enrico.
"Fei? Kenapa?"
Begitulah cara Enrico menunjukkan perhatiannya.
Feivel mengangguk lalu tidak bisa tahan, dia tersenyum. "Nggak kenapa-kenapa. Itu apa?"
Enrico memijat-mijat kepala Feivel. "Ini? Ach ja, aku bawain kopi hangat."
"Thanks, Rico."
Tangan Enrico masih membelai-belai rambut kekasihnya dengan lembut. "Rambutmu perlu dipotong lagi. Sudah agak panjang."
"Aku mau panjangin saja. Biar bisa kuikat ekor kuda di belakang. Seksi, kan?"
Mereka berdua berpandangan dengan mata berbinar. Saat itu juga dunia Feivel dikelilingi berjuta-juta bintang. Enrico mengangguk menyetujui pendapat pacarnya.
Ponsel Feivel bernyanyi. Mereka berdua melirik melihat nomor pengirim yang tertera di skrin ponsel itu. Wajah Feivel seketika memucat.
"Aku yang angkat saja ya, Say." Enrico memencet tombol telepon ponsel. "Halo? Bukan… bukan Feivel… iya, tahu… mengerti… sedang keluar… nanti disampaikan… oke…."
Telepon dimatikan. Hening menyeruak di antara mereka.
Feivel meneguk kopinya dan menoleh menatap Enrico. "Apa katanya?" tanyanya malas. Rasa-rasanya dia tidak ingin mendengar jawabannya. Please, Enrico jawablah bahwa kau tidak mengerti apa yang ditanyakan sehingga…
"Biasa, menagih utang. Kau diberi waktu seminggu."
Sialan. Enrico mengerti.
Feivel menundukkan kepalanya sekali lagi. Tangannya memutar-mutar cangkir kopinya. "Mana mungkin aku punya uang dalam waktu seminggu?" gumamnya lirih kepada dirinya sendiri.
Enrico menyentuh dagu Feivel dan mengangkatnya menghadap wajahnya. Terlihat sorotan lembut dan kecemasan memancar dari kedua bola mata cokelat gelap itu.
"Fei, kupikir kau harus mengikuti program TV itu."



Feivel langsung menyukai rumah yang berada tepat di depannya. Tampaknya tidak jelek sama sekali. Dia meremas tangan Enrico dengan jantung berdegup-degup penasaran.
"Heiii, yang di bawah!!!"
Feivel menoleh terkejut ke atas. Seseorang yang berpostur pendek dan gendut sedang melongokkan kepalanya di jendela atas dan melambai-lambaikan tangannya dengan penuh semangat ke arahnya.
Feivel segera melepaskan remasan tangan Enrico dan balas melambai dengan sedikit ragu-ragu.
Untuk menambah kekagetannya, tiba-tiba pintu gerbang terbuka otomatis di depan matanya. Primus keluar dengan ponselnya.
"Selamat siang," sapa Feivel.
"Siang," jawab Primus singkat. Dengan senyumnya yang mematikan, tentu saja.
Gila, lelaki ini cakep juga, pikir Feivel bersemangat.
Sementara Primus tidak mampu berpikir apa-apa. Ponselnya sedang menyita perhatiannya.
"Aku… hmm… numpang tanya. Apa ini rumah untuk eh…, program TV itu?"
Primus mengangguk. "Ya, ini dia rumahnya. Tunggu sebentar ya." Jari telunjuk Primus teracung ke ponselnya. "Halo? Apa tadi…? Oh, ya… rumahnya besar…. Jadi kau sudah lihat…? Chyntia dan Mega juga… bagus… bagus… apa… tidak, tidak boleh menerima kunjungan tamu… nanti saja… kapan-kapan… JANGAN! Nanti saja… pokoknya tidak usah datang… kirim bunga tidak bisa… kirim McD juga tidak boleh! Oke, aku harus pergi sekarang… bye!"
Feivel nyengir lebar melihat air muka Primus yang terlihat seperti kena bom. "Cewek?"
"Um… ya, begitulah. Tidak bisa lepas dari mereka." Primus memasukkan ponselnya di dalam saku celana. "Namaku Primus. Aku juga pemain acara ludruk ini."
"Aku Feivel."
Primus memandangnya tanpa berkedip. Nama Feivel seperti nama anak perempuan yang manis. Tapi yang berdiri di depannya ini lelaki tulen. "Jangan lupa siapin KTP. Mas di dalam sana akan mengecek KTP-mu."
"Rico, tolong KTP-ku dong. Kan terakhir aku kutitip padamu untuk ke kelurahan waktu itu."
Enrico mengeluarkan dompetnya dan setelah mencari-cari sebentar, dia menyerahkan kartu kepada Feivel.
Primus memperhatikan gerak-gerik Enrico yang lemah gemulai. Ya amplop, tampaknya spesis yang satu ini…
"Yang lain sudah datang?" tanya Feivel lagi, membuyarkan konsentrasi Primus.
"Baru para pejantan. Ada satu orang di dalam dan satu lagi sedang keluar."

©2005 Clara Ng

Posted at 03:23 pm by editor

Lian
May 26, 2007   01:29 PM PDT
 
boleh saia bantu tuk ian ga? jadi intinya tuh, ada seorang perempuan, Hannah kalo ga salah... dia punya kelainan dissociative identity disorder, atau kita lebih kenal dengan multiple personality. Kalo udah pernah baca 24 wajah Billy atau Sybill, pasti ga asing dengan istilah ini, iya ndak Mba Clara...??
Nah, crita ini bertutur tentang isi kepalanya si Hannah..tentang 8 orng utama (kalo di Billy ada 10 tokoh utama), yg kesemuanya memiliki pribadi yg berbeda, tetapi ada 1 titik dalam diri mereka yg menyatukan. Yaitu mereka bagian dari luka2 yg pernah terjadi dalam hidup Hannah.

mungkin seperti itu penjelasannya dari saia..... mau ditambahkan mbak clara ?
ian
August 4, 2006   05:07 PM PDT
 
ceritanya bgs...
tp... gw agakkurang ngerti ama endingnya...
bisa tolong diperjelas??
cerita jelasnya krmke email gw yach...
ninetails_uzumaki@yahoo.com
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Next Entry Home