Home
Biography
Books
News & Events
Sekilas Isi
Indiana Lesmana
E-mail
Links
Join Clara Ng's Books in Facebook
Ayo Isi Buku Tamu




Pics:

www.flickr.com



Lengkapi Koleksi Anda:
www.flickr.com
This is a Flickr badge showing photos in a set called SFTHStories From The Heart. Make your own badge here.
Stories From The Heart










Bagi Anda yang berminat mengundang Clara Ng sebagai tamu di sekolah/universitas, untuk acara talkshow/diskusi buku/jumpa pengarang, silakan kirim e-mail ke:
indiana_lesmana@yahoo.com atau fiksi@gramedia.com

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Saturday, August 20, 2005
Sekilas Isi - Bridesmaid

Prolog
LANGIT terang benderang berwarna biru dengan awan putih yang berarak indah seperti sedang melakukan marching band. Cahaya matahari bersinar lembut, merembes di antara kapas-kapas putih yang seakan mengapung di lautan mahaluas. Pokoknya judulnya adalah cantik sekali. Bentuk awan terukir bermacam-macam di kaki langit, tinggal bagaimana menggunakan imajinasi sendiri. Ada yang bentuknya seperti kangguru. Ada yang bentunya seperti Telletubies. Ada yang bentuknya seperti mobil Jaguar. Ada yang bentuknya seperti BH. Ada yang seperti kondom…
Oke, cut! Indiana mengedipkan matanya. Dia terlalu jauh menggunakan imajinasinya.
Gadis itu menggeliat malas-malasan di kursi pesawat. Sejauh ini tidak ada turbulensi apa pun. Perjalanan udara yang nyaman, mulus, dan terkendali.
Tanpa sadar tangannya menyentuh sabuk pengaman yang melingkari pinggangnya. Hmm. Cek. Masker oksigen? Dia melirik ke atas. Oke. Cek. Pelampung? Dia menggeser-geserkan kakinya di bawah, mencoba mencari letak pelampung. Tidak ketemu. Wajahnya sedikit memucat. Tenang, tenang, jangan panik. Pasti pelampung itu ada di bawah kursinya. Anyway, cek. Apa lagi? Sepertinya tidak ada yang terlewatkan. Barulah Indiana bisa menghela napas lega.
Empat tahun lamanya Indiana berjuang melawan fobia terbangnya.
Tapi sekarang untunglah semua sudah berakhir. Masa-masa kegelapan itu sudah berlalu. Zaman jahiliah telah lewat.
Indiana tersenyum penuh kemenangan. Wajahnya terlihat sangat damai dan tenteram. Lihatlah dunia! Dia, Indiana Lesmana, hari ini berhasil duduk di kabin pesawat dan terbang melayang tanpa ketakutan!
Distorsi dari jendela plexiglass tidak dapat menandingi langit yang tampak cerah dan matahari yang bersinar menyala-nyala, menguasai horizon. Tidak ada badai yang melintas. Tidak ada angin puting beliung.Tidak ada turbulensi setan alas itu. Di luar, langit berwarna biru dengan awan yang berbentuk lucu-lucu. Lihat, awan itu terlihat seperti anak kucing yang menggemaskan.
Mau tidak mau, Indiana tersenyum. Dia sedang asyik menerka bentuk awan, permainan yang agak kekanak-kanakan.
Tapi daripada bengong dan melamun jorok? Nah, betul kan. Pasti semuanya mengangguk-angguk setuju. Jadi lihat di luar sana. Awan yang berarak itu berbentuk seperti…
Koran yang berada di pangkuannya menarik perhatiannya. Judulnya “Sinetron Indonesia Jalan di Tempat?”
Yeah, you bet.
Indiana mendengus dan menoleh ke samping kembali. Di sana ada awan yang berbentuk seperti pesawat-yang-sedang-terbang-menuju-ke-arahnya.
Indiana membelalak.
Awan itu… hmm… Benar-benar mirip pesawat terbang. As a matter of fact---
Gadis itu terenyak.
…benar-benar pesawat terbang yang melaju ke arahnya. Persis terbang ke arahnya!!!
“Ehm…” Tiba-tiba leher Indiana seperti tersumbat. “Anu…, itu…” Dia mencembungkan kedua telapak tangannya dan menempelkan di jendela lonjong kabin. Hidung Indiana bersentuhan dengan kaca plexiglass. Terasa hawa dingin menyapu wajahnya. Coba pikir. Pikir yang dalam. Renungkan. Ada beberapa kemungkin hal itu dapat terjadi.
Kemungkin pertama: pilot tidak sadar. Ibarat menyetir mobil, sang sopir tidak melirik ke kaca spion. Biasanya Indiana melakukan hal itu tanpa sengaja ketika sedang asyik mendengarkan lagu kesayangannya atau malah sedang mengaca, merapikan lipstik.
Kemungkinan kedua: menara pengawas tidak menyampaikan berita dengan benar. Hmmm… Kemungkinan ini menyambung kepada kemungkinan berikutnya, yaitu…
Kemungkinan ketiga: kru pengatur lalu lintas udara sedang ketiduran.
Kemungkinan keempat: ada konspirasi teroris besar-besaran. Setelah menara kembar di New York, sekarang…
Dia menoleh dengan cepat kepada teman sebelahnya. “Pak! Pak?! Sir?!” serunya. “Lihat ke luar. Ada pesawat hendak menabrak kita!” Sehabis berbicara seperti itu, Indiana merasa dirinya sangat tolol.
Tidak ada reaksi apa-apa. Lelaki itu ternyata tertidur.
Duh, bagaimana ini?!
“Excuse me. Permisi. Maaf. Pardon. Excuse-moi. Tolong lihat keluar. Ada…” Indiana menelan ludahnya gugup. Sekali lagi, kata-kata berikutnya akan terdengar agak idiot. “Ada pesawat yang mau menabrak kita!”
Pramugari yang bernama Shania itu memandangnya seakan Indiana kehilangan ingatan.
“Pesawat apa yang hendak menabrak apa?”
Tepat pada saat itu, langit tiba-tiba menjadi gelap. Kejadiannya berlangsung demikian singkat, hanya secepat kedipan mata. Kilat menyambar-nyambar dari kejauhan, membelah langit. Seluruh kabin bergetar halus yang langsung diikuti guncangan-guncangan dahsyat.
Kata-kata standar pengumuman yang menjadi momok di otak Indiana menggema masuk di telinganya. “Turbulensi… tidak stabil… cuaca buruk… tetap tinggal di kursi pesawat… pakai sabuk pengaman… tetap tenang dan jangan panik…”
Oh no. Not again.
Indiana memberikan reaksi wajah oh-why-oh-why me.
“Mbak, lihat kan pesawatnya?! Lagi terbang ke arah sini.”
Shania memandang Indiana dengan tatapan kosong. Tidak bergerak dan tidak bereaksi.
“Halow?” desak Indiana, panas-dingin.
Tanpa kata-kata, pramugari itu langsung memutar langkah dan berlalu tergesa-gesa. Ya Tuhan, bagaimana ini? Tabrakan ini akan menjadi sejarah dalam dunia penerbangan.
Pasti belum pernah ada pesawat yang bertabrakan di udara. Dan dia, Indiana, adalah salah satu penumpang beruntung yang menjadi bagian dari sejarah istimewa ini. Ya, dia akan terkenal. Namanya akan diabadikan dalam monumen sejarah.
Dalam hitungan tiga detik, semuanya akan hancur berantakan.
Satu detik…
Dia mengucapkan doa singkat. Untuk ayah dan ibunya. Untuk Sara. Untuk Francis. Untuk tetangganya. Untuk perdamaian dunia. Untuk Dalai Lama. Untuk Pangeran William yang tampan dari Inggris. Untuk Tom Cruise. Untuk Saddam Hussein.
Dua detik…
Turbulensi keras terjadi lagi. Pesawat bergoyang miring lalu merosot turun dengan kecepatan tinggi. Seluruh penumpang memekik histeris. Perut Indiana seperti terbanting ke sana kemari. Napasnya melompat satu tarikan.
Tiga detik…
“AAAARRRGGGGHHH!!!”
Benturan dan ledakan mahakeras itu terjadi.
Lalu semuanya gelap.



Satu

“AAAAAAAAARRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHH!!!”
Indiana tersentak bangun dari ranjangnya dan langsung terduduk tegak. Wajahnya pucat pasi. Punggungnya basah oleh keringat. Rambutnya mencuat ke sana kemari tidak keruan.
Ruangan gelap gulita. Hanya ada sedikit cahaya yang muncul dari bawah pintunya, yang berasal dari sinar lampu kecil yang menerangi ruang tengah rumahnya. Selalu disengaja agar menyala semalam suntuk.
Disekanya keringat yang menetes dari dahinya. Basah. Jantungnya berdetak dengan kecepatan yang sanggup mengalahkan kecepatan cahaya. Dalam kegelapan, Indiana membelalakkan matanya lebar-lebar lalu menutupnya dengan lemas. Hhhhhh…
Rupanya hanya mimpi. MIMPI, bayangkan! Dasar kuya. Mimpi Buruk!
Tapi, anyway, daripada beneran… Syukurlah.
Dia membuka matanya sekali lagi. Debur jantungnya melambat perlahan-lahan. Napasnya terdengar mulai teratur rapi. Indiana merebahkan kepalanya di atas bantal. Sambil menatap plafon kamar tidur, dia membaringkan tubuhnya lurus-lurus dengan pikiran yang berkabut.
Hhhh... Mimpi kecelakaan pesawat terbang lagi.
Trauma kecelakaan empat tahun itu rupanya tidak dengan mudah menghilang begitu saja dari alam bawah sadarnya. Ternyata bukan hanya itu, kenangan akan kecelakaan itu pun masih menghantuinya setiap saat. Jangankan terbang, berdekat-dekatan dengan bandara saja dapat membuatnya paranoid.
Dia sudah sadar sejak dulu bahwa dia butuh pertolongan. Pertolongan serius yang ditangani oleh orang yang ahli di bidangnya. Seorang profesional. Diam-diam dia sangat mempertimbangkan hal tersebut sebagai salah satu keputusan besar dalam hidupnya.
Indiana membalikkan tubuh dan memeluk gulingnya. Lalu jatuh tertidur.



Besoknya dia sudah segar lagi.
“Ndi, sumpah deh, kau beneran harus mengikuti terapi psikologi. Kau sudah melewati ambang batas toleransi untuk hidup di abad dua puluh satu.”
Monolog siang bolong dari Sara seperti itu pada mulanya tidak memberikan efek apa pun kepada Indiana.
“Bayangkan, kau menolak berbagai kesempatan emas pergi ke Paris, Milan, dan New York hanya karena kau tidak berani terbang. Ih, itu sih norak banget!”
Dudududu… dadum… dududu… dadum… (daripada dengerin Sara, mendingan menggumamkan lagu saja. Pura-pura congek.)
“Ingat nggak, kau pulang dari luar negeri naik kapal laut selama 25 jam?” lanjut Sara. “Ingat nggak, waktu kau meminta-minta mendaratkan pesawat terbang di tengah-tengah penerbangannya hanya karena tiba-tiba kau histeris tanpa kendali? Kaukira pesawat itu bajaj? Mudah diberhentikan sembarangan?!”
Kalau Sara sudah ngoceh seperti itu, respons yang baik adalah mengabaikannya. Dududu… dadum…. Dududu…dadum…
Menurut pengalaman dan riset membuktikan, lama-lama telinga Indiana pasti panas, terpancing emosi.
Ini hanya masalah waktu saja.
Dududu… dadum… dududu… dadum…
“Ingat nggak waktu kau terdampar berhari-hari di Singapura bersama Francis hanya karena kau tidak berani pulang dengan pesawat terbang?!”
Indiana berpikir keras bagaimana membungkam mulut Sara.
“…tapi terus terang, aku nggak terlalu percaya sama cerita bloon itu. Nggak berani pulang ke Jakarta? Bah! Kau saja yang keasyikan ‘bulan madu’ di Singapura bersama si babi bandot itu!”
Dududu…. What?!
“Aku nggak bulan madu di sana!” sambar Indiana ketus. “Hati-hati kalau ngomong.”
“Tuh kan, belum apa-apa sudah menyanggah.“
Indiana melirik jam tangannya. Dia terkesima. Ini sanggahan tercepat dalam sejarah. “Aku beneran nggak berani pulang ke Jakarta karena takut terbang!” tambahnya lagi.
“Bah!!” kerling Sara menggoda.
“Sara!”
Tapi percuma saja teriak-teriak melawan Sara. Pasti tidak akan menang. Karena semakin dilawan, Sara semakin bikin keki.
Ya sudahlah.
Indiana merenung. Hmmm… Kata-kata Sara menggema di telinganya. Terapi psikologi, katanya. Benarkah dia memang membutuhkan terapi? Memangnya dia gila, tidak waras, gokil, sinting, dan lain sebagainya?
No way.
Indiana menggeleng-gelengkan kepalanya dengan geram. Dia tidak termasuk orang-orang yang mengalami masalah abnormalitas diri. Dia sehat seratus persen. Dia dapat bertingkah laku seperti orang normal, berpikir secara normal, dan berasional secara normal pula.
“Mau pesan apa, Ndi?”
Indiana teringat kolom psikologi di majalah Metro Women. Problem-problem yang bertaburan di sana kebanyakan adalah masalah-masalah normal yang dialami oleh orang-orang normal pada hari-hari normal pula. Misalnya, selingkuh. Masalah percaya diri. Kurang bisa gaul.
“Iced cappuccino. Cup yang kecil saja.” Dia mengangkat tangan telunjuknya kepada kasir Coffee Bean.
Pada kasus-kasus yang luar biasa berat, dibutuhkan konseling khusus pula. Nah, kan? Tidak semua area psikologi berhubungan dengan kasus-kasus penyakit jiwa yang abnormal.
Hmm…, tapi ada yang aneh di sini, pikirnya bolak-balik.
Kalau dipikir-pikir, fobia terbang pasti termasuk kategori tidak normal. Bukankah manusia pada dasarnya ingin terbang? Ini sudah dibuktikan sejak beribu-ribu tahun silam ketika manusia rela mati terjatuh dari tempat tinggi ketika mencoba terbang layaknya burung.
So! Indiana tercenung lagi. Jadi dia harus konseling.
“Ini kembaliannya, Mbak. Terima kasih sudah datang di Coffee Bean. Sampai ketemu lagi.”
Indiana tidak mau mengakui bahwa Sara terang-terangan benar. Dalam hati dia sadar bahwa omongan menyebalkan sepupunya adalah usul yang tidak terbantahkan.
Baiklah, dia memutuskan untuk mencari pertolongan profesional. Tentu saja independen, tanpa bantuan dari siapa pun. Tanpa tanya-tanya ke sana kemari. Ini akan menjadi rahasia besarnya. Dia bersumpah, atas nama kerut mata yang mulai muncul di wajahnya, di depan kasir Coffee Bean yang sedang memandanginya dengan kesal, tidak akan memberitahukan hal ini kepada siapa pun. Bahkan Sara pun tidak! Bayangkan kalau ketahuan oleh si Miss Busybody satu itu….
Hiiih, lebih baik dia makan botol daripada ketahuan.
“Ndi, buruan!”
Lihat saja hasilnya nanti. Kalau terapi ini sukses, seluruh dunia akan tercengang melihatnya.
Dia, Indiana Lesmana, akan naik pesawat terbang tanpa secuil pun rasa takut.
Hahahaha! Biar Sara terkejut! Hahahaha! Biar dia pingsan di tempat! Hahahaha---
“Maaf, Mbak, bisa minggir sedikit? Masih banyak yang mengantre di belakang Mbak.”
---haha. Ups.


“Indiana Lesmana?”
Pertanyaannya adalah: beranikah dia memasuki ruangan itu? Sejak tadi otaknya melakukan hitung tokek: Masuk, jangan…. Masuk, jangan.… Masuk, jangan….
“INDIANA LESMANA?”
Indiana terlompat dari kursinya. Majalah yang berada di pangkuannya seketika terjatuh. Dia membungkuk cepat untuk mengambil majalah tersebut. Dengan gerakan grogi diletakkan majalah itu kembali di raknya.
“India-“
Indiana menjawab cepat-cepat. “Ya! Ya! Itu saya!”
“…India dan Pakistan sepakat untuk mengadakan kerja sama dalam memerangi teroris yang sedang…” Lamat-lamat dari pojok kanan ruangan tunggu, TV sedang memberitakan informasi luar negeri.
Oh, cuma televisi. Wajah Indiana memerah malu. Dasar terlalu ge-er.
Seorang perempuan yang berpostur tinggi semampai menoleh memandang Indiana lalu tersenyum. Giginya luar biasa putih dan (ting!) berkilau.
“Mbak Indiana Lesmana, nama saya Tasiana, asisten Bapak dr. Zackary Pujianto. Silakan ikut saya. Lewat sini.”
Kaki Indiana seolah mati rasa ketika berjalan menyusuri ruangan berkarpet biru serta berdinding warna pastel. Tasiana melangkah mantap menuju pintu kokoh berpanel kayu dan menekan hendelnya yang dilapis krom berwarna kuning gading.
Indiana menatap pintu yang terbuka ragu-ragu, seakan ada dunia lain yang siap menerkamnya dari balik pintu itu.
“Silakan, masuk di sini, Mbak Indiana. Bapak Zackary akan datang sebentar lagi.”
“Masuk ke sini?”
“Iya, di sini. Kenapa? Ada masalah, Mbak?”
“Eh… tidak ada apa-apa.”
Indiana berjalan gugup.
Sepatunya tidak menimbulkan bunyi berdetak sedikit pun karena dia berjalan di atas karpet empuk. Ini menyebalkan karena dia tidak dapat bergaya jalan elegan dengan bunyi tuk-tuk-tuk sepatu di lantai. Cara itu sebenarnya cara yang mujarab untuk mendongkrak daya pikatnya sebanyak tiga poin.
Indiana mengusahakan sekuat tenaga agar dia terlihat cool dan tidak mempunyai masalah apa pun.
Yeah, right. Tidak punya masalah?
Siapa yang tidak punya masalah ketika membuat janji temu dengan psikiater?
Di dalam ruangan itu, ada sofa panjang yang terlihat empuk. Di sebelahnya terletak meja kopi kecil dengan rangkaian bunga indah bernuansa hijau terletak di atasnya. Jendela besar membentang dengan tirai-tirai yang terbuka, memperlihatkan pemandangan indah daerah Kuningan dari lantai 28. Ada wangi samar-samar seperti kayu manis atau jeruk atau peppermint yang entah berasal dari mana.
Indiana mengagumi keempat tembok yang dipenuhi dengan bingkai-bingkai foto, lukisan, dan semua sertifikat, award, dan penghargaan atas nama Zackary Pujianto. Psikiater terkenal yang profilnya pernah dimuat di majalah karena berhasil menghilangkan fobia tikus yang dialami seorang aktris terkenal. Bahkan aktris tersebut sekarang menjadikan tikus sebagai binatang kesayangannya.
Pintu terbuka.
“Mbak?”
Indiana terlompat terkejut.
“Mau minum apa? Air putih? Teh manis? Jus jeruk, tomat, pepaya, semangka, hmm… melon, mentimun, alpukat, stroberi?”
Hah? “Eh….” Indiana bengong. Banyak sekali pilihannya. Seperti di food court. Kenapa tidak sekalian saja: gado-gado, bakwan, atau soto? “Eh... air mineral saja, Mbak. Terima kasih.”
Kepala Tasiana menghilang kembali.
Indiana tenggelam lagi dalam lamunannya. Dikelilingi keempat tembok yang sangat mengintimidasi ini, tiba-tiba dia seperti mengerut semakin kecil dan akhirnya bisa menghilang di udara.
Coba ingatkan lagi siapa dirinya.
Mari dimulai dengan nama. Namanya Indiana Lesmana. Usia tiga puluh tahun. Bintang Pisces, si romantis. Dia lajang, belum menikah. Pacar tetap ada satu, cadangan ada dua... Indiana terkekeh. Soal cadangan dia hanya bercanda. Tapi soal Francis, dia serius. Pacarnya itu kelihatannya masih belum berniat menikahinya. Kenapa… o, kenapa, ya? Indiana menggeleng-gelengkan kepalanya karena frustrasi. Oke deh, soal yang satu itu memang OOT (out of topic) banget. Jangan lupa dibahas nanti dengan Francis kenapa lelaki itu belum ingin menikah, pikirnya sebal.
Nyaris berdekatan dengan sofa, terlihat sebuah kursi malas dengan sandaran yang sangat nyaman dan empuk. Lapisannya terbuat dari kulit lembut berwarna cokelat muda. Ada beberapa bantal di sekelilingnya. Tiba-tiba bulu kuduk Indiana terasa meremang.
Gadis itu melompat berdiri. Tidak! Dia tidak siap! Dia tidak akan menjadi kelinci percobaan dengan duduk di kursi malas itu sambil menceritakan kisah hidupnya kepada seseorang yang seumur-umur belum pernah dikenalnya.
Ini bukan ide yang baik. Kenyataannya, ini ide yang parah.
Sa… ngat… bu… ruk… ruk… uk… uk… k… (sampai ada gemanya).
Pintu bergerak terbuka.
Indiana mundur dua langkah.
“Selamat siang. Aaah, Anda Indiana Lesmana?”
Di depannya berdiri seorang lelaki yang mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru muda. Dasinya berwarna biru tua, dengan motif sederhana. Wajahnya terlihat teduh dan ramah. Hal pertama yang Indiana perhatikan adalah hidungnya yang sedikit bengkok dan rambutnya yang dibelah tengah. Penampilannya terlihat culun tapi matanya… wow. Indiana berkedip. Mata lelaki itu memancarkan aura kecerdasan dan pesona istimewa.
“Se… lamat siang,” jawab Indiana.
“Kenapa berdiri di belakang pintu seperti itu? Ayo, masuk saja. Silakan duduk di sana.”
Indiana terperangah. Suara itu terdengar berat dan mikrofonik. Jangan-jangan waktu kuliah dulu dia pernah menjadi penyiar radio.
“Kok bengong? Tadi mau ke mana?”
“Eh…, maaf,” kata Indiana ragu-ragu. Ayolah, pikir cepat! Jangan mati kutu di sini. Katakan apa saja agar dapat segera menghilang dari ruangan ini. “…Saya, eh…. saya mau ke kamar kecil.” Setelah berkata seperti itu, dia merasa sedikit lega. Jawaban yang jenius.
Alis lelaki itu yang tebal dan berwarna kecokelatan naik sedikit. “Kamar kecil?” tanyanya ringan. Matanya berbinar dari balik kacamatanya. “Aaah, gitu saja sih tidak usah keluar. Di sini juga ada kamar kecil. Tuh, lihat, pintu yang di sebelah sana.”
Damn.
“Lihat, kan? Yang di sana.”
Damn it all.
“Aaaah. Lihat? Yang di sa---“
“Ya, ya, lihat!” potong Indiana. “Yang di sana kan? Aaaah. Saya sudah lihat dari tadi!”
Indiana berputar. Brengsek, umpatnya dalam hati. Habislah sudah ide-ide kreatifnya untuk bisa kabur. Tiba-tiba tumbuh perasaan aneh yang mengatakan bahwa hari ini akan menjadi hari yang panjaaaang.
Ngomong-ngomong, kok minumannya belum tiba ya? Aaaaah.


Ding-dong, seratus poin untuk Indiana! Ternyata perasaan itu sangat tepat. Hari itu benar-benar menjadi hari yang ekstrapanjang baginya.
Dan bagi Sara juga…
“Dari mana saja sih?!” Mulut Sara langsung nyapnyap dan tangannya bergerak-gerak ke sana kemari. “Kupikir kau terkunci di toilet atau terjebak di lift atau diculik alien atau apa. Satu menit lagi kau nggak nongol, aku akan menelepon polisi. Kau punya jam atau nggak?! Gila kali, gue sampai lumutan di sini.”
Indiana menyaut lengan Sara dan berjalan sambil menyeret sepupunya itu. “Shhhh! Berisik. Yang penting aku kan sudah datang.”
“Tapi aku sudah nunggu selama satu jam di sana! Mejeng kayak ayam di Kota. Tadi sampai ditawar sama oom-oom yang lewat.”
Indiana langsung bereaksi, tertawa keras-keras mendengar cerita Sara. Tapi buru-buru dikatupnya mulutnya rapat-rapat ketika Sara meliriknya uring-uringan.
“Kenapa sih pakai acara terlambat segala?!”
Betul kan?! Kalau lagi ngotot, Sara memang bisa menjadi biang kerok dari segala biangnya kerok. Kalau lagi tidak ngotot pun, dia memang sudah biang kerok.
Seketika itu juga, ada sirene yang meraung-raung di telinga Indiana. Tutup mulut, jangan sampai keceplosan ngomong. Tutup mulut, jangan sampai tergoda bicara. Tutup mulut, jangan sampai terpancing emosi.
“Ndi, kok diam saja,” seru Sara, maju tak gentar membela yang bayar. “Lupa pasang gigi palsu, ya?”
Sara harus dialihkan perhatiannya. Kalau tidak, dia akan terus berkoar-koar, merusak gendang telinga Indiana selama acara shopping kali ini. Belum termasuk kehilangan mood berbelanja. Aduh, pokoknya rugi banget! Dari awal, Indiana sudah berjanji untuk tidak akan membuka kartu soal konselingnya, apa pun risiko yang harus dihadapi. Termasuk menghadapi si petasan banting yang berada di sebelahnya, dan menatapnya tajam. Kalau Indiana adalah sebongkas es, sejak tadi dia sudah meleleh ditatap oleh Sara seperti itu.
Cepat, alihkan perhatian.


©2005 Clara Ng

Posted at 03:21 pm by editor

Puji
February 17, 2011   09:56 AM PST
 
ahak ahak ahak hak hak...
lucuuu... kereeeennn bgt bukunya...
g bs berhenti membalik halamannya...!!!
netha
December 30, 2005   08:28 AM PST
 
INDIANA : BRIDESMAID
pokoke INDIANA CRONICLE bagus banget
sayang Charles ga banyak ditampilin nih...
but two thumb deh
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Next Entry Home