Bagi Anda yang berminat mengundang Clara Ng sebagai tamu di sekolah/universitas, untuk acara talkshow/diskusi buku/jumpa pengarang, silakan kirim e-mail ke: indiana_lesmana@yahoo.com atau fiksi@gramedia.com
Kepada yang terhormat para praktisi,
akademisi, dan segenap masyarakat pecinta sastra Indonesia, di mana pun
Anda berada, berikut kami siarkan daftar longlist judul buku dan nama-nama penulis yang terpilih dalam penjurian Anugerah KLA ke-10, 2010, yang tersusun secara acak.
KategoriFiksi
1. Kekasih Marionette (kumcer), karya Dewi Ria Utari, GPU, Juli 2010
2. Negeri 5 Menara (novel), karya A.Fuadi, GPU, Agustus 2009
3. Klop (kumcer), karya Putu Wijaya, Bentang, Mei 2010
4. Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia (kumcer) karya Agus Noor, Bentang, Februari 2010
5. Rahasia Selma (kumcer), karya Linda Christanty, GPU, April 2010
6. Arumdalu (novel) karya Junaedi Setiyono, Serambi, Mei 2010
7. Perahu Kertas (novel), karya Dee, Bentang, Agustus 2009
8. Balada Cing-Cing (kumcer), karya Maggie Tiojakin, GPU, Juni 2010
9. 9 dari Nadira (kumcer), karya Leila S. Chudori, KPG, Oktober 2009
10. Teman Empat Musim (novel) karya Ida Ahdiah, Bentang, Maret 2010
11. Jampi-Jampi Varaiya (novel) karya Clara Ng, GPU, Desember 2009
Kategori Puisi
1. Babakan, karya Beni Setia, Kiblat Buku Utama, Maret 2010
2. Pekarangan Tubuhku, karya Wayan Sunarta, Bejana, Juni 2010
3. Puisi-Puisi dari Penjara, karya S.Anantaguna, Ultimus, Januari 2010
4. Buwun, karya Mardi Luhung, Pustaka Pujangga, Februari 2010
5. Mendaki Kantung Matamu, karya Bonde Riswandi, Ultimus, Januari 2010
6. Tersebab Aku Melayu, karya Taufik Ikram Jamil, Yayasan Pusaka Riau, Juni 2010
7. Anjing Dini Hari, karya Isbedy Stiawan ZS, Rumah Aspirasi Rakyat, Februari 2010
8. Penyeret Babi, karya Inggrit Putria Marga, Anahata, Januari 2010
9. Sejumlah Perkutut buat Bapak, karya Gunawan Maryanto, Omahsore, Mei 2010
10. Hantu Kata, karya Ook Nugroho, Kiblat Buku Utama, Juni 2010
11. Mengukir Sisa Hujan, karya Soni Farid Maulana, Ultimus, Mei 2010
12. Konde Penyair Han, karya Hanna Fransisca, KataKita, Mei 2010
Catatan:
1. Berbeda dengan tahun sebelumnya, daftar longlist kategori
fiksi dan puisi tahun ini lebih dari sepuluh buku, karena ada sejumlah
buku yang memiliki poin penilaian sama. Maka, tim juri memutuskan
buku-buku tersebut semuanya berpeluang untuk maju ke tahap shortlist.
2. Menyangkut kategori penulis muda
berbakat, panitia memutuskan bahwa untuk tahun ini kategori tersebut
ditiadakan, karena dari beberapa buku yang telah dinilai, hasilnya tidak
mencukupi jumlah longlist yang telah ditentukan.
Burung murai berwarna merah, terbang melompat dari batang berbunga indah. Angin menyelinap membawakan lagu megah. Kemari, kemarilah. Tataplah aku pada mataku. Ada sepenggal cinta pada setiap butir air mataku. Mata yang berdarah.
Aku tidak dapat mengingat sejak kapan aku membenci adikku sendiri. Lea dilahirkan ketika bulan membulat sempurna pada bubungan langit. Aku ingat matanya yang masih tertutup dan tangisnya yang menggetarkan dinding-dinding rumah. Aku telah mencoba membunuhnya sejak dia masih menggelendot di dada ibu, rakus menyedot seluruh sisa energi dan waktu milik ibu dan diriku.
Apakah aku membenci Lea karena dia begitu cantik seperti lanskap senja? Tidak, bukan karena itu. Aku tak pernah mencemburui wajah jelitanya. Aku membenci adikku karena bayangan gelap yang membungkus seluruh tubuhnya, dari helai rambut sampai kuku kakinya. Heran, tak ada yang mampu melihat sinar hitam itu. Hanya aku. Itu adalah tirai tipis yang berbentuk halo pada kepala Lea, mencadarkan wajahnya, dan menyelubungi dirinya bagai gaun penyihir yang terhitam. Bayangan pekat itu mengelilingi Lea sejak hari pertama ia dilahirkan.
Aku pernah mengatakan pada ibu bahwa kupikir adikku adalah jelmaan iblis. Ibu menertawakanku sambil mengacak-acak rambutku yang berwarna jelaga. Katanya aku terlalu banyak membaca cerita horor sehingga pikiranku teracuni. Aku tak menyela perkataan ibu, tapi tetap tak percaya. Mengapa hanya Lea dan bayangan hitamnya saja yang membuatku gerah? Tak ada orang lain lagi yang tinggal di rumah kami yang mempunyai bayangan seperti Lea; tidak tukang kebun kami, tidak tukang masak kami, tidak pula para pelayan rumah kami yang jumlahnya puluhan.
Dorongan untuk membunuh Lea semakin tebal dalam tekadku. Aku mendorongnya dari buaian tidurnya. Aku menjambak rambutnya kuat-kuat. Aku mencakar kulit halusnya. Aku mencampurkan jus buahnya dengan tinta. Aku menaburkan silet dan paku halus di atas ranjangnya. Ibuku melihatnya sebagai bentuk kenakalan anak kecil. Beliau murka dan menamparku di pantat.
Musim pun berdandan dan berganti, tapi kecantikan Lea semakin melebihi kecantikan musim mana pun. Orang-orang membicarakannya, ibu bangga padanya, dan para pelayan memujanya. Kecantikan Lea melegenda. Lelaki-lelaki seantero negeri datang untuk melamar Lea. Bahkan lelaki yang kucintai terpikat oleh pesonanya. Sungguh sial nasibku.
"Jangan menatapku seperti itu," ucap Lea ketus ketika kami berdua sedang makan malam, suatu hari.
Aku mendengus dan memalingkan wajah. Kegelisahanku menjadi-jadi. Tak ada seorang pun di meja makan yang turut memerhatikan apa yang sedang kuperhatikan. Aku benar-benar heran. Kutolehkan kepalaku sekali lagi, sedetik. Hanya sedetik, tak lebih. Jantungku seketika melompat keluar.
Mata itu.
Aku menggigil. Sekali lagi aku membuang muka, tidak tahan bertabrak pandang.
Mata itu bertengger persis di atas hidung mancungnya, menempel di kulit putih mulusnya, tepat di bawah ombak anak-anak rambut hitamnya yang penuh. Wajah Lea terpahat indah, bagai wajah dewi yang diciptakan sangat sempurna oleh Allah milik kaum pagan. Tapi lihatlah matanya, demi Putri Guinevere! Matanya itu, dua bola mata berwarna kelabu tua, memancar aura mati, aura kekelaman yang hanya dimiliki oleh roh-roh setan dan kegelapan abadi. Huh. Betapa jelek matanya! Betapa tidak sesuai dengan keseluruhan fisiknya yang sempurna. Mata itu bagai jendela rumah yang diletakkan tidak pada tempatnya dan sekarang kini compang-camping karena tak pernah terawat.
Mata buruk itu selalu menghantuiku. Kehadiran Lea selalu menggelisahkanku. Terkadang membuatku mengompol di ranjang. Itu pasti pengaruh setan yang memancar keluar dari mata buruknya. Aku gigih tak pernah ingin bertatapan mata Lea. Aku membencinya.
Aku berusia enam belas tahun ketika pertama kali mendengar nyanyian merdu yang menyusup di udara. Luar biasa cantiknya suara itu, batinku terpesona. Aku belum pernah mendengar suara yang keindahannya melebihi nyanyian burung mana pun. Seluruh rumah bergetar oleh dentuman puja-puji surgawi. Bersih dan bening. Kuat dan sehat. Jernih dan mengalir. Aku ingin tahu dari mana suara malaikat itu berasal.
Aku pergi ke ujung lorong dan berhenti di depan sebuah pintu. Aku terpaku. Inilah detik itu, detik di mana indra keenamku membisiki sesuatu tapi aku tidak berhasil mendengar. Pintu terbuka dan tampaklah Lea dengan rambut hitamnya yang berombak-ombak mengalir menutupi bahu dan punggung. Dia bernyanyi. Mulut merah delimanya yang indah membuka lalu menutup mengikuti gelombang kata.
The falling leaves
drift by the window
The autumn leaves
of red and gold
I see your lips
The summer kisses
The sunburnt hand--*
Mendadak tanganku melayang dan menampar telak pipi putihnya. "Diam!" raungku. Aku memegangi pelipisku yang tiba-tiba berdenyut-denyut liar. Di hadapanku, rambut hitam Lea tergerai di pipinya karena kerasnya tamparanku. Adikku mengintip dari ratusan helai rambut bagai cadar di wajahnya. Kecantikannya tiada pudar. Mata kelabu hangusnya memandangku dengan ekspresi mati.
***
AKU tidak dapat mengingat sejak kapan kakakku membenciku. Mulanya aku tidak pernah sedikit pun membencinya, tapi siapa yang tahan jika kamu diperlakukan dengan tidak baik? Untunglah kakakku pengecut. Aku tahu dia berusaha membunuhku, tapi sebenarnya dia tidak terlalu berani melakukannya.
Kami adalah kakak-beradik yang berbeda. Aku memuja Nat King Cole dan menyukai lagu-lagu jazz. Lei menghabiskan waktu berjam-jam dengan membaca. Katanya itu puisi. Cis! Puisi? Aku tidak percaya Lei menyukai puisi.
Kakakku buruk rupa. Seluruh orang di kota kecilku mengetahuinya. Wajahnya bopeng-bopeng akibat penyakit cacar di masa kanak-kanaknya. Rambutnya berwarna jelaga suram dan tidak bercahaya walaupun telah disikat seratus kali tiap malam oleh ibu. Hidungnya aneh, bengkok dengan lubang yang kelewat besar. Dan bibirnya... oh, demi Putri Guinevere! Bibir itu adalah bibir terburuk yang dimiliki seorang perempuan. Melenc eng aneh ke kiri, di mana neraka berada. Tempat iblis berdiri, membisikkan kata-kata godaan di telinga hati. Kupikir wajah kakakku adalah wajah roh setan yang paling jahat yang pernah hidup di dalam tubuh manusia. Aku tidak pernah tahan berdekatan dengan kakakku. Auranya mengundang petaka. Ucapannya setajam parang, sanggup mengiris nadi hati. Dan yang paling mengerikan dari semuanya adalah matanya.
Mata itu.
Matanya berwarna hijau toska. Benda terindah yang menempel di topeng bopengnya. Dikerumuni bulu mata yang lebat dan panjang, mata itu bagaikan oase teduh yang menarikmu ke sana untuk beristirahat. Kamu akan mengapung di mata itu, lenyap menjadi butir salju di tengah gugusan semesta.
Aku tidak pernah ingin berlabuh di mata Lei. Bagiku, mata itu sarang penyamun, kandang perompak yang dapat mencuri seluruh cinta di hati yang kamu punyai. Aku tidak sudi membiarkan diriku terlena di sana, walaupun diam-diam kuakui, aku cemburu dengan keindahan matanya. Seandainya mataku seindah miliknya, maka kecantikanku menjadi sempurna.
Bukan salahku jika lelaki terpesona oleh kecantikan dan kesempurnaan tubuhku. Aku tidak pernah tertarik dengan mereka, apalagi dengan lelaki yang dicintai Lei mati-matian. Bagiku mereka hanya lalat-lalat gemuk yang menggangguku. Mereka tidak ada artinya bagiku. Sejak kecil, aku mempunyai ketertarikan yang kuat dengan sesama perempuan. Perempuanlah yang kupuja. Mereka cantik, lembut, dan sensual. Aku selalu ingin membelai kulit halus mereka dan berdekatan dengan napas wangi mereka.
Malam itu, kami bertengkar. Lei menampar pipiku karena nyanyianku yang indah, yang bercerita tentang segala hal yang halus di dunia. Suaraku bening dan menyejukkan seperti wajahku yang secantik aroma pagi. Semakin dia tidak mau mendengar, aku bernyanyi semakin keras. Nada indah itu membubung keluar dari mulutku, memeluk setiap inci rumah kami, membangkitkan kehidupan bunga-bunga yang layu, menciptakan angin sepoi-sepoi, dan menghijaukan rumput-rumput.
Lei semakin marah. Dia menjerit, menerkamku, menjambak rambutku kuat-kuat. Kami bergumul, membanting ke kiri dan kanan, menabrak semua mebel yang ada di dalam rumah. Dia merobek bajuku, mendorong kepalaku ke cermin, dan memelintir lenganku yang mungil. Tubuhku diselimuti darah. Darah! Darah di mana-mana. Meleleh turun dari kepalaku, tubuhku. Menempel di setiap kursi, lemari, dan meja. Aku tergeletak nyaris tidak sadar diri. Di atasku, Lei menjulang tinggi dengan pisau kecilnya. Dia menempelkan pisau itu di leher; menebasnya, merobeknya.
Dengan tangannya, dia mengambil pita suaraku.
***
AKU menjerit. Sialan dia! Aku bukan pengecut seperti yang dikatakan Lea. Aku bisa membunuhnya benar-benar jika aku mau. Dasar perempuan setan dengan aura gelap. Akan kukirim dia ke neraka! Suara malaikat itu hanyalah sekadar topeng untuk mengelabui manusia. Dia busuk, iblis yang bersembunyi, mencari saat yang tepat untuk menghujat Tuhan dan mencuri cinta di setiap hati manusia.
Tapi Lea yang tinggi memang bukan sainganku. Ketika dia kuterkam, dia balas mencakarku. Ternyata tubuhnya tidak serapuh yang terlihat. Kulitnya liat dan gerakannya selincah ibu babon ketika melindungi bayinya. Hantaman tinjunya meremukkan tulang pipiku menjadi dua dengan sungai darah di tengahnya. Ayunan kakinya keras seperti beton, mendorongku hingga terpental ke dinding. Ketika aku terbaring dekat pintu dengan sebagian batok kepala remuk, Lea mengeluarkan silet tajamnya. Dia menempelkan di kelopak mata; menebasnya, merobeknya.
Dengan tangannya, dia mengambil kedua bola mataku.
***
RUMAH itu ada di sana, hening termakan usia. Sepasang lelaki dan perempuan yang baru saja menikah menatap rumah megah itu dalam diam yang memabukkan. Ini adalah rumah impian kita, Sayang, kata istri. Ya, mari kita lihat, kata suami.
Mereka berjalan mengitari pagar tanaman yang tumbuh tak beraturan. Pada jendela besar, sang istri terkejut. Lihat, ada seseorang di balik jendela itu. Suaminya mendongak, alisnya menyatu. Benar juga, serunya bingung. Ada orang di sana. Istri mengelap keringatnya. Matahari pagi bersinar sempurna. Si suami kembali berkata, Kupikir ini rumah yang tidak berpenghuni lagi. Aneh. Yuk, coba kita tanya kepada tetangga.
***
KAMI berdua mati pada malam itu dengan mata tercungkil dan pita suara terampas. Ibu menangis sejadi-jadinya, tak ada yang mampu menghiburnya. Ketika saatnya pemakaman, ibu tidak tega memasukkan Lea ke dalam liang kubur. Setelah tubuhnya dibersihkan, Lea tampak begitu cantik, begitu bersinar dalam kematiannya.
Ibu mendandani Lea, menyuntikan sejenis cairan pengawet ke dalam tubuhnya, memasangkan bola mataku ke dalam kelopak matanya, dan meletakkan Lea di depan jendela yang paling kaya dengan matahari pagi. Dia duduk dengan cantik dan sempurna di sana selama berpuluh-puluh tahun, sampai ibu meninggal, dan para pelayan pun satu per satu mati. Rumah itu perlahan-lahan termakan usia, melayu, dan ringkih. Tapi tembok-tembok kebangsawanannya masih tampak kokoh dan gagah. Membuat setiap orang yang melewatinya pasti terpaksa harus menoleh dan mengagumi rumah tersebut.
Lea pasti senang berada di depan jendela. Dia adalah perempuan terjelita yang tak bercela. Gaunnya indah, rambutnya tergerai sempurna, dan pahatan wajahnya elok menyerupai dewi. Dan yang paling membanggakannya adalah matanya yang kehijauan. Kelopaknya terbuka, memandang jalanan depan rumah kami, mengamati musim yang terus-menerus berganti. Musim yang indah, tapi tidak pernah seindah kecantikan Lea. Dari sana dia dapat mengamati perempuan-perempuan anggun berseliweran, berharap dapat bercinta dengan salah satu dari mereka sekali saja dalam satu abad. Ah ya, jangan kaget, aku telah mengetahui bayangan rahasia tergelapnya yang dulu pernah mengerubungi tubuhnya bagai lebah mengelilingi ratu.
Sedangkan aku? Apa yang terjadi denganku? Tubuhku yang buruk rupa tidak pantas diawetkan. Ibuku memakaikan pakaian terbagus di tubuhku, mencium pipiku, dan meratapi kematianku. Dia juga tidak tega menguburku, membiarkanku memeluk tanah sendirian dalam keheningan abadi. Karena itu dia meletakkanku di gudang bawah, tempat harta karun keluarga disembunyikan. Aku bahagia. Berarti aku disamakan dengan harta keluarga walaupun tempatnya gelap, senyap, suram, dan lembap.
Puluhan tahun—aku tidak tahu persis, mungkin sudah seratus tahun berlalu. Dagingku perlahan-lahan terkelupas, sebagian dimakan tikus sebagian lagi dikerat belatung. Aku mengumpulkan debu dan bermain dengan sarang laba-laba. Aku menyulam kegelapan. Aku menjaring keheningan total. Sejak kematian pelayan ibu yang terakhir, tidak ada lagi yang menjengukku ke bawah. Mungkin aku telah terlupakan.
Hari ini tiba-tiba terdengar kegaduhan yang aneh dari atas.
"Oh! Hanya patung perempuan!" Itu suara perempuan. Lalu langkah berderap. "Oh, lihat! Betapa cantiknya patung porselen ini. Pipinya putih, rambutnya berkeriap hitam, wajahnya sempurna, dan... matanya! Lihat, Sayang, matanya! Hijau sekali. Seperti danau yang berada di belakang hotel tempat kita berbulan madu!"
Terdengar lagi suara bariton lelaki. Tidak terlalu jelas. Hanya langkah kaki yang tadinya remang kini semakin berderap. Tiba-tiba terdengar suara pintu gudang menjeblak terbuka. Dalam bayang samar, aku melihat sosok laki-laki. Aku mengajaknya semakin masuk.
Ya, mari. Mendekatlah.
Lihat jantung hatiku.
Dengarkan suaraku.
Setelah puluhan tahun, akhirnya aku dapat bernyanyi, mendeklamasikan puisi gubahanku. Apakah Lea mengatakan bahwa aku sangat menyukai puisi? Ya, aku adalah penyair. Si pemuja seni. Si penguasa kata. Dan sekarang, akulah satu-satunya si pemilik suara malaikat surgawi. Bersih dan bening. Kuat dan sehat. Jernih dan mengalir.
Burung murai berwarna merah, terbang melompat dari batang berbunga indah. Angin menyelinap membawakan lagu megah. Kemari, kemarilah. Tataplah aku pada mataku. Ada sepenggal cinta pada setiap butir air mataku. Mata yang berdarah.
(*) The Autumn Leaves, gubahan Joseph Kosma, lirik oleh Johnny Mercer. Lagu ini menjadi sangat terkenal setelah dinyanyikan oleh Nat King Cole
Aku tak mencintaimu seperti engkau adalah mawar, atau topas, atau panah anyelir yang membakar. Aku mencintaimu selayaknya beberapa hal terlarang dicintai, diam-diam di sela-sela bayangan dan sukma.*
Aku adalah suami yang lemah lembut dan sangat mencintai istriku. Dialah satu-satunya perempuan di dunia ini yang bertahta dalam hatiku. Aku tidak pernah sedikit pun memukulnya, apalagi mencaci maki. Aku tidak pemabuk, bukan penjudi, tidak pernah menyentuh narkoba, dan tak pernah terpikirntuk berselingkuh. Sempurna bukan? Aku ingat lagu When A Man Loves A Woman. Dengarkan, itu bukan lagu cengeng, ya.
Kami menikah pada musim yang kaya dengan matahari tropis dan angin lembut bertiup manja dari pori-pori awan. Hujan daun berjatuhan dari ranting ketika kami saling mengucapkan janji seia sekata, sehidup semati. Dalam untung dan malang. Dalam suka dan duka. Dalam sakit dan sehat. Sampai maut memisahkan. Kuucapkan sumpahku sepenuh hati. Niatku memang tulus dan suci. Hari itu aku diliputi udara kebahagiaan yang membuatku mabuk kepayang, bagai menenggak berpuluh-puluh sloki scotch. Belum pernah kulihat istriku tampak demikian cantik dan bercahaya. Benar, dia sungguh-sungguh bersinar, seakan dia menjelma menjadi peri kunang-kunang. Aku terharu, terapung-apung oleh ombak lembut di samudra cintaku kepadanya.
Jangan katakan aku adalah lelaki yang cengeng atau melankolis, yang mudah tersentuh oleh hal-hal seperti itu. Apa pun suasananya, aku akan selalu tersentuh jika melihat kehadiran istriku. Dia mampu mewarnai hidupku dan menciptakan pelangi setelah hujan turun. Dia adalah kumparan intan permata yang selalu kusemat dalam lorong jiwa tergelapku.
Malamnya, kami bercinta di atas ranjang hotel kami yang romantis bertabur puluhan kelopak mawar. Kucium belakang telinganya yang wanginya seharum rumpun cemara pada pagi hari. Kuusap bibirnya yang lembut dan kenyal bagai jeli manis berwarna merah delima. Kurasakan degup jantungnya yang stabil dan menenangkan pada tanganku. Cintaku meleleh, membungkusnya rapat-rapat, dari ujung rambut terjauhnya sampai telapak kaki mungilnya. Oh, dia begitu rapuh dan indah. Tak pernah aku merasakan kekuatan dalam tubuh ini yang ingin selalu melindunginya dari segala marabahaya. Aku menatap istriku tanpa henti, seakan waktu tak pernah berputar dan musim tak pernah mengudar. Aku mati-matian menahan diri agar tidak jatuh tertidur, agar detik itu mengkristal, menjadi keabadian, tapi toh mata memang dapat mengkhianati hati. Ketika aku menutup kelopak mataku, aku masih merasakan bayangnya yang hidup dan bergerak dalam mimpiku.
Dua bulan kemudian, istriku menyampaikan berita paling manis yang pernah kucecap. Dia hamil. Aku akan menjadi ayah dan dia akan menjadi ibu. Bagai berjalan di atas tanah basah setelah hujan embun, aku merasakan hidupku sungguh lengkap. Kami berlayar di dunia yang penuh manis gulali. Tidak pernah aku ingin memutar perahu ini kembali pada dermaga yang dulu.
Ketika kandungannya berusia tiga bulan, istriku keguguran. Aku menolak mengatakan bahwa itu adalah peristiwa tersedih yang pernah kualami. Tidak, peristiwa itu membuat cintaku semakin dalam padanya. Ketika rahimnya dibersihkan, aku ngotot untuk mendampinginya, menggenggam jemarinya yang pucat. Dokter sibuk di ujung tungkai kakinya, menyedot sisa-sisa anak kami dengan alat medis yang tampak seperti vacuum cleaner bagiku. Istriku dibius tidur. Aku menatap matanya yang terkadang berkedut. Aku tenggelam dalam mimpinya, memagut tubuhnya rapat dalam pelukanku.
Enam bulan kemudian dia hamil lagi. Kebahagiaan kami mendapatkan bayi hanya seumur jagung. Dua bulan setelahnya, dia kembali keguguran. Kali ini tangisnya bagai kawah gunung berapi yang sedang menggelegak. Dia ingin mengecek kondisi medisnya. Istriku geram, istriku penasaran, istriku berkabung. Apa gerangan yang membuatnya selalu keguguran? Aku mendampingi dan mendukungnya dalam setiap keputusannya. Berbulan-bulan dia menjelajahi hutan medis. Tes darah. Tes kesehatan. Tes fisik. Tidak apa-apa, kata semua dokter. Keguguran adalah hal normal yang terjadi pada calon ibu. Aku menggenggam tangannya erat-erat ketika kepalanya jatuh tertunduk layu di ruang konsultasi dokter.
Setahun kemudian, dia hamil lagi. Kali ini dia bertekad untuk menjaga kandungannya. Istriku beristirahat total di rumah. Dia menyiapkan sarang kecil di kamar kami. Tiap hari kulihat dia bergelung di atas ranjang, tidak melakukan apa-apa, hanya berbaring dan bermeditasi. Tidakkah kamu bosan, tanyaku. Tidak, katanya. Ini semua kulakukan untuk anak kita tercinta, begitu jawabnya penuh kasih sayang. Kuperhatikan dirinya dalam gelegak diam yang penuh kebahagian ketika melihat perutnya semakin membuncit. Istriku terlihat semakin seksi, sensual, dan menggairahkan. Sembilan bulan melaju demikian cepat. Dia melindungi janinnya baik-baik. Aku berterimakasih kepadanya atas pengorbanannya yang begitu besar.
Pagi itu ketika embun pertama menetes, dia melahirkan bayi-bayi kami. Ya, bayi-bayi. Bukan hanya satu bayi. Kami mendapat anugrah dua kali lipat. Bayi kembar yang manis. Sepasang lelaki dan perempuan. Tak pernah kurasakan kebahagiaan ini; begitu agung, begitu mewah. Kami memberi nama mereka Sabiya yang berarti pagi hari dalam bahasa Arab serta Liko yang berarti dilindungi oleh Buddha dalam bahasa Cina. Dua nama yang benar-benar berbeda; berasal dari dua kebudayaan, dua bahasa, dan dua agama besar. Aku mencium dua permata kami sebelum kembali ke ruang perawatan ibu, mengunjungi kekasih hatiku.
Aku mencintaimu seperti tumbuhan yang urung mekar, dan membawa jiwa bunga-bunga itu di dalam dirinya, dan karena cintamu, aroma bumi yang pekat tumbuh diam-diam di dalam tubuhku.*
&&&
Aku tidak pernah berhenti mencintainya. Hanya istriku yang menjadi tiang utama perhatianku dalam hidup. Hanya dia seorang, tak ada lagi. Setelah melahirkan, dia berubah. Perhatiannya yang dulu bertubi-tubi untukku menjadi berkurang. Sering kali aku diabaikan. Sering kali aku didiamkan. Aku selalu bersabar menghadapinya. Kata orang, demikianlah perempuan yang baru melahirkan. Hormonnya berganti-ganti.
Dia senang mendekam dalam rumah sekarang. Jarang ingin keluar jika kuajak berjalan-jalan. Mengenakan daster setiap hari, tak pernah berdandan lagi. Tubuhnya bau susu. Aku heran, mengapa dia perlu membuat susu sebanyak itu. Katanya anak-anak kami menyusu dengan rakus. ASI-nya tidak mencukupi. Aku terdiam mendengar penuturannya.
Pada hari anniversary kami yang kelima, kuajak dia pergi mengunjungi negeri paling romantis yang pernah ada di dunia. Aku telah memesan perjalanan first class, hotel five stars, dan restoran mewah yang akan memanjakan kami berdua. Selama sepuluh hari itu aku ingin memusatkan perhatian hanya untuk dirinya saja. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Aku malas pergi, katanya. Kasihan bayi-bayi kami tak diajak serta. Aku gigih memaksanya, sampai akhirnya dia bersedia mengepak koper-koper kami dan menghabiskan sepuluh hari selanjutnya bersamaku saja.
Aku bahagia, melihat dia kembali menjadi istriku yang dulu. Dia tampak bergairah. Cintanya membara untukku. Kami bercinta setiap hari selama sepuluh hari. Kuisap buliran madu yang menetes turun dari rambut hitamnya. Kuhirup lelehan karamel yang mengilapkan tubuhnya. Aku mencintainya sepenuh hati, demi Tuhan. Kami adalah pasangan abadi yang dirancang oleh surga.
Ketika pulang, baru mencapai pegangan pintu, istriku kembali berubah lagi. Kurasakan cintanya padaku segera menyusut. Perhatiannya langsung terampas oleh hal-hal lain. Bayi-bayi kita rindu, demikian penjelasannya. Aku tidak percaya bayi-bayi dapat merindu. Kudiamkan dirinya selama berjam-jam sampai malam menjemput. Istriku tak menyadari kesedihanku. Dia sibuk di kamar, bersama bayi-bayi. Kudengar pekikan riangnya dari kamar kami yang kini semakin sepi. Istriku memutuskan tidur di kamar anak-anak agar selalu dekat dengan mereka.
Tahun-tahun pun terpeleset, meluncur cepat bagai kereta jet costar di taman bermain. Kata istriku, si kembar kini telah berusia lima tahun. Dia hendak mengadakan pesta besar-besaran. Untuk pertama kalinya, aku tidak setuju dengan pendapat istriku. Untuk apa pesta, kataku menjelaskan lemah lembut. Tapi dia ngotot, sehingga kami pun bertengkar hebat. Kukatakan padanya untuk segera melupakan ide itu. Dia tersinggung. Katanya aku lelaki egois yang mementingkan diri sendiri. Pedih hatiku mendengarnya. Tidak pernah secuil pun aku memikirkan diri sendiri di atas kepentingannya. Pesta terlupakan tapi perkelahian kami bagai bibit yang siap pecah untuk menumbuhkan tunasnya.
Aku lelah dengan rengekannya tentang kenakalan anak-anak. Aku tidak ingin mengomentari tentang kesukaannya mendadani Sabiya dan kebanggaannya terhadap ketampanan Liko. Aku capek dengan ceritanya tentang kemajuan anak-anak di sekolah. Aku tidak ingin sibuk mencari segala hal yang terbaik buat anak-anak.
Jangan salah. Aku bukannya tidak ingin membantu kerepotannya dalam rumah tangga, aku hanya lelah. Aku tidak ingin melakukan apa-apa lagi. Aku hanya menginginkan cintanya yang dulu begitu meledak-ledak padaku. Padahal cintaku padanya masih dahsyat. Masih legit. Sering kali aku melamun memerhatikan dirinya di meja makan. Baru saat mulutku hendak bercerita tentang segala hal yang ingin kuceritakan padanya—kegiatan yang dulu sering kami lakukan, dia mendadak harus mengomeli anak-anak. Katanya anak-anak tidak menghabiskan sop mereka. Terpaksa aku diam lagi. Dengan layu dan sedih kuperhatikan wajahnya yang menua, tampak garis-garis kerutan di sana sini. Aneh. Bukannya dia bertambah buruk di mataku, istriku semakin cantik jelita.
Aku mencintaimu tanpa mengerti bagaimana, sejak kapan, atau dari mana. Aku mencintaimu dengan sederhana, tanpa kebimbangan, tanpa kesombongan. Aku mencintai seperti ini, karena tak ada cara lain untuk mencintai.*
&&&
Dua puluh tiga tahun telah berlalu. Dua puluh tiga tahun aku telah menikah dengannya. Dua puluh tiga tahun aku tak pernah surut mencintai istriku. Dia pilar hidupku. Dia cahaya mercusuarku. Dia bertahta di jiwaku selamanya.
Tapi kali ini terlalu kelewatan. Istriku semakin menuntut macam-macam dariku. Si kembar akan berusia tujuh belas tahun, katanya. Mereka pengin pesta sweet seventeen di hotel termewah di kota ini. Acaranya harus sempurna. Dia tidak peduli dengan harga katering atau even organizer yang akan disewa olehnya. Sebenarnya aku peduli, tapi aku diam. Karena aku mencintainya, kubiarkan dia melakukan hal-hal yang disukainya. Demi anak-anak, katanya memohon. Sekali dalam hidup kita, biarlah kita menyenangkan anak-anak.
Pesta itu sangat mewah. Ballroom terbesar disewa olehnya. Makanan berlimpah untuk ratusan tamu. Ruangan itu dihias, didekor dengan sempurna. Aku tidak ingin datang ke pesta. Aku sengaja berlambat-lambat di kantor, menyibukkan diri dengan meeting. Sebenarnya aku ingin ke luar kota saja, mengadakan perjalanan bisnis, biar tidak usah menghadiri pesta yang menurutku bodoh itu. Tapi istriku memohon agar aku tidak pergi ke luar kota. Entah untuk keberapa ratus kalinya, kukabulkan permohonannya. Gara-gara itu, dia menerorku dengan telepon sepanjang hari, mengingatkanku agar pulang cepat dan pergi ke pesta dengannya.
Akhirnya setelah berhasil mengulur waktu selama dua jam lebih, aku pulang juga. Di rumah, mata istriku tampak sembap karena terlalu lelah menungguku. Baiklah, aku menyerah. Aku sungguh mencintainya karena itu kupaksakan diriku mengenakan jas hitam yang telah disiapkan olehnya. Istriku tampak berseri-seri dalam balutan gaun pestanya. Aku jadi ingat malam pernikahan kami. Betapa cantiknya dia. Betapa bersinar-sinarnya dia. Jika harus kulakukan hal ini untuk membahagiakannya, aku tak perlu berpikir dua kali.
Di ballroom, pesta nyaris mulai. Kugandeng tangan istriku yang terasa dingin dan pucat. Para pelayan hotel berdiri di setiap ujung, mengamati gerak-gerik kami. Aku tersenyum, mengangguk kepada mereka. Istriku berjalan ke tengah ruangan. Aku berdiri di sana bersamanya. Aku ingat lagi ketika kami menikah, berjalan berdua, setengah mati berbahagia. Jika hidupku ditakdirkan untuk mencintainya, biarlah kuarungi jalan ini.
Di tengah ruangan, kami berdiri berdua. Hanya berdua. Sepasang kakek-nenek bergandengan penuh cinta. Tak ada siapa-siapa di ballroom. Kutatap matanya yang mulai merabun. Dia berbisik lirih agar aku memaafkan dirinya yang bodoh. Aku menatapnya masih dengan penuh cinta dan haru. Aku tidak pernah punya simpanan maaf untuknya, karena di mataku dia tak pernah salah.
Anak kami, Sabiya dan Liko, hari ini memang berusia tujuh belas tahun.Tujuh belas tahun yang lalu, mereka meninggal setelah dilahirkan istriku. Sepasang bayi kembar siam dempet di kepala itu hanya bertahan empat jam di pelukan lembut istriku. Kami menguburkan mereka. Ini tidak benar. Orangtua tidak seharusnya menguburkan anak, melainkan kebalikannya. Istriku tidak hanya menguburkan anak-anak kami, dia juga harus rela menguburkan mimpinya memiliki anak kandung. Rahimnya mati bersama bayi-bayi tercinta kami. Terus terang, aku tidak pernah peduli dengan kenyataan itu. Bagiku, dia tetaplah istriku yang paling sempurna.
Kugandeng kekasihku dan kuberikan sinyal kepada para pelayan agar segera memulai pesta. Musik pun mengalun dari orchestra yang disewa khusus olehnya. Makanan disajikan. Aku memeluk istriku di tengah-tengah ruangan. Perlahan-lahan, lampu kristal meremang dan hujan kelopak mawar berjatuhan dari atas. Kuayun langkahnya, kudekap tubuh hangatnya, dan kucium pipinya. Kami berdansa sampai malam menggigit bulan. Hanya kami berdua, saling menyentuh penuh kasih sayang. Hanya kami berdua, karena aku sangat mencintainya. Sesederhana itu. Sungguh.
Di sini, di mana "aku" dan "kau" tiada, begitu erat, hingga tanganmu di atas dadaku adalah tanganku. Begitu erat, hingga ketika kau tertidur, kelopak matakulah yang tertutup.*